Goro Goro

BK (5)

Di tempat tidur Bu Amat mengecam suaminya.
“Baik itu memang baik. Tapi terlalu baik itu tidak baik, Pak. Apa saja  yang terlalu itu jelek! Tidak mendidik! itu sebabnya kenapa kata terlalu itu diciptakan! Jangan suka over acting, Pak! Pak Made itu, tambah merajalela kalau Bapak terlalu baik. Dia pikir kita takut”
Amat tak menjawab sepatah pun.

“Bapak memainkan ungkapan diam adalah emas,” kata Amat menceritakan kejadian itu pada Ami.
“Kalau kereta Shinkansen, kereta cepat di jepang, lewat, tak peduli salah atau benar, kita harus minggir. Mengalah tak berarti kalah. Tapi hanya menunda menang! Itu teori taichi. Kalau dipukul, jangan melawan, terima baik saja serangan itu, malahan ikut  bantu agar itu bisa menggebrak lebih dahsyat. Tetapi diam-diam, belokkan arahnya  ke target lain, bahkan jangan ragu-ragu balikkan serangan itu ke kandangnya sendiri?”
“Dan hasilnya?”
“Dan hasilnya…”
“Bapak digebrak dobel oleh Pak Made dan ibu!”
“Salah! Dan hasilnya, pagi-pagi buta ibumu sudah ke dapur, untuk bikin jajanan pasar, sumping, nagasari, pisang rai, untuk dibawa menengok Bu Made yang semalam konon trambositnya turun gara-gara ibumu berteriak: Bung Karnoooo!”
Ami heran.
“O,ya? Masak ibu malah bikinin Bu Made pisang rai ?!”
“Ya! Itulah ibu kamu. Seperti kata Bung Kar (so)no, musuh itu sparring partner, jadi tak cukup hanya minta maaf, apalagi pada tetangga bersebelahan dinding, tak cukup hanya dengan ucapan. Maaf harus ada bukti konkrit, kata ibumu yang kemudian memaksa Bapak mendampinginya mengantarkan pisang rai itu untuk Bu Made yang kena DB. Padahal sejatinya bukan DB tapi hanya telat minum kopi, plus…”
“Plus apa?”
“Plus Bapak terpaksa menjelaskan lagi kepada Bu Made kenapa kami ujug-ujug datang membawa pisang rai. Dan… ”
“Dan apa?”
“Dan itu berarti Bapak juga tepaksa sekali lagi mengulangi pekerjaan yang paling bikin hati keki!”
“Pekerjaan apa?”
” Ya itulah! Bapak yang sedikit pun tak salah harus minta maaf lagi pada Pak Made yang nampak suci padahal pembohong, suka jahil, ngadu domba, memfitnah, menghalalkan segala cara, hoax, karena mau menang sendiri, padahal jelas salah! Mbok terus-terang saja kalau mau minta dibikinkan pisang rai, ya minta saja, kita kan tetangga, masak kami tega menolak! Pakai ngaku-ngaku istri DB segala!”
Ami ketawa.
“Itu namanya lihai, Pak! Kan politikus!”
“Pakai ngaku-ngaku istrinya DB segala lah, ya akhirnya DB betulan sekarang!”
Ami terkejut.
“Ah! Jadi betul DB?”
“Tadi ada kabar hasil pemeriksaan darahnya positif DB!”
Ami kaget.
“Bapak dan ibu kamu langsung nengok ke RSU, gotong-royong, ngasih sumbangat duit sedikit, meskipun itu tadinya untuk beli beras. Jadi sekarang Bapak terpaksa datang merongrong kamu, pinjami dulu berapa begitu untuk makan saja. Besok rumah gadainya sudah buka lagi, nanti sepeda ontelnya Bapak gadaikan dulu.”.
Ami cepat masuk, lalu kembali membawa dua lembar ratusan ribu.
“Ini dulu. Nanti kalau Bli Sugi datang tak anterin tambahannya. Bapak cepet pulang supaya ibu bisa masak. Ini cukup?”
Amat menjawab lemah.
“Cukup tak cukup harus dicukup-cukupkan. Soalnya…”
“Soalnya apa?”
“Waktu pulang dari nengok Bu Made, ternyata di rumah ada Bung Kar(so)no. Dia minta ongkos pulang ke Jawa, kasihan kakinya dibebat.”
Lho kenapa?”
“Katanya, malam itu, karena dia takut telat nonton Koetkoebi, dia lari, lalu digigit anjing.”

To Top