Goro Goro

BK (8)

Amplop itu seperti benda asing di tangan Amat.
“Aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih karena anggaran beras ini sudah kembali, atau aku harus tersinggung, marah, dihina dengan mengembalikan sumbangan yang sangat berharga artinya bagi kita ini, meskipun mungkin hanya uang recehan bagi caleg gagal itu, yang meskipun sudah hampir bangkrut, tetap saja sombong.”
Suara Amat tidak terasa sebagai orang marah, tapi memelas. Ami terharu. Tetapi memilih diam. Padahal, dalam batinnya ia sudah meloncat menerjang dan menyerang.
“Pak Made, kalau 2 juta kurang, terus terang saja bilang! Pakai pura-pura akting DB segala. Kalau kehabisan bensin minta sama kubunya dong. Kok merongrong kita. Kita kan musuh meskipun tetangga?!”
Hanya Bu Amat yang legawa. Ia meraih amplop dari tangan suaminya. Lalu menghitung isinya.
“Sudahlah, mungkin ini bukan rezeki mereka, tapi rezeki kita. Nikmati saja, jangan mau terpancing, meskipun ini kentara sekali mau dijadikan…..lho!”
Bu Amat kaget. Amat dan Ami heran.
“Kenapa?”
“Bapak ingat berapa isi amplop ini?”
“Dua juta.”
“Kok jadi lebih 300?”
Bu Amat menunjukkan 3 lembar ratusan ribu.
“Itu uang Ibu kali tercampur?!”
“Tapi, saya belum sempat membuka. Waktu Bapak minta kembali untuk nyumbang Bu Made. Kan lemnya masih belum dibuka?”
“Tapi tadi waktu dikembalikan Pak Made saya lihat. sudah terbuka.”
“Memang!”
“Sini coba Ami hitung!”
Disaksikan orang tuanya, Ami menghitung sampai dua kali.
Lho malah sekarang lebih 400!?”
Amat mengambil alih.
“Coba, Bapak yang hitung. Kalau soal hitung-hitungan kaum perempuan memang lemah, ahlinya membelanjakan…… nah, bener kan, memang lebih tapi hanya 200!”
Pak Made nyelonong masuk.
“Maaf, tadi amplopnya keliru. Ini yang bener.”
Pak Made mengulurkan amplop.
Amat bingung tapi menerima tanpa komentar dan menyerahkan amplop sebelumnya.
“Terima kasih.”
Pak Made cepat-cepat pergi, seperti takut diajak ngobrol. Amat memperhatikan amplop yang baru diterimanya.
Kok?”
“Belum dibuka?”
“Belum. Tapi …”
“Tapi apa? Bapak jangan curiga terus seperti detektif.”
” Habis, ini bukan amplop yang kita berikan pada mereka.”
“Masak?”
” Ini lihat. Ini amplop organisasi mereka. Amplop kita kan polos!”
Bu Amat kesal. Lalu berdiri sambil meraih amplop.
“Sudah ah! Capek ngurus orang politik!”
Bu Amat ngeloyor ke dapur. Ami melirik ke amplop hadiah sayembara suaminya. Amat langsung mengerti.
“Berarti ini, tetap rezeki kamu, Ami.”
Amat menyerahkan amplop hadiah yang berisi 5 juta itu kembali pada Ami.
“Cepat belanjakan, Ami, habiskan sebelum ditembak lagi oleh caleg gagal itu.”
Ami tersenyum kecut, menyambut amplop, lalu pulang. Amat termenung. Ia teringat apa kata Bung Karno. Bukan hanya demokrasi politik yang kita perlukan, tetapi juga demokrasi ekonomi. Baru. demokrasi itu akan berjalan mulus.
Berjalan dengan satu kaki, melihat, mendengar dengan satu mata-telinga. Dan bekerja dengan satu tangan, bukan tak bisa. Tapi mesti nanti ada saja yang akan meragukan hasilnya tak sempurna, meskipun sejatinya hasilnya sangat memuaskan.
“Kita diingatkan apa pun pencapaian budi-daya kita, tetap, memerlukan persyaratan dari kita penggunanya, agar harus siap mental dan paradigma agar hasil budi-daya itu bisa diapresiasi dengan tulus,” bisik Amat.
“Pak, lebih”
Amat menoleh.
Bu Amat muncul dari dapur sambil mengulurkan amplop
“Apa?”
“Lebih!”
Ah? Ibu buka?”
“Sebetulnya tidak. Tapi tadi jatuh ke air waktu cuci piring. Karena basah, saya buka.”
“Lebih, berapa?”
“Lima juta.”

To Top