Goro Goro

BK (7)

“Ibu tidak mengerti, mengapa Bung Kar(so)no-nya Bapak itu bisa jadi begitu, ya?!”
“Kenapa, Pak?”
“Menurut surat anaknya, dia pernah ditarik dijadikan caleg. Anak, istrinya sejak awal sudah tidak setuju. Dia kan seniman bukan pemimpin yang bisa ngurus kepentingan orang banyak. Hanya karena diiming-iming tidak akan perlu keluar duit, dia nekad semangat nyaleg. Tapi nyatanya sedikt demi sedikit, seluruh hartanya terkuras, sampai keluarganya terpaksa ngontrak rumah. Untungnya dia tidak gila. Karena malu, diam-diam dia lari menghilang ke mari. Bapak baru ketemu ini lagi. Jadi baru melihat dengan mata kepala sendiri kelakuannya. Tadinya tak kira laporan anaknya itu mengada-ada tok.”
“Untung juga amplop duitnya tidak sempat dibawa kabur!”
“Yang Bapak tahu, pada dasarnya si Karsono ini orangnya baik. Tapi dia terlalu cinta sama keluarga, terlalu berambisi menyenangkan anak bininya. Kelemahan itu dipakai orang untuk menggarapnya.”
“Tapi dari kejadian sekarang ini, artinya dia sudah mulai nyadar sekarang!”
“Orangnya sebetulnya cerdas. Dia paham sekali pikiran-pikiran BK. Itulah sebetulnya yang diincer kelompok yang mengorbitkannya jadi caleg. Berbekal menguasai pikiran BK mereka lalu menggiring masyarakat ke arah kebalikannya, justru agar menjauhi cita-cita BK untuk membuat NKRI satu maju dan padu. Mereka mau memecah  NKRI dan membaginya seperti kue ulang tahun, kata seorang profesor dari Amrik. Baru sekarang setelah lama malang-melintang di sini rupanya sepuhannya itu mulai luntur.”
“Sekarang mudah-mudahan pikiran PaK Karsono waras lagi. Keluarganya pasti sangat berharap dia kembali!”
“Bapak sebetulnya lebih senang kalau dia bawa uang itu agar ia punya kepercayaan diri dan  keberanian pulang.”
“Ah! Bapak selalu. Begitu, selalu pikir uang itu kunci semua? Masak uang untuk beli beras malah dikasihkan musuh?”
Amat ketawa.
Lho itu kan taktik. strategi!”
Ah, bilang aja nyesel!”
Ami langsung ingat kejadian di RSU tadi.
“Tapi memang suka tak suka, sekarang uang itu yang berkuasa, Bu. Di rumah sakit waktu nengok Bu Made tadi, sebelum kemari, Pak Made memuji ibu setinggi langit!”
Bu Amat menoleh Ami.
“Apa katanya?”
“Ibu memang tetangga sejati.”
“Itu pasti minta dibikinkan pisang rai lagi!”
“O, ibu bikin pisang rai untuk Bu Made?”
“Bukan cuma pisang rai, sumping, kue-kue juga!”
“Ya, Bu?”
“Padahal bapak. Sudah 3 bulan kirim proposal minta empek-empek sampai sekarang ngambang!”
“Bu Made. Juga memuji Bapak sebagai pemimpin!”
“Hah! Itu karena Bapakmu nyumbang 2 juta sampai kita tidak bisa makan. Masak baru malamnya ngasih amplop, e siangnya nyuruh diserahkan sama musuh bebuyutan! Itu kan plintat-plintut!”
“Itu kesalahan prosedur, Bu! Kirain ibu sudah langsung ambil 1,5 untuk kebutuhan dapur. Biasanya kan teflek begitu! Kirain di amplopnya hanya tinggal gopek! Kirain…”
“Kirain mau dipuji Pak Made! Nyatanya mukanya tambah kecut mancrut. Merasa dihina sebagai caleg gagal yang bangkrut!!”
Amat kontan mengoreksi.
“Soalnya waktu itu kan amplopnya belum dibuka. Pasti dia kira is Amat kere itu paling juga nyumbang seceng. Nyatanya sekarang, setelah tahu 2 juta, kan Ami langsung dihujani pujian orang tuanya pemimpinkah dan tetangga sejatikah!”
“Meskipun bangkrut!”
“Pujian memang barang mewah, Bu!”
Ami memotong.
“Salah! Saya kira mereka memuji karena saya datang bersama Bli Sugi. Karena gembira, Bli Sugi bercerita dia baru saja pulang dari Gubernuran bawa amplop 5 juta hadiah Sayembara Penulisan tafsir Pemikiran BK. Saya sudah injek kakinya tapi dia terus saja ngomong, katanya sengaja supaya Pak Made ngeper sedikit jadi mulai ramah pada Bapak dan Ibu karena menantunya bukan orang sembarangan.”
Amat dan Bu Amat melongo. Tak terduga terdengar sapa.
“Pak Amat!”
Semua menoleh. Ternyata Pak Made dan Bu Made.
“Pak Made?”
“Bu Made?”
“Ya. Kami sudah diizinkan pulang, karena ternyata bukan DB! Sakit kepalanya itu karena telat minum kopi. jadi maaf, tanpa mengurangi rasa hormat kami pada Pak Amat, sumbangannya kami kembalikan”
Pak Made mengulurkan amplop.

 

To Top