Goro Goro

BK (10)

Amat dan istrinya terpaksa kembali merongrong Ami.
“Ami, ini ada kesalahan taktis. Sebenarnya tidak perlu terjadi, kalau kami mau belajar dari pengalaman. Seperti kata Bung Karno bangsa yang besar adalah … “.
Bu Amat memotong.
“Sudah, Pak! Jangan muter-muter seperti baling-baling!  Begini, Ami. Jadi singkat cerita, Pak Made itu kan memang sentimen sama kita. Terutama sama Bapak. Padahal pemilu kan sudah selesai. MK sudah mengumumkan sapa pemenangnya. Kedua kubu harus menerima kenyataan. Demokrasi kan begitu. Kita berhenti bersaing.  Sekarang waktunya membangun, kita harus bersatu. Tapi Pak Made sudah salah kaprah. Untung ibu Made baik. Mungkin karena Bu Made itu berasal dari keluarga Puri. Jadi tata-krama.  di Purinya, sopan-santun masih terasa pada beliau. Meskipun bukan orang Puri lagi. Misalnya dulu, waktu baru pindah ke mari ….”
Giliran Amat memotong balik.
“Bu! Cukup! Kok jadi cerita zaman dulu, langsung saja, to the point, Ami! Ini masalah….”
Eeee Bapak! Kalau orang ngomong mesti ngerecokin, mending betul, ini kok? Orang bicara kan perlu pembukaan biar gamblang! Jadi sebagai bekas orang Puri, Bu Made paham bahwa desa-kala-patra …”
Kok pakai desa kala patra, to the point saja! Ami, kita sudah ditipu!”
“Kita kan menyumbang 2 juta untuk orang yang pura-pura begitu, Pak! Ami kan belum paham apa persoalannya, mesti …”
“Kan tadi sudah Bapak buka, berapa kali mesti dibuka, memangnya makan duren?! Jadi singkatnya ini masalah…
“Tidak sesederhana itu, Pak! Kita tetangga hanya bersebelahan tembok!”
“Tapi biar hanya bersebelahan tembok, karena  itu tembok politik, kita harus…”
“Merelakan menyumbang 2 juta untuk orang yang pura-pura sakit?”
Amat tersenyum masam.
“Habis sudah masuk rumah sakit begitu!, kasihan.  Kita kan tetangga yang hanya bersebelahan tembok…”
“Tapi tembok politik…”
“Makanya!”
“Makanya apa? Rela nyumbang 2 juta? Hah! Tidak!  Ami!”
Bu Amat menoleh. Tapi Ami sudah pergi
Bu Amat kecewa, sedang Amat ketawa.
“Tenang, Bu, Ami harus jemput anaknya pulang sekolah.”
Kok. Tidak bilang-bilang? Mulai tidak sopan anak Bapak itu sekarang!”
“Habis Ibu ceramah terus!”
“Apa dia pikir kita ke mari mau minta uang.apa??! Ayo kita pulang!”
Bu Amat marah, langsung mau balik kanan. Amat langsung merogoh saku.
“Sabar, Bu! ini dari anakmu yang tidak sopan. Itu!”
Amat mengulurkan sebuah amplop.
“Dua juta dari Ami.”
Bu Amat kontan ceria lagi, cepat menyambut.
“Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga!”
“Air apa, sih?” tanya Amat, bloon,  dalam perjalanan pulang.
Bu Amat tak menjawab. Ia masih terharu oleh sikap Ami yang penuh pengertian, yang diyakininya itu berkat didikannya.
“Tunggu!” kata Amat menahan langkah istrinya.
“Kenapa?”
Amat menunjuk ke teras rumah. Ada tamu yang sedang berbaring tiduran pakai 2 kursi. Seenak perutnya. Amat lantas ajak istrinya masuk rumah lewat pintu belakang.
Mengendap-endap Amat kemudian ngitip dari dalam rumahm ternyata orang itu Bung Kar(so)no. Amat langsung mau menggebrak. Tapi Bu Amat menyabarkan.
“Kasihan, Pak, mungkin dia mau pulang tapi tak punya ongkos.”
“Kalau tak punya kenapa kemarin pemberaan Bapak yang tulus ikhlas pakai dikembalikan dengan sok?”
“Itu harga dirinya kembali sebagai kepala rumah tangga yang seharusnya mengurus kelurga tapi dia tinggalkan. Sekarang dia malu! Mau pulang tapi tak punya uang!”
“Biarin, biar jadi pelajaran!”
“Jangan! Tolong dia! Ingat Bung Karno kan sudah mengingatkan kita, harus hidup bergotong-royong!”
Bu Amat mengulurkan amplop yang diberikan Ami. Amat heran.
Lho nanti kita makan apa?”
Bu Amat tersenyum.
“Saya sudah ngambil 2 juta dari amplop Pak Made.”
Amat kaget.
“Wah? itu sama dengan mencuri!”
“Sama sekali tidak!”
“Tidak bagaimana? Ibu sudah terpengaruh oleh Pak Made: tujuan menghalalkan cara!”
Senyum Bu Amat tambah lebar.
“Saya kan hanya melaksanakan perintah Bu Made. Semalam dia ngirim putranya ke mari, waktu Bapak tidur, nyuruh saya ambil uang sumbangan kita dari amplop itu saja. Sebab dia tak jadi sakit tapi sudah terlanjur ada sumbangan dari partai, yang tidak bisa dikembalikan, jadi terpaksa dialihkan untuk studi banding ke Jakarta. Sana cepat, kasihan itu Pak Karsono!”

To Top