Mendongeng Lima Menit

KUDA DAN KELEDAI

Pak Tani yang rajin itu setiap hari menjual kelapa dan jagung ke kota. Alat angkutnya adalah seekor kuda dan seekor keledai. Kedua alat angkut itu sangat kuat dan taat mengangkut beban yang berat. Mereka bekerja setiap hari. Pagi berangkat, sore baru kembali pulang.

Walaupun kedua hewan itu sama-sama rajin, namun perlakuan majikannya berbeda. Pak Tani lebih sayang kepada kudanya karena memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan keledainya. Kuda itu ganteng, bulunya cokelat hitam dan di lehernya membentang belang-belang putih. Sedangkan keledai kelihatannya lugu, warna bulunya polos, cokelat keabu-abuan. Orang yang melihatnya di jalan, pasti lebih memuji sang kuda daripada sang keledai.

“Keledai itu lebih kuat mengangkut beban dari pada kudaku,” demikian sang majikan memperkenalkan kuda dan keledainya kepada setiap orang. Oleh karena itu hewan lugu itu diberi beban lebih berat. Keledai itu mampu mengangkut 6 butir kelapa, dan dua karung jagung. Sedangkan sang kuda ganteng itu hanya mengangkut beban empat butir kelapa dan satu karung jagung. Dengan demikian, kuda yang semampai itu melenggang dengan mudah menuju pasar kota.

Keadaan seperti itu berlangsung setiap hari. Si majikan tidak merasakan bagaimana keluhan keledainya yang lugu. Keledai merasa diperlakukan tidak adil. Ia benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya.

Sang majikan juga tidak merasakan bahwa keledainya makin tua dan makin lemah. Suatu siang, di tengah perjalanan, sang keledai tiba-tiba ngos-ngosan lalu duduk beristirahat. Ia minta bantuan kepada sahabatnya, si Kuda.

“Kawan Kuda! Tolonglah, ambil sebagian bebanku! Tenagaku sangat lemah. Rupa-rupanya aku tidak sanggup membawa seluruh beban itu.”

“Hi, hi. gampang benar ucapanmu!” bentak Kuda. “Itu kewajiban yang diberikan oleh majikan. Kerjakanlah dengan baik! Bukankah kita sama-sama diberi makan enak sampai kenyang?”

Keledai yang ringkih itu bangkit perlahan-lahan lalu melanjutkan perjalanan. Namun baru beberapa langkah ia terjerembab lagi. Napasnya putus dan tidak pernah bangkit lagi.

Sang majikan berpikir ia harus sudah sampai di pasar sebelum tutup. Lalu ia secepatnya memindahkan semua kelapa dan jagung itu dari punggung keledai ke punggung kuda. Beruntung sekali, barang-barang itu tiba di pasar tepat pada waktunya.

Keesokan harinya dan seterusnya, Pak Tani mengikat dan menumpukkan kelapa dan karung jagung itu di punggung kuda. Semuanya sepuluh butir kelapa dan 3 karung jagung. Dalam perjalanan, kuda yang semampai itu menyesali sikapnya yang egois, “Mengapa aku tidak menolong teman yang sangat memerlukan pertolongan?”

To Top