Goro Goro

BK (12)

Bu Amat menunggu harap-harap cemas. Ia sudah trenyuh melihat sobat suaminya itu terbanting ke sumur kering. Ingin kembali pulang, tak punya uang. Datang sahabat menyumbang, harga diri melarang.
Tadi waktu Karsono datang lagi ketika Amat pergi, Bu Amat dengan spontan mengulurkan amplop berisi uang 2 juta yang (atas anjuran Bu Made sendiri) diambilnya dari amplop yang kemudian ditagih Pak Made. Tapi Karsono tak mau melihat dengan sebelah mata pun amplop yang diletakkan dengan tulus oleh Bu Amat di atas meja. Karsono ngotot mau ketemu Amat, ngakunya mau pamit mati.
Karena tak sabar, Bu Amat menyusul ke teras. Ternyata Amat hanya sendiri, bengong.
“Sudah, Pak?”
“Sudah apa?”
“Amplopnya sudah diberikan?”
“Diberikan pada siapa? Orangnya sudah kabur! Ini malah ninggalin kita amplop!”
Amat mengacungkan amplop yang tergeletak di meja. Bu Amat cepat menyambar.
“Ini uang kita yang saya ambil dari amplop Pak Made! Ayo cepat susul! Dia sudah tak sabar pamit mati!”
“Ya, biarin saja! Itu kan baik!”
“Aduh, Bapak ini bagaimana! Terlalu! Orang mau bunuh diri kok malah dipuji!”
“Itu bukan….!”
“Cepet, cepet!  Tadi dia sudah bawa tali!”
Amat terkejut. Ia mendadak cemas lalu bangkit mau nyusul. Bu Amat mengulurkan amplop.
“Ini kasih kan!”
Amat heran.
“Dua-duanya mau dikasihkan dia!”
“Habis satu pasti kurang cukup. Makanya dia bingung! Ayo, kejar! Kasihkan”
“Nanti kita makan apa?”
“Tidak makan sekali juga tidak akan… .., hitung-hitung diet. Daripada bunuh orang!”
“Bunuh orang bagaimana?!”
“Cepet, Pak! Saya tadi kan tak sengaja mungkin sudah  nyinggung perasaanya!”
Amat terkejut.
“Ah? Ibu bilang apa?”
“Lelaki kalau sakit hati kan paling sesudah tiduran juga pulih, tapi perempuan bisa bunuh diri!”
“Aduh! Kok Ibu ngomong begitu!”
“Ayo. Cepat susul! Tadi maunya humor!”
Amat meraih amplop. Bu Amat, dengan gesit mencomot 3 lembar ratusan ribu, baru menyerahkan amplop ke tangan suamiya.  Amat cepat melompat menyusul Karsono.
Tapi belum terlalu jauh, Bu Nyoman pemilik warung, muncul.
“Pak Amat! Teman Bapak sudah di warung lagi bawa tali rafia, Pak!”
Amat memperlebar langkahnya. Ternyata di warung sudah banyak orang berkerumun. Mereka keberatan kalau Karsono mau bunuh diri di wilayah mereka.
“Tidak boleh bunuh diri di sini! itu dosa, mendahului kehendak Tuhan! Bisa bawa sial kepada wilayah termasuk kepada kita sendiri juga.  Jadi kita mau tangkap, serahkan ke tangan  yang berwajib, Pak Amat! Ayo!”
“Tunggu! Ini Karsono teman saya. Dia sudah lari dari tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga. Sekarang dia tobat. Mau pulang dan pamit mati. Bukan bunuh diri, tapi mematikan semua kepentingan pribadiinya agar bisa sepenuhnya mengabdi tugas mengurus keluarga! Tali rafia itu bukan untuk gantung diri tapi mengikat kopornya yang berantakan. Betul tidak begitu,  Karsono?”
Karsono yang sudah ketakutan, tambah bingung. Amat terpaksa  memberi kedipan mata. Lalu membentak.
“Betul tidak Karsono!”
“Betul!”
Nah itu dengar sudara-saudara!”
Giliran masyarakat yang mau memberangus itu, bimbang. Lalu Amat mengeluarkan kedua amplop uang dari sakunya. Lalu bicara lantang hingga semua mendengar.
“Karsono! Aku sangat menghargai hajatmu. untuk pamit mati demi kepentingan keluarga. Setelah beberapa tahun tinggal di Bali memang kamu tidak pulang bawa uang, tapi membawa tekad  pamit mati yang nilainya lebih dari satu M itu, itu dua jempol aku acungkan untuk kepahlawananmu,Bung! Aku  sumbangkan uang makan keluarga kami sebulan, tapi kamu tolak karena harga dirimu mulai lagi bangkit dan juga jumlahnya kurang. Aku jadi kecewa, Bung! Persetan dengan harga dirimu! Uang ini bukan untuk kamu! Tapi istrimu dan kelima anakmu supaya tidak putus sekolah! Ini gotong-royong! Eka Sila kita, tahu! Apa kamu mau menentang  Panca Sila yang sudah susah payah digali BK? Ah?!”
Karsono terperanjat. Amat sendiri juga kaget, merasa sudah kelepasan ucapan. Tapi masak air ludah mau ditelan lagi.
Beberapa saat hening. Tapi diam-diam ada yang penting terjadi. Secara spontan semua orang merogoh kantung dan kemudian meletakkan sumbangan di depan Karsono. Lelaki itu bergidik diserang rasa haru, lalu air matanya bercucuran.
Diam-diam, Amat memasukkan kembali salah satu amplop di tangannya ke saku.

To Top