Edukasi

Pertimbangkan Hal Positif Ujian Nasional

Wacana penghapusan Ujian Nasional menjadi wacana menarik di bidang pendidikan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan UN tahun 2020 menjadi yang terakhir. Selanjutnya akan digunakan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter.

Menanggapi wacana tersebut, Ketua PGRI Kabupaten Buleleng Drs. I Nyoman Darta, M.Pd., mengatakan sebelum Mendikbud melakukan penghapusan terhadap pelaksanaan UN, sudah seharusnya mempertimbangkan beberapa hal yang menjadi dampak positif dari pelaksanaan UN.

Saat ini pelaksanaan UN telah mampu berbenah ke arah yang lebih baik. ini terlihat dari penyelenggaraanya yang lebih berintegritas dari sebelumnya menggunakan kertas hingga saat ini berbasis komputer dan online. “Dilihat dari sisi pelaksanaanya yang saat ini menggunakan komputer, maka pemerintah terus memberikan bantuan komputer kepada sekolah-sekolah agar dapat secara mandiri melaksanakan UN,” ungkap Nyoman Darta.

Manfaat lain yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan UN adalah kebermanfaatan nilai ujian yang tepat sasaran. Nilai UN digunakan untuk memetakan kompetensi siswa tingkat nasional dan pertimbangan untuk masuk perguruan tinggi. “Jika nilai UN dimanfaatkan untuk kedua hal itu sangat bagus, tetapi jika tidak ada manfaat untuk keberlanjutan lulusan itu yang perlu dipertanyakaan keberlanjutan penyelenggaraan UN,” imbuh pria yang menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri Bali Mandara itu.

Selama ini yang menjadi persoalan dari penyelenggaraan UN adalah manfaat yang kurang jelas dari UN. Jika manfaatnya untuk mengukur penguasaan materi dan kompetensi siswa, maka dengan penyelenggaraan yang berintegritas maka siswa akan mempersiapkan diri untuk mengikuti pelaksaan UN. Selain itu, dengan adanya UN akan memotivasi siswa untuk lebih giat belajar dalam mempersiapkan diri menghadapi UN. “Saya secara pribadi melihat penyelenggaraan UN lebih kepada hal positifnya bagaimana UN ini bisa meunculkan semangat belajar anak-anak agar bisa lulus dengan nilai yang bagus,” tambahnya.

Seandainya penghapusan terhadap penyelenggaraan UN benar-benar direalisasikan, maka Nyoman Darta berharap ada formula lain yang dirancang untuk mempertahankan motivasi belajar siswa. “Jangan sampai ketika UN dihapuskan mengurangi semangat belajar siswa karena tantangannya berkurang,” imbuhnya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMA Kabupaten Buleleng ini juga menyampaikan harapannya terhadap Mendikbud yang baru menjabat untuk membuat regulasi yang baru. Pengalamannya sebagai kepala sekolah, selama ini guru tidak memiliki waktu luang untuk melakukan improvisasi di kelas. Waktu guru lebih banyak dihabiskan untuk membuat administrasi kelas sehingga tidak ada waktu untuk berdiskusi dengan guru lain. “Untuk mengantisipasi ini harus dibuat deregulasi lagi,” paparnya.

Kedua, dia berharap Mendikbud dapat memberikan ruang seluas-luasnya bagi guru untuk dapat mengembangkan potensi diri baik di bidang pedagogik, profesional dan lainnya. Selama ini memang ada program Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan hanya saja secara kuantitas belum semua pendidik mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program tersebut. “Guru itu harus selalu update apalagi melayani anak milenial agar tidak ketinggalan  zaman,” lanjutnya.

Terakhir, ia berharap dengan adanya perkembangan teknologi yang serba digital dapat membuka akses seluas-luasnya untuk mendapatkan media pembelajaran dan perangkat pembelajaran. “Dunia yang serba digital ini dapat mempermudah guru memperoleh media dan perangkat pembelajaran bahkan di media sosial sekalipun, sehingga memudahkan guru untuk memilah media dan perangkat yang sesuai dengan sekolah dan tepat sasaran,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

To Top