Sekitar Kita

 “Plastic Reborn 2.0”, Kolaborasi untuk Ciptakan Ekonomi Sirkular

Dalam mewujudkan “World Without Waste”, Coca-Cola bersama para mitra terus berupaya untuk membantu mencari solusi terkait dengan permasalahan kemasan plastik. Di Indonesia, Coca-Cola menerapkan visi “World Without Waste” melalui inisiatif Plastic Reborn yang akan menjadi payung dalam berbagai inisiatif keberlanjutan dalam penanganan sampah plastik.

Triyono Prijosoesilo, Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia pada acara bincang-bincang “Plastic Reborn 2.0 di Bali, Jumat (18/10) menjelaskan “Plastic Reborn” merupakan upaya Coca-Cola Indonesia untuk memberikan pemahaman baru, kemasan plastik paska konsumsi dapat ‘dimanfaatkan kembali’ atau menyulapnya agar memiliki nilai bisnis sehingga dapat tercipta sebuah ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Melalui Plastic Reborn 1.0, Coca-Cola telah berhasil mengedukasi lebih dari 4.300 siswa SMA dan juga memfasilitasi pengumpulan kemasan plastik paska konsumsi di lebih dari 100 titik sekolah & universitas di kawasan Jakarta dan Bekasi yang kemudian telah dikelola dan diproses menjadi tas serbaguna bernilai komersial.

Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dari Coca-Cola, pada tahun 2019 ini Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) bersama Ancora Foundation telah meluncurkan “Plastic Reborn 2.0”, sebuah lanjutan dari program kolaborasi yang menggandeng startup di bidang pengolahan sampah untuk membangun “marketplace” agar mendorong terbangunnya ekosistem ekonomi sirkular.

“Di “Plastic Reborn 2.0” kami mempelajari bahwa dasar pengelolaan sampah yang berkelanjutan adalah pengumpulan limbah kemasan (waste collection) yang tepat dan harus dimulai dari pemilahan di rumah tangga. Ini yang menjadi kerangka utama dari “Plastic Reborn 2.0”, sebuah program kolaborasi dari para startup penggiat sampah yang akan bersinergi untuk membangun “marketplace” yang lebih efisien untuk sistem persampahan dan daur ulang. Program ini berorientasi pada penggunaan teknologi, dengan pendekatan unik akselerasi bisnis berbasis kemasan plastik pasca konsumsi,” ungkap Triyono.

Ancora Foundation sebagai mitra CCFI di “Plastic Reborn 2.0” berperan sebagai pelaksana yang memiliki fungsi untuk, yakni Engage (fase seleksi & pitching), Nurture (fase akselerasi) dan Advance (fase amplifikasi). Ancora Foundation telah mengidentifikasi dan menyeleksi 20 organisasi yang berfokus pada pemanfaatan teknologi dalam hal sistem pengumpulan dan recycling sampah di Indonesia untuk dapat masuk ke dalam program ini.

Ahmad Zakky Habibie, Chief Operating Officer Ancora Foundation menjelaskan, tidak mudah bagi timnya dan CCFI dalam menyeleksi proposal yang masuk dari para penggiat sampah di Indonesia. “Setelah melalui beberapa tahap, kami memutuskan bahwa Clean Up, MallSampah dan Gringgo merupakan tiga startup terpilih dengan proposal bisnis terbaik yang akan bersama-sama menjalankan kolaborasi di “Plastic Reborn 2.0”,” ujarnya.

“Plastic Reborn 2.0” memberikan hibah (grant) kepada tiga startup terpilih sebesar total USD 250,000. Dana tersebut akan dimanfaatkan oleh ketiga startup terpilih untuk meningkatkan kapabilitas perusahaan serta mengembangkan model bisnis dalam hal sistem pengumpulan dan pemrosesan limbah yang lebih baik.

“Kami sangat bangga mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan Coca-Cola Indonesia dan Ancora Foundation. “Plastic Reborn 2.0”merupakan sebuah program yang sejalan dengan misi Gringgo yaitu untuk mengembangkan sayap bisnis kami ke wilayah Indonesia lain melalui kolaborasi. Harapannya melalui program serta kolaborasi ini akan memperluas network serta membuka lebih banyak akses yang nantinya dapat mendukung Gringgo untuk mengoptimalkan sistem pengelolaan sampah kami,” ungkap Febri Pratama Putra, Chief Technology Officer & Co-Founder Gringgo.

Kemasan plastik paska konsumsi telah menjadi sebuah persoalan yang mendapat perhatian masyarakat global dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali jumlah timbunan (volume sampah atau berat sampah yang dihasilkan) sampah di Bali terus meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2016 terdata 12.892 meter kubik timbunan sampah dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 13.351,13 meter kubik per hari.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa kemasan plastik paska konsumsi periode 2017-2018 menempati posisi setelah sampah sisa makanan dengan jumlah sebesar 7.04 %.1 Jika dilihat dari sudut pandang industri, plastik merupakan bahan baku yang memiliki nilai ekonomi di dalamnya, sehingga memiliki nilai manfaat ekonomi tidak hanya untuk industri tetapi juga untuk masyarakat.

Dengan memahami potensi kemasan plastik paska konsumsi serta pengumpulan dan pengelolaan sampah yang lebih tepat dapat bersama membantu mencari solusi untuk mendukung keberhasilan ekonomi sirkular di Indonesia. Saat ini, Gringgo tengah berkolaborasi untuk mengoptimalkan sistem Clean Up agar dapat memaksimalkan fitur pengambilan sampah perumahan pada situs yang kini masih memiliki fokus pelayanan di area Sulawesi Selatan tersebut, diharapkan ini dapat meningkatkan collection rate sehingga nantinya fitur dapat dikembangkan untuk beroperasi di seluruh Indonesia.

“Plastic Reborn 2.0” telah memasuki fase akselerasi yang telah berjalan dari bulan Juni 2019 dan akan berlanjut hingga bulan Februari 2020 dimana para startup tengah mendapat mentor profesional dalam mengembangkan kemampuan mereka serta membuka network yang lebih luas. (rls/Ngurah Budi)

To Top