Goro Goro

BK (9)

Subuh buta pintu Amat digedor. Dengan terkejut Amat melonjak bangun. Karena gedoran itu terdengar seperti kurang bersahabat, terhuyung Amat menarik kursi ke dekat almari. Lalu berdiri di atas kursi meraba-raba mencari di atas almari.
“Cari apa, Pak?”
Gedebuk! Amat jatuh karena kaget. Bu Amat bangun.
“Cari apa? Pagi-pagi sudah grasa-grusu kayak kucing!”
“Senjatanya mana?”
“Senjata apa?”
“Pedang jepang itu.”
“Untuk apa?”
“Ada musuh!”
“Musuh? Bapak ini sukanya ngelindur sekarang!”
Pintu digedor lagi.
“Itu dengar? Kalau tamu tidak akan berani galak begitu ngetok rumah orang! Mana senjata, Bu, cepat!”
Bu Amat kesal lalu berbaring lagi.
“Begini kalau sudah kebanyakan dibuntutin hoax!”
Pintu digedor lagi.
“Bu! Mana samurainya?!”
“Pakai saja samurai Bapak sendiri!”
Pintu kembali digedor.
“Buuu, ini serius! Mana samurainya!”
“Kan belum dikembalikan,dipinjam untuk main drama gong!”
“Aduh! Senjata untuk pertahanan kok dipakai main drama gong?!”
“Pakai gagang sapu saja!”
Digedor lagi. Sambil menggerutu Amat meraih parang yang menggeletak di bawah tempat tidur. Bu Amat kontan protes tanpa melihat.
“Jangan pakai Itu,   Pak. Nanti bacok orang bisa mati. Mau dikembalikan lagi, besok!”
Gedoran lagi.
“Bu!”
“Saya sudah tidur!”
Amat panik. Asal ambil saja ia meraih palu dari dalam laci meja. Bu Amat langsung teriak.
“Jangan pakai palu!”
Tapi Amat sudah keluar kamar. Ia mencoba mengintip tapi digertak dari luar.
“Pak Amat!”
Ternyata Pak Made. Amat cepat membuka pintu.
“Pak Amat, gawat!”
Sambil menyembunyikan palu di belakang badannya, Amat menyapa
Lho kenapa, Pak Made?”
“Istri saya, jadi kena DB!”
“Oya?  Masa?”
“Itu sudah di mobil sekarang!”
Pak Made menunjuk mobil Innova yang mengeram di depan rumahnya. Amat mencoba ikut sedih.
“Mau dibawa ke rumah sakit Pak Made?”
“Ya, sekarang!”
“Kenapa tidak pakai ambulans?”
“Pak Amat…”
“Kalau RS nya ditelepon pasti dikirim ambulans, Pak.”
“Ini mau dibawa ke Jakarta!”
Lho kenapa, nanti..?”
“Pak Amat, saya tidak banyak waktu. Amplop yang saya beri semalam itu,  salah. Itu amplop pimpinan daerah untuk saya pribadi. Kan bisa lihat sendiri amplopnya kan amplop partai. Mana?”
Pak Made mengulurkan tangan meminta amplop. Amat gugup. Tak tersangka-sangka palu yang ia sembunyiksan di belakang punggungnya diambil. Amat kaget. Tapi lalu muncul Bu Amat mengulurkan amplop.
“Selamat pagi Pak Made, untung belum saya buka.”
Amat tersirap. Pak Made menerima amplop dan cepat mau pergi. Bu Amat menegur.
“Tidak dihitung dulu, Pak Made?!”
Pak Made heran.
“Tapi ini belum dibuka, kan?”
“Belum! Itu masih dilem Pak Made!”
“Makanya, untuk apa diperiksa?”
Amat nyeletuk.
“Siapa tahu, isinya lebih, Pak Made!”

To Top