Goro Goro

DAMAI

Di dalam damai semua yang ada dalam kehidupan duniawi tetap ada. Bahkan musuh-musuh cenderung bertambah. Baik yang bernama radikalisme, ekstrimisme, separatisme, rasialisme, sukuisme, anarkisme, atheisme, masih ada, hanya ngumpet tak nampak.
Intoleransi, dehumanisasi, kontra emansipasi, dan segala macam musuh lain yang biasa dikenal, malah bertambah dengan berbagai anti yang tumbuh menjamur. Hanya satu yang tak ada, pembersihan dengan kekerasan atas semua itu, untuk menimbulkan efek jera.
Damai membereskan keadaan dengan mengamankan keos pemikiran musuh itu lewat musyawarah mufakat dan hukum. Tak jarang sulit, alot bahkan tak tertembus, namun justru itulah yang menyebabkan damai itu seksi. Dinamis penuh dinamika.
Bahwa ada kemungkinan dunia damai itu justru bergolak, sangat masuk akal. Bagai rimba raya dengan seabrek margasatwa buas yang tak segan memangsa satwa lain (termasuk manusia) tanpa sedikitpun merasa bersalah, karena itu dilakukan untuk mempertahankan hidupnya. Akibatnya, walau damai, hidup menjadi menegangkan, setiap detik berbahaya.
Tetapi bahaya itulah yang menumbuhkan kewaspadaan yang mengasah akal-budi melahirkan kiat agar bertahan. Hidup damai jadi memacu kecerdasan dan
membuat hidup jadi penuh perjuangan, dramatik, bertaburan warna dan indah.
Dengan memandang damai tidak seperti Ki Dalang melukiskan swargaloka dalam pewayangan, damai jadi menakutkan. Karena di balik damai yang cantik itu, ada banyak kebuasan.
Di balik damai, penuh niat jahat yang terkekang dari batin pemiliknya sendiri. Niat itu seperti singa lapar yang menunggu kesempatan, kelengahan sekecil apa pun untuk menerkam.
Damai jadi penuh risiko dan pelik karena harus ketat diurus. Lengah sedikit waduk pecah. Tak heran kalau George Washington berkata, untuk menjaga perdamaian diperlukan senjata.
Mungkinkah itu sebab banyak orang akan lompat perahu? Karena lebih murah, lebih praktis dan lebih menyenangkan menikmati yang bukan damai?
Itulah isi ceramah dari seorang pakar, yang membuat Amat sesak nafas. Dengan susah payah ia mengumpulkan uang untuk membayar tanda masuk ceramah pakar yang berlangsung di hotel bintang lima itu. Harapannya agar pikirannya diguyur rasa damai, setelah pusing membaca berita ada demo lagi menjelangan pelantikan presiden. Tapi nyatanya bukan rasa aman yang ia dapat. Hatinya justru tambah kacau.
“Air tenang justru bisa menghanyutkan, Bu,” kata Amat setelah sampai di rumah.
Bu Amat yang mau berangkat rapat, memang sengaja menunggu apa yang dipungut Amat dalam ceramah, jadi penasaran. Karena ia yang telah mendorong suaminya menghadiri ceramah dengan sponsor Ami.
“Air tenang menghanyutkan, bagaimana, Pak?”
“Itulah!”
“Itulah bagaimana?”
“Bapak kan sudah bilang, kita tidak usah terlalu peduli sama ceramah-ceramah orang sana yang memang mau buang kotorannya di sini. Kelihatannya saja ilmiah karena dia pakai titel profesor doktor. Jebulnya gerilya politik!”
Bu Amat kaget.
“Gerilya politik bagaimana?”
“Yaa pura-puranya ngajak kita berpikir kritis, realistis, eh ujung-ujungnya menakut-nakuti kita supaya membenci kenyataan! Apa itu kalau bukan gerilya poiitik! Rugi besar kita sudah bayar mahal-mahal!”
Amat membuka baju batiknya. Lalu bergerak mau keluar menyiram halaman.
“Tunggu, Pak!”
“Apa lagi!”
Kok gerilya politik? Apaan sih?”
Amat terpaksa menceritakan apa yang sudah terjadi. Bagaikan Profesor Doktor Prabu, penceramah di hotel bintang lima itu, Amat  menceritakan kembali seluruh anatomi damai yang sudah dianggapnya gerilya politik itu.
Nah, begitu, Bu! Mengerti?”
Bu Amat tertegun.
“Ibu mengerti sekarang, kenapa Bapak menyesal ikut ceramah itu, sampai minta sponsor dari Ami?”
Bu Amat mengangguk.
“Untung Bapak ikut!”
Amat tercengang.
“Untung?”
“Ya!”
“Kok untung?”
“Saya kan sekarang mau ikut rapat ibu-ibu untuk mendirikan Yayasan Bantuan Pelajar Miskin yang diprakarsai Bu Made. Pasti di belakangnya Pak Made, musuh politik kita yang sekarang pura-pura bersahabat itu. Dan pasti yayasan itu nanti akan dipakai alat gerilya politik! Lebih baik nggak ikut!”
Bu Amat membuka kebaya batiknya, lalu masuk kamar. Amat bengong.

To Top