Goro Goro

BK (6)

Bung Kar(so)no bengong. ia hanya menatap 2 lembar ratusan ribu yang diletakkan Amat di atas meja di depannya.
“Aku jadi introspeksi, Mat.”
“Introspeksi bagaimana? Sana cepet berangkat!”
“Apakah langkahku ini sudah benar?”
“Langkahmu waktu digigit anjing? Jelas salah. Tapi bukan karena kau berlari supaya tidak telat nonton Koetkoetbi. Di sini anjing sudah sudah biasa lihat orang lari ngejar angkot. Masaalahnya hanya karena, kau menginjaknya. Meskipun sedang kesusu lari kau tak boleh nginjak orang.”
“Maaf aku koreksi, itu bukan orang, aku nginjak anjing.”
“Dalam soal injak menginjak orang dan hewan sama, kalau diinjak pasti menggigit! Kalau dulu Belanda atau Saudara Tua tidak menginjak-injak kita, mungkin kita belum merdeka sampai sekarang!”
Karsono melotot.
“Maksudmu, aku tak boleh marah meskipun sudah digigit?”
“Masih untung itu anjing, coba kalau itu cobra, kalau itu macan? Kau sudah koit dan tidak akan pernah bertamu ke rumahku seperti keberadaanmu sekarang ini. Ya, nggak?”
“Kok nada suaramu seperti menyuruhku bersyukur??”
“Terserah tafsiranmu.”
“Seperti kau syukuri anjing itu menggigitku sehingga aku terpaksa ke mari mengetuk empati gotong-royongmu! itu kan sama dengan  mengatakan aku memperalat gotong-royong untuk pamrih pribadi?! Lalu kau uruk aku dengan pesan-pesan moralmu yang sok suci itu. Supaya aku malu dan tak jadi minta tolong!”
Amat mulai marah.
“Terserah! Kalau kau memaknakan pesan Bung Karno begitu, pesan-pesannya itu jadi cetek. Kami di sini selalu menggosoknya sesuai dengan desa-kala-patra. Gotong-royong tidak berarti mangan ora mangan asal kumpul! Dulu mungkin bisa begitu. Sekarang, tidak! Daripada dua orang setengah mati, lalu kalah, lebih baik satu mati, tapi yang satunya terus berjuang melawan. Mengangkat kursi rotan tidak perlu mengerahkan seribu orang. Cukup satu saja. Yang 999 biar tidur, hemat energi, kumpulkan tenaga, supaya nanti bisa bunuh raksasa. Itu baru gotong-royong milenial. Duit kami habis disumbangkan untuk orang sakit. Karena aku masih bisa pinjam pada anakku. Tapi duit itu pun tak masaalah aku kasih kamu, karena kamu digigit anjing harus pulang, karena keluargamu. Membutuhkan figur bapak. Aku dengan ikhlas berikan uang yang kupinjam dari anakku, bukan karena aku bisa hidup tanpa makan. Tapi karena ini rumahku, banyak tetangga yang bisa bergotong-royong menolongku. Lagipula perasaanku yang merasa diriku berharga karena sudah bisa menolongmu tidak akan membiarkan aku dan isteriku mati. Paham?”
Karsono kehabisan jawaban.
“Kecuali kalau 2 ratus ribu itu, kau anggap kurang buat kamui. Tapi jangan pakai berkilah dengan segala alasan introspeksi sok filosofis ece-ece itu. Bilang saja sejujurnya, kurang! Titi! Siapa tahu….”
Tiba-tiba muncul Ami. Langsung mengulurkan amplop tebal, sambil berbisik.
“Lima juta hadiah Sayembara Penafsiran Pemikiran BK, yang baru diterima Bli Sugi dari  Gubernur.”
Amat langsung mengulurkan amplop itu pada Karsono.
“Ni, lihat. Baru saja kita harapkan sudah datang. Kalau dengan hati jujur suci, bersih, ikhlas, nasib pun akan kandas. Ini lima juta!  Untukmu semua supaya bisa pulang. Ini!”
Amat mendorong amplop itu pada Karsono. Tapi lelaki itu tiba-tiba pucat pasi. Tangannya gemetar. Mendadak ia bersimpuh lalu memeluk kaki Amat.
“Tidak! Ampun! Ampun! Aku tidak bisa menerima ini! Jangan, ini bukan gotong-royong!”
“Kenapa?”
“Aku kualat! Aku keblinger!”
Karsono mau kabur. Amat memegang dan menggenggamkan amplop itu ke tangannya!
“Jangan, ampun! Biar aku mati! Keluargaku menunggu, aku janji pulang bawa duit. Sudah 3 tahun aku gelandangan di sini!”
“Makanya jangan hancurkan perasaan keluargamu. Kami masih bisa hidup di sini tanpa duit itu, kalau  itu bisa menolong keluargamu, kami bangga! Aku tahu semua dikabari anakmu. Ambil dan cepat masuk rumah sakit, sekarang banyak anjing kena rabies!”
Amat memaksa memasukkan amplop itu ke saku Karsono. Karsono berteriak panik mendorong Amat hingga tejerembah jatuh bersama amplop yang menaburkan lembaran seratus ribuan ke tubuh Amat.
Karsono bebas. Ia mengambil jarak, menjauh beberapa langkah.
Sorry, Mat! Terima kasih sudah menarikku nyadar.  Aku sudah memanipulasi gotong-royong bertahun-tahun, sekarang aku tobat!”
Ia membuka perban kakinya yang digigit anjing. Lalu melemparkanya.
“Aku tidak pernah digigit anjing. Aku kualat! Aku tobat!”
Karsono berbalik dan kabur.

To Top