Sekitar Kita

”Dalem Munduh”,  Salah Satu Jejak Penting Sejarah

Keberadaan, asal-usul serta sejarah Dalem Munduh, barangkali tidak banyak yang tahu. Pura  yang terletak di kawasan sebelah Barat kuburan/setra Desa Adat Beng serta Desa Gianyar ini, sejatinya menyimpan arti  penting perjalanan historis  Kota Gianyar, atau setidaknya keberadaan Pura Dalem saat ini yang disungsung masyarakat dua desa adat ini.
Apalagi saat digelar Karya Agung Dirgayusa Bumi di Pura Dalem Beng serta Gianyar ini, Pura Dalem Munduh merupakan salah satu lokasi dimana karya itu dilaksanakan. Selain di Pura Dalem sendiri serta Pura Prajapati. Puncak Karya Agung ini dilakukan pada Rabu (14/8) 2019.
Pura ini hanya memiliki satu pelinggih. Di areal Pura yang ukurannya sekitar 6  X 6 meter itu, selain  palinggih juga ada sebuah pohon kamboja dan lontar. Selebihnya tidak ada.
Pura ini memang sejak dulu ada, tetapi sepertinya tidak kelihatan karena areal kuburan yang luas serta rindang oleh pepohonan. Bagi masyarakat yang memang sudah biasa sembahyang di sini, tentu sudah tahu.
Keberadaan fisik pura ini semakin jelas ketika ada penataan kuburan oleh pemerintah serta krama desa adat. Di samping Pura terdapat sebuah Sekolah Dasar. Jadi, cukup ramai. Apalagi sebelah menyebelah ada jalan yang ramai  lalu lalang kendaraan.
”Kapan pura ini dibangun? Tidak ada yang tahu persis ,” ujar Bendesa Adat Beng, Ida Bagus Putu  Bawa. Yang jelas, sebelum ada Dalem Munduh, ada Pura Dalem Baka yang disungsung oleh masyarakat Banjar Ambengan. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal masyarakat Desa Beng sekarang.
Pada suatu ketika, daerah warga dilanda wabah semut. Entah darimana datangnya, kawanan semut ini menyerang warga. Warga yang ketakutan serta kelimpungan kemudian mengungsi ke daerah Alas Bengkel dan meminta perlindungan di sana. Semua harta benda yang masih bisa dibawa, dibawa.
Raja yang memerintah pada saat itu, menitahkan  agar dibuatkan sebuah Pura  Dalem setra sebagai pengganti Dalem Baka yang ditinggalkan. Kemudian dibangunlah sebuah pura dengan satu palinggih di daerah Subak Munduh. Karena dibangun di areal  Subak Munduh, maka pura ini dinamakan Pura Dalem Munduh.
Lama kelamaan, cerita Gus Aji Bawa yang juga seorang dalang ini, karena jumlah masyarakat bertambah, maka kemudian Raja Gianyar memanggil puruhita serta bhagawanta istana untuk meminta masukan serta nasehat. Saat itu, raja  yang sudah memindahkan kerajaan dari Alas Bengkel ke Gianyar (Griya Anyar), menitahkan agar dibuatlah Pura Dalem. Saat itu, puranya ada dua yakni Dalem Menak dan Dalem Jaba.
”Juga tidak ada tanggal serta  tahun kapan pastinya pembangunan ini,” cerita Gus Aji Bawa. Yang jelas lanjut dia, semangat serta solidaritas kedua masyarakat desa adat yakni Beng serta Gianyar kemudian menyatukan kedua pura itu menjadi satu: Pura Dalem. Yang kemudian melaksanakan Karya Agung pertamanya pada 1966. Kini setelah 53 tahun berlalu, karya agung yang intinya sama dilakukan lagi. (BTN)
To Top