Goro Goro

Habibie

Presiden ketiga NKRI, 11 September 2019 telah pergi untuk selamanya. Ami sengaja pulang, bertanya pada bapaknya:
“Bapak kenal Pak Habibie?”
Amat menatap Ami heran.
“Kamu kok aneh, Ami! Siapa yang tak kenal presidennya!”
“Jadi Bapak kenal?”
“Ya, Iyalah. Harus, kan! Masak warganegara asli tidak kenal sama presidennya. itu namanya kebangetan! Warga palsu!”
“Bapak pernah ketemu di mana?”
Lho beliau kan sering ada di TV, koran, radio, nonton filmnya! Kan banyak!”
“Itu namanya bukan kenal, Pak!”
Amat tertegun, berpikir.
“Jadi maksudmu, apa, Ami? Kenal bagaimana? Salam-salaman? Ngobrol di istana, mana mungkin! Presiden kan ngurus negara bukan ketua RT! Mana mungkin dia kenal sama 260 juta rakyatnya. Ngapal nama 10 orang saja sudah susah ngapal 260 juta orang bisa teler! ha-ha-ha!”
“Susah ngajak Bapak ngomong sekarang, sibuk dengan pikirannya sendiri saja,” curhat Ami ketus, kemudian, pada ibunya.
“Kenapa lagi Bapakmu, Ami?”
“Bete! Habis, Ami cuma nanya apa Bapak kenal Pak Habibie, eh sambil ketawa mengejek Bapak menjawab mana mungkin beliau kenal Bapak! itu kan beda!”
Bu Amat bingung.
Lho, bedanya  apa, Ami?”
Ami terkejut.
“OMG! Ibu sama juga!”
Tanpa banyak omong,  Ami lalu permisi cepat-cepar pulang. Sampai di rumah, melihat muka istrinya berantakan, Sugi merasa berkewajiban bertanya sebagai suami.
“Ada apa, Ami?”
“Susah ngomong sama orangtua sekarang. Sama orangtua sendiri juga sama saja!”
“Ngomong apa?”
“Maksud saya, kenal, itu bukan sekedar pernah lihat atau tahu nama, bahkan bukan hanya sekadar pernah salam-salaman, tok! Kenal itu, artinya sudah paham pribadi jalan pikiran dan tahu ide-ide mendasarnya. Itu!”
Sugi, suami Ami menggeleng-geleng. Ami jadi heran.
Kok Bli menggeleng-geleng, begitu?”
“Ami, paham pribadi jalan pikiran dan tahu ide-ide mendasarnya, itu kriteria kenal buat kita orang kampus, buat rakyat biasa, kenal itu cukup pernah lihat! Tapi ini kenal apa dulu? Soalnya… .”
“Stop!”
Ami langsung masuk kamar sambil banting pintu. Lalu berteriak:
“Kenal itu artinya  sudah setuju, CS!”
Sementara Bu Amat yang heran pada kelakuan Ami yang buru-buru pulang, menghampiri suaminya.
“Pak, kenapa  Bapak ngetawain Ami?”
“O, dia merasa diketawain, ya?”
“Ya!”
“Bagus!”
Lho, kok bagus?”
“Habis, masak menuduh bapak tidak kenal, Pak Habibie!”
“Siapa yang menuduh? Anakmu itu hanya bertanya, Pak!”
“Itu dia! Bertanya itu pasti karena ada prasangka!”
“Prasangka apa?”
“Aku tidak kenal! Masak aku tidak kenal presidenku sendiri!”
“Jadi Bapak kenal?”
Amat menatap istrinya.
“Kenal atau tidak?”
Lama Amat tidak menjawab
“Kenal tidak?!”
Akhirnya Amat menjawab lemah.
“Belum.”

To Top