Kata Hati

Mewujudkan SDM Unggul

Indonesia akan menyentuh umur 100 tahun pada 2045 mendatang. Tahun 2045 disebut sebagai momentum paling berharga sepanjang sejarah perjalanan bangsa Indonesia, karena pada saat itu diprediksi bahwa angka penduduk usia produktif dapat mencapai 70%, sedangkan 30%-nya merupakan penduduk dengan usia yang tidak produktif.

Hal ini tentu akan dapat berdampak pada dua kemungkinan, yaitu “bonus demografi” atau “kutukan demografi”. Bonus demografi dapat tercapai jika kualitas sumber daya manusia di Indonesia memiliki kualitas yang unggul sehingga akan berimbas pada perkembangan negara. Sebaliknya, kutukan demografi akan terjadi jika jumlah penduduk yang berada pada usia produktif ini justru tidak memiliki kualitas baik yang kemudian menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara.

Asa baru kini terbentang di depan kita untuk memanfaatkan bonus demografi tersebut. Kunci kesuksesan tentu terletak pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Melalui pidato kenegaraan HUT ke-74 RI, Presiden Joko Widodo menyampaikan SDM unggul yang dimaksud setidaknya memiliki kriteria berbudi pekerti luhur, berkarakter kuat, toleran, jujur, berhati Indonesia, berideologi Pancasila, berakhlak mulia, pekerja keras, dan berdedikasi. Disadari atau tidak tantangan kita saat ini sebenarnya adalah menciptakan SDM unggul tersebut. Menciptakan SDM yang tidak hanya cerdas tetapi juga berkarakter, karena ternyata cerdas saja tidak cukup. Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak hal dapat diotomatisasi, internet of things, digitalisasi. Tapi karakter, soft skill orang tak bisa tergantikan mesin-mesin. Bagaimana interaksi, perasaan (social and emotional intelegence) tidak bisa digantikan oleh mesin.

Berkaitan dengan hal di atas, pada tahun 1960 Dr.Paul Maclean mencetuskan konsep mengenai otak tritunggal (triune brain). Menurut teori ini, otak manusia sebenarnya terdiri dari tiga bagian otak. Otak reptil, otak mamalia, dan otak neo kortex. Otak reptil bertanggung jawab pada pola perilaku bawaan, tindakan, dan pengambilan keputusan. Otak mamalia berperan besar dalam hal emosi dan rasa. Otak neo kortex merupakan otak yang memiliki tingkatan paling tinggi dan memiliki fungsi tingkat tinggi, misalnya: mengembangkan kemampuan berbahasa, berpikir abstrak, memecahkan masalah, merencanakan kedepan, dan berkreasi.

Berdasarkan konsep tersebut fungsi dasar otak kita, seperti pengambilan keputusan, tidak pernah bermigrasi (dari otak reptil) ke bagian otak kita yang lebih maju (otak neo kortex) sehingga sangat rentan dipengaruhi oleh bagian tengah otak (otak mamalia). Disinilah letak poin penting untuk mengasah kecerdasan emosi dan rasa. Ketika emosi dan rasa tidak terbentuk dengan baik, maka tindakan dan keputusan yang diambil cenderung bersifat agresi yang didasarkan pada insting belaka. Bisa jadi hal inilah yang menyebabkan belakangan banyak pemberitaan mengenai tindak anarkisme remaja, sebagai salah satu ciri degradasi karakter remaja, karena kurang diasahnya rasa.

Membentuk SDM unggul yang cerdas dan berkarakter memang tidak mudah. Kualitas SDM yang demikian hanya bisa diraih melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas baik di sektor formal maupun nonformal. Tidak bisa kita bebankan sepenuhnya kepada sektor pendidikan formal. Secara jujur harus diakui bahwa pendidikan di Indonesia selama ini lebih berorientasi pada hal-hal yang teknis dan pragmatis. Belum mengarah kepada pembentukan karakter “unggul” yang sesungguhnya. Selain itu, pembentukan karakter memang tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Dibutuhkan proses panjang dan konsisten dengan menggunakan metode yang tepat dan efektif. Dengan kata lain peran orang tua dan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak memegang peranan penting. Oleh karena itu, pekerjaan rumah terbesar orang tua saat ini adalah bagaimana membentuk karakter “generasi emas” Indonesia?

 

A.A.Ngr. Eddy Supriyadinata Gorda

 

To Top