Metropolitan

BPPT: TMC Berhasil Kurangi Intensitas Hujan hingga 40%

Entah apa jadinya jika teknologi modifikasi cuaca (TMC) tidak segera diterapkan di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Bisa saja kondisi banjir Jabotabek akan sangat parah melebihi peristiwa 1 Januari 2020.

Di Jakarta misalnya, hampir sebagian besar wilayahnya diterjang banjir bandang. Begitu juga Bekasi dan Tangerang yang tak kurang parahnya. Derasnya arus banjir membawa hanyut banyak mobil juga manusia. Kawasan Lebak, Banten, yang tak jauh dari Jabodetabek pun mengalami kasus yang tak kurang parahnya. Bukan hanya banjir tapi juga dihantam longsor.

Berdasarkan data sementara, akibat banjir bandang dan longsor di Jabodetabek dan Lebak, 67 orang meninggal dunia. Belum lagi korban yang luka-luka serta kerusakan rumah masyarakat. Saat ini banjir semakin surut, meski belum di semua tempat.

Peristiwa banjir kali ini yang dipicu tingginya intensitas hujan, menurut BMKG, masih tetap harus diwaspadai. Karena kondisi cuaca ekstrem ini belum berakhir.

Setelah kejadian besar di Jabodetabek itu, BPPT bekerjasama dengan BNPB dan BMKG melakukan TMC yang dimulai sejak Jumat pagi (3/1/). Dengan TMC tersebut, sekalipun dalam prediksi cuaca BMKG disebutkan masih tingginya curah hujan, namun tidak semuanya jatuh di kawasan Jabodetabek.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan TMC yang diterapkan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi ini mampu mengurangi atau mereduksi intensitas hujan 30 hingga 40 persen.

“Ini tentu kita bandingkan dengan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Harapan kita untuk mengurangi intensitas hujan dengan TMC hingga 40 persen saat ini menunjukkan hasil yang cukup signifikan,” katanya.

“Jadi program TMC ini akan terus kita lanjutkan sebagai bentuk antisipasi serta mitigasi lebih lanjut terkait intensitas hujan di Jabodetabek dan sekitarnya,” tambah Riza. (Diana Runtu)

To Top