Goro Goro

BK (11)

Waktu Amat keluar ke teras, untuk memberikan amplop gotong-royong itu pada Bung Kar(so)no,  yang bersangkutan sudah kabur. Kedua kursi yang dipakainya tidur sudah dirapikan ke tempatnya. Hanya di atas meja asbak penuh dengan puntung rokok plus bungkus rokok kretek yang sudah kosong.
“Dia pasti mau menunjukkan bahwa dia sudah berjam-jam menunggu,” kata Amat.
Bu Amat jatuh kasihan.
“Mungkin dia kelaparan, Pak. Siapa tahu lagi cari makan di warung Nyoman sana. Coba lihat.”
“Ah biar saja! Kita juga kan belum makan!”
Tapi Amat pergi juga. Bu Nyoman, pemilik warung membenarkan, tadi ada seniman makan belum bayar.
“Katanya, nanti minta Pak Amat saja, sebab Ia tak bawa uang tunai. Mau bayar pakai kartu, ya saya minta maaf, nanti bayar lain kali saja kalau makan lagi. Tapi dia bilang tidak ada lain kali, sebab dia mau bunuh diri. Saya kan jadi kaget, Pak Amat!”
Amat terkejut.
“Dia bilang mau bunuh diri, Bu Nyoman?”
“Ya bunuh diri! Saya jadi takut. Terus dia buka cincin batu akiknya untuk bayar, tapi minta kembalian, karena katanya cincin itu harganya Rp 25 juta. Saya bilang belum ada yang belanja tapi dia lihat saya bawa uang lima puluh ribu sebab mau beli minyak ke situ, ya itu saja, katanya. Karena bingung saya kasih kan uang itu, tapi dia pakai lagi cincinnya, mungkin lupa. Lalu ngomong lagi yang bikin saya takut sekali, Pak Amat!”
“Ngomong apa, Bu?”
“Dia nunjuk ke pohon beringin itu lalu bilang, kalau saya gantung diri di situ kelihatan tidak, ya? Kalau tidak ada yang thu, nanti ibu tolong laporkan, ya. Nanti saya kirimi ibu jamu pelaris. Begitu, Pak, Amat! Pikiran saya jadi kacau. Badan saya panas dingin sampai sekarang!”
Bu Nyoman nampak pucat. Amat malah ketawa. Ia buka amplop mengembalikan uang Bu Nyoman serta membayar  makan Karsono.
“Jangan takut, Bu Nyoman, teman saya itu bekas pemain ketoprak. Memang hobinya melawak dengan ngagetin orang.”
Tapi Bu Nyoman masih terus ketakutan. Karena lapar, Amat makan dulu, baru pulang.
Ternyata di teras rumah ada Bung Kar(so)no. Lagi tiduran kembali di kursi, sama seperti yang Amat pergoki sebelumnya.
Untuk amannya, Amat kembali masuk rumah leewat belakang. Bu Amat langsung membentak.
“Bapak ke mana saja? Orangnya sudah ada lagi!”
Amat ketawa.
“Makan dulu di warung, habis lapar!”
“Jangan ketawa! Urus dulu dia, katanya mau pamit mati! Saya kan jadi bingung!”
Amat yang sudah tambah geli menahan ketawanya.
“Pamit mati?”
“Ya! Tetangga juga pada dengar. Mereka juga ketakutan, malah ada yang mau lapor polisi!”
Amat kaget.
“Pamit mati itu kan ungkapan orang Jawa yang jadi pemimpin untuk menunjukkan dia bukan lagi milik diri dan keluagnya, tapi milik rakyat?”
“Saya tahu, Pak! Itu kearifan lokal Jawa! Tapi ini, dia mau bunuh diri!”
Amat terkejut. Dia bergegas mau ke teras.
“Tunggu! Bapak mau apa?”
“Mau bilangin hidup ini bukan panggung ketoprak!”
“Maksud Bapak apa?”
“Jangan ngomong pelesetan di luar panggung! Dia tidak boleh melawak di depan …”
“Jangan!”
Kok jangan?”
“Pokoknya jangan!”
“Terus?”
“Berikan saja amplop itu!”
“Ia tidak butuh uang! Dia putus asa kehilangan harga dirinya!”
“Tidak ada orang yang tidak butuh uang, Pak! Harga dirinya justru sedang kembali sekarang! Karena itu dia menolak Bapak kasih uang! Tapi bagaimana bisa pulang setelah tahunan meninggalkan rumah tanpa bawa uang? Pasti malu! Ya tidak?!”
Amat terhenyak.
“Ya, tidak?”
Amat bingung.
“Ya, tidak?”
Amat tambah bingung.
“Jadi baiknya, bagaimana?”
“Cepat kasihkan amplop itu!”
“Kalau dia menolak?”
“Pasti menolak! Tapi katakan uang itu bukan untuk dia, tapi untuk istri dan anaknya!”
“Kalau dia menolak?”
“Berarti dia menentang gotong-royong! Menentang Eka Sila! Menentang Panca Sila! Menentang BK!”
Amat merogoh amplop dari  sakunya
“Cepat!!!”

To Top