Bumi Gora

“Kampung Unggas” Buka  Peluang Usaha Menjanjikan

cybertokoh.com – Industrialisasi merupakan program yang dicanangkan oleh Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Dr. Hj. Siti Rohmi Djalillah, tengah menuju capaian-capaian yang pasti.

Satu persatu program tersebut mulai tampak realisasinya. Desember 2019 lalu, Gubernur NTB telah meresmikan pabrik minyak kayu putih di Desa Oi Katupa, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima. Pabrik yang berada di kaki Gunung Tambora itu dibangun sejak tahun 2018 dan dikelola PT Sanggaragro Karya Persada, sudah mulai berproduksi dan dideklarasikan sebagai pabrik terbesar di indonesia yang bakal menjadikan NTB sebagai pusat industri minyak kayu putih terbesar di dunia.

Selain itu ada pula program unggulan lainnya yakni “Kampung Unggas” yang kini mulai berproduksi. Dimana salah satunya adalah industri peternakan ayam ras di Desa Pernek, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa.

Dari 3.900 ekor ayam yang diternakkan oleh peternakan unggas yang dikelola PT. Perkasa Group (sebuah perusahaan investasi dari Makassar Sulsel) telah mampu menghasilkan 115 tray telur per harinya.

“Kita bersyukur pengusaha dari Makassar ini memilih NTB (Lombok-Sumbawa) untuk mengembangkan usahanya,” kata Doktor Zul saat berkunjung ke Pulau Sumbawa beberapa waktu lalu.

Ia berharap, usaha industri seperti sektor ayam ras ini dapat lebih berkembang di NTB. President Commissioner Perkasa Group, Audy Joinaldy, yang mengelola peternakan ini mengungkapkan bahwa Indonesia Timur memiliki potensi dan peluang bisnis yang sangat besar khususnya untuk perunggasan.

Banyak perusahaan integrasi yang melakukan ekspansi dan membangun investasi di daerah. Dikatakannya, Indonesia adalah pasar yang sangat besar untuk telur, susu, dan daging. Seiring pertambahan populasi, kata Audy maka pihaknya optimis permintaan pasar akan terus berkembang.

Dengan demikian, secara tidak langsung, permintaan untuk meningkatkan produksi telur, susu, dan daging menurutnya menjadi sebuah keniscayaan. Hal itu juga akan mendorong pengembangan industri pakan ternak, khususnya pakan ayam.

Ia menegaskan karena tingkat konsumsi daging dan telur yang tinggi, NTB belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan masih bergantung daerah lain.

Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Hj. Budi Septiani mengungkapkan bahwa selama ini kebutuhan telur dan daging ayam harus dipasok dari Bali dan Jawa Timur. Sebanyak 600 ribu butir telur per hari didatangkan dari dua daerah tersebut untuk kebutuhan 30 juta butir telur per tahun.

Sementara itu NTB sendiri memiliki potensi peternakan unggas yang cukup menjanjikan. Namun belum mampu memenuhi semua kebutuhan telur dan ayam dalam daerah. Hal itu menggambarkan peluang usaha peternakan unggas sangat menjanjikan di NTB.

Budi mengajak para pengusaha untuk memanfaatkan peluang tersebut dan mau mengembangkan investasi di Lombok maupun di Pulau Sumbawa. Di samping investor dari luar, ia juga yakin para pengusaha dan peternak lokal bisa mengambil alih peluang itu.

Pemerintah daerah didorong agar kabupaten/kota mengembangkan peternakan unggas setidaknya dapat memenuhi kebutuhan telur dan daging ayam di daerah sendiri.

Melihat data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, populasi unggas di NTB per 31 Desember 2018 menunjukkan, populasi ternak unggas mencapai 48,6 juta ekor. Terdiri dari 782 ribu ekor ayam kampung; 5,5 juta ekor ayam pejantan; 3,2 juta ekor lebih ayam petelur; dan 39,1 juta ekor lebih ayam pedaging.

Sementara data tingkat konsumsi protein daging unggas, telur maupun sapi sepanjang tahun 2018, konsumsi daging ayam beku 45.906 kg, daging sapi beku 215.759 kg, daging kambing beku 500.000 kg, dan telur ayam ras 30.501.650 butir setahun.

Konsumsi daging sapi olahan 39.930 kg, daging ayam olahan 73.397 kg, jeroan 1.500 kg, daging bebek beku 4.800 kg. Juga dalam bentuk butter cheese atau keju 28.800 kg, susu 144.160 kg, dan olahan susu atau yogurt 2.209 kg. (Naniek I.Taufan)

To Top