Woman on Top

“Serve With Love”

Salam Senyum

Kalau diminta untuk memilih kata serve atau love, kita cenderung akan memilih love. Selain kata ini sudah sangat familiar di telinga kita, arti kata love ( cinta ), tentu akan membuat orang bahagia, tersenyum, dan memainkan perasaan seakan  berbunga-bunga. Sedangkan, kata serve ( melayani ), lebih condong kepada pekerjaan, menyajikan, dan cenderung dianggap derajatnya lebih rendah.

Hidup di era serba digital, modern, milenial, generasi Z dan hal-hal kekinian lainnya, layanan dianggap sebagai hal yang tetap favorit untuk dibicarakan. Hadirnya teknologi juga merupakan sebuah layanan. Tentu tujuannya adalah untuk mempercepat dan mempermudah  proses dari layanan itu sendiri.

Membahas tentang layanan, tentu tidak terlepas dari 3 hal. Yang pertama adalah orangnya, kemudian premisesnya, dan terakhir prosesnya. Teknologi termasuk kategori yang terakhir yaitu prosesnya. Sedangkan premisesnya lebih kepada fasilitas pendukung, seperti kenyamanan tempat, bangunan dan sarana pendukung lainnya. Bagaimana kalau orangnya? Inilah sebagai cerminan utama dari sebuah layanan.

Secanggih apapun teknologi, akan tetap berhubungan dengan manusianya. Karena yang kita layani adalah manusia, mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Yang mempunyai akal, budi, pikiran dan perasaan. Maka, ketika kita sebagai pelaku layanan, hal inilah yang mendasari. Bahwa kita melayani tentunya dengan perasaaan, memakai hati. Dan inilah pondasi untuk melakukan layanan dengan memakai kata cinta.

Ketika kita mulai dengan kata cinta dalam layanan, tentu yang pertama adalah bagaimana memparadigmakan para pelanggan itu dengan benar. Paradigma layanan yang sering kita dengar adalah pelanggan itu sebagai raja atau pelanggan itu adalah sebagai bos. Paradigma layanan seperti ini akan cenderung membuat pelaku layanan ketakutan, tertekan, dan hal-hal yang membuat para pelaku layanan kurang nyaman dalam bekerja. Mereka akan cenderung hanya melakukan layanan sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedure). Dan, ini akan melahirkan para pelaku layanan seperti robot. Mereka benar melakukan, namun hanya sebatas melaksanakan tugas, tanpa jiwa, tanpa rasa.

Kemudian paradigma pelanggan apa yang dapat membuat para pelaku layanan tercerahkan? Kalimat yang tepat untuk sebuah paradigma pelanggan adalah dengan memparadigmakan pelanggan itu sebagai seorang ‘sahabat’. Kenapa harus sahabat? Karena melayani sahabat itu bicara tentang hati, perasaan, adanya kecocokan, tanpa pamrih, friendly, dan antusias. Dan hal-hal positif yang tertanam. Jika Anda sebagai pelaku layanan, mari mulai paradigmakan pelanggan anda sebagai sahabat untuk layanan terbaik Anda.

Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan/instansi Anda memahami dan melakukan  hal tersebut di atas? Materi ini juga  terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy  dengan judul  ‘Serve With Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya,  seperti ‘Good Communication For Good Perfomance,’ ‘Great Personality,’ ‘Upgrade Your Selling Skill’  dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/instansi Bapak/Ibu ? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu.

 

Salam 3SP

Salam Senyum Sang Penyihir

Sri Sumahardani

srisumahardani3sp@gmail.com

www.srisumahardani.com

 

 

To Top