Goro Goro

BK (13)

Bu Amat tak percaya Karsono sudah menangis bombay.
“Masak menerima sumbangan spontan dari masyarakat yang mau menggerebeknya karena mau gantung diri dia menangi?”
“Memang nangis, Bu! Swear!”
“Halah jangan didramatisir, Pak!”
“Didramatisir bagaimana? Ini fakta!”
“Ya, memang. Tapi tidak perlu menangis!”
Lho, Karsono sudah menangis kok pakai tidak perlu!”
“Kalau cerita jangan dicampur keinginan, to, Pak!”
Lho kenapa tidak? Kita kan inginnya, uang kita, jangan dia tolak lantas dia cepat pulang. Nah itu, terkabul, sesudah dia nangis! Kalau kata dia tidak sampai nangis pasti lain lagi ceritanya!”
“Itu kan maunya, Bapak!”
Amat ketawa.
“Mau Bapak? Mau Bapak sih dia. pulang tapi sumbangan kita ditolak!”
“Mana?”
Bu Amat mengulurkan tangannya, nagih.
“Mana kalau ditolak?!”
Amat tercengang.
“Bukan menolak, tapi…”.
“Ya! Tapi mana!”
Bu Amat terus menadahkan tangan meminta sekaligus ngasih instruksi.
“Mana!”
Amat terpaksa merogoh kantung menyerahkan amplop yang berhasil diselamatkannya.
“Bapak heran, darimana Ibu kamu tahu, Bapak hanya ngasih satu amplop kepada Karsono?” kata Amat esoknya di rumah Ami.
Ami mengangguk-angguk ngerti.
Ah, kamu lagi jangan hanya manggut-manggut! Kenapa?”
“Bapak mau tahu?”
“Ya, iyalah! Ibu kamu kan bukan paranormal!”
“Itu rahasia perempuan, Pak!”
Ah. Jangan mengalihkan persoalan! Kenapa? Apa itu hanya tes naluri serang istri, apakah suaminya masih berkata jujur, meskipun dengan mudah sebenarnya bapak bisa berbohong karena tak akan pernah bisa ketahuan lantaran Karsono sudah langsung diantarkan seorang warga ke terminal bus!”
Ami tersenyum.
“Jangan senyum-senyum misterius terus seperti Monalisa! Betul tidak?”
Ami mengangguk.
“Betul.”
“Apanya yang betul?”
“Ya yang Bapak bilang tadi.”
“Bahwa ibumu mencoba ngetes suaminya, tapi naluri Bapak, secara bawah sadar sudah menuntun menyelamatkan lelaki tua tapi jujur, bapakmu ini,  sebagai suami yang setia dan jujur? Begitu, kan, Ami?!”
Ami mengangguk.
“Persis!”
Amat ketawa puas. Lalu menarik nafas dalam.
“Nah, jadi, sekarang kamu lihat, Ami, betapa mudahnya membuat hati eorang lelaki bahagia, meskipun dia bekas pejuang tangguh seperti, Bapakmu ini!”
Muka Amat kelihatan lelah.
“Jaga, rawat dan sayangi suamimu, Ami. Dia orang baik, pekerja keras, meskipun belum bisa membelikan kamu Mercy. Jangan seperti istri Karsono yang menuntut suaminya yang hanya pelawa ketoprak itu membelikan dia pesawat terbang pribadi.”
Ami memegang tangan bapaknya.
“Terima kasih, Pak. Sudah mengertikan dan menyayangi ibu, tidak seperti Pak Karsono yang kalau tidak dimotivasi keras oleh istrinya terus-menerus dengan berbagai tuntutan, sudah habis dikunyah narkoba, seperti yang sering Bapak ceritakan.

To Top