Goro Goro

NATAL 2019

Surat Profesor Ellen dari Amerika Serikat, membuat Amat gelisah. Dalam surat itu ada kartu Merry Christmas yang cantik sekali. Amat bingung. Mengapa ia mendapat ucapan Selamat Hari Natal?

“Apa Bu Ellen tidak tahu, saya ini orang Bali?” Curhat Amat pada Nyoman di warungnya.

Pemilik warung itu nyengir.

“Habis Pak Amat mau mengantar dia ke mana-mana.”

Lho, bagaimana tidak. Bu Ellen itu teman baik Ami. Dia profesor di sana. Siapa tahu nanti Ami diberi beasiswa ke Amrik.”

“O, mancing, Pak?”

“Bukan. Dia sudah terlanjur percaya kita orang Bali ini baik-baik semua. Tidak ada pencuri. Semua suka menolong. Begitu. Jadi kita berkewajiban menjaga reputasi kita orang Bali supaya nanti kalau dia pulang promosi. Tidak membawa cerita buruk tentang Bali”

Nyoman ketawa.

Kok ketawa?”

“Itu namanya Pak Amat yang kena pancing. Baru ditiup sedikit sudah meletus. Kok mau mengantar ke mana-mana gratis. Saya kira Pak Amat wara-wiri tiap hari sambil nenteng tasnya akan ketiban durian runtuh. Dapat persen banyak, supaya bisa beli motor. Jadi saya bisa dibonceng ke pasar belanja. Jebulnya gratis!  Ha-ha-ha!”

“Dasar dagang! Otak kamu cuma uang, Man. Ini diplomasi budaya, tahu! Membina hubungan baik antar negara ji to ji istilahnya! Bu Ellen itu sedang riset mau nulis buku tentang agama Kristen di Bali yang menyerap budaya Bali bukan mematikannya, tahu! Ini penting, bisa melipatgandakan para wisatawan.  Kalau banyak turis, kamu juga untung, kan?!”

“O, begitu? Makanya Pak Amat jatuh-bangun ngintilin dia?”

“Sapa bilang saya ngintilin? Aku juga studi tahu!”

Nyoman masih mau ngeledek, Amat langsung membentak sambil beranjak.

Ah, kamu kan cuma mikirin untung, tidak pernah mikirin kepentingan bangsa dan negara?! Dasar pedagang!”

Nyoman ketawa.

“Habis saya kan cuma tukang warung, Pak Amat, kalau ikut mikiran negara, paling banter negara dan bangsanya habis saya jual. Ha-ha-ha!”

Amat mencoba mengadu ke Ami. Tapi Ami juga ketawa.

“Habis Bapak terlalu serius menyerpis Prof, bagaimana beliau tidak akan..curiga Bapak mungkin mau lompat perahu?”

Amat jadi marah.

“Ami! Kamu kok ngomong begitu? Kalau didengar Ibu kamu, Bapak bisa disikat habis!”

“Habis sampai Pak Nyoman bisa menilai Bapak jatuh-bangun menservis Prof, terang saja ada viral, ada apa ini?!”

Amat jadi panik.

“Ami, Bapak mendukung dia, karena dia punya kedudukan, siapa tahu kamu bisa dapat beasiswa. Dan, kalau Bapak mendampinginya ketika mewawancarai narasumber, mengunjungi gereja-gereja di Bali, mendengar ceramah dan mengikuti kebaktian pada baru Minggu, karena Bapak ingin tahu. Ingin lebih tahu, lebih banyak, bukan saja agama Nasrani, juga Islam, Budha, Kong Hu Chu dan sebagainya. Supaya lebih luwes mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika. Bukan untuk lompat perahu! Sama sekali bukan!”

Ami ketawa mengejek sembari masuk kamar.

“Mau lompat perahu juga tidak ada yang melarang, Pak! Asal jangan meleset jatuh ke laut, banyak hiunya!”

Amat jadi tambah marah.

“Ami! Keluar dulu, Bapak belum selesai ngomong! Jangan suka pakai opinimu sendiri tok!  Bapak bukannya…….. . ”

Amat berhenti ngomong, karena Ami muncul dengan segepok kartu ucapan Hari Natal dan Tahun Baru.

“Lihat, Pak. Tiap tahun saya terima ini dari teman-tenan di luar negeri. Juga dari Prof Ellen yang kebetulan lagi sakit. Jadi yang mengirim kartu sekretarisnya. Hanya dikirim kepada orang yang dianggapnya sahabat sejati. Termasuk Bapak. Saya saja tidak kebagian. Bapak seharusnya bangga!”

To Top