Goro Goro

BK (4)

“Apa Kabar, Pak Amat?”
“Baik, Pak. Bapak?”
“Alhamdulillah, baik. Bagaimana,aman, kan?”
“Aman, Pak. Soalnya MK kan sudah memberikan keputusan yang sudah diterima baik kedua belah pihak. Jantungan saya akan terjadi keos, juga sudah berhenti. Silakan masuk, Pak.”
“Terima kasih. Ini kebetulan ada janji, nanti takut terlambat. Tadi di pertigaan aku lihat ada pohon dapdap.  Jadi ingat, lho ini bukannya jalan dapdap ke rumah Pak Amat. jadi coba-coba mampir. Rumahnya masih sama, tapi ragu-ragu sedikit manggil-manggil, takut kecewa sudah ditempati orang lain. Syukur alhamdulillah masih Pak Amat. Lagian kelihatan awet muda. Seneng aku!”
Amat ketawa.
“Ha-ha-ha! Masih tokcer  Pak, kenapa mesti berubah. Tapi silakan masuk, dingin di luar. Silakan ….”
“Sudah nanti aku telat pokoknya yang penting semangatt!”
“Siap, Pak, semangat seperti banteng Kedaton, meskipun cuma jadi penonton!”
“Vivere vere coloso!”
“Harus, Pak!”
“Maju terus pantang mundur!!”
“Siap, Pak! Onword no retreat!
“Bagus! Encok?”
“Berkat Orhiba sudah rapi lagi, Pak!”
“Rezeki?”
“Merayap lambat tapi tetapi bukan macet, Pak!”
“Nafkah batin?”
“Apa, Pak?”
“(bahasa isyarat)”
Amat ragu.
“Maaf, apa Pak, saya agak gaptek bahasa tubuh,”
“Seks!”
“Ooo, itu! He-he-he!”
“No problem, kan?”
” Anu, Pak! Sepeda ontelnya memang sudah tua, tambah bautnya copot  dua, tapi tetap perkasa, Pak”
“Bagus!”
“Hanya …”
Lho,lho, hanya apa lagi?”
“Itu lho, kipernya suka angot-angotan, Pak. Kalau nonton sinetron baru semangat! Giliran tugas negara bendera setengah tiang terus! Payah! Hi-hi-hi!”
Ah itu akting, Bro!”
“Masak? Bapak juga begitu dulu? Ah?  Atau kebalikannya? Batereinya low bat melulu?”
“Hus!”
“Ha-ha-ha-hi-hi-he-he-he!”(Langsung batuk keras).
“Hayo, hayo, otak kamu masih tetap nmgeres saja meskipun sudah manula!”
“Intermeso, Pak. Apa daya, itu sudah kepribadian, Pak! Ua ha-ha-ha. Ketawa kan bikin awet muda, Pak! Ya,kan, Pak?”
“Salah! Yang bikin awet muda itu berjuang!”
“Setuju! Hebat Bapak masih terus berkobar-kobar! Apa resepnya, Pak?”
“Hanya satu!”
“Apa itu, Pak?
“Persatuan! Ekasila! Gotong royong!”
“Tapi bagaimana bisa bersatu, berekasila, bergotong-royong, kalau (berbisik)”
“Apa?”
“Bagaimana bisa gotong-royong kalau tetangga sebelah maunya main biola terus. Tak peduli siang bolong, malam buta atau subuh maunya gesek-gesek perbedaan terus! Lebai! Aku laporan ini! Bete aku Bung!”
“Jangan, Mat. Jangan! Sabar! Itu dialektikanya revolusi yang belum selesai. Itu romantlka perjuangan hidup damai dalam berbeda. Konflik adalah vaksin untuk melatih ketahanan mental. Jangan disesali atau dibenci, tapi justru harus disyukuri! Karena gesekan itu yang akan membuat kamu melihat apa yang tidak kamu lihat, tapi  terlihat oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya! Jadi itu rachmat, karuniNya yang harus kamu syukuri!!”
“Paaaaak!! Siapa, Pak?”
“Maaf, Pak, itu kipernya pasti mau minta dikerokin. Maaf sebentar.”
Amat bergegas masuk.
“Apa, apa sih, Bu? Teriak-teriak kayak orang kesurupan! Apa?”
“Siapa itu?”
“Bung Karno.
Bu Amat kaget.
“Siapa?”
“Bung Karno!”
Bu Amat berteriak kaget.
“Bung Karno? Kenapa tidak disuruh masuk? Saya kan masak sayur lodeh kesukaannya?! Bungggg!!!”
Bu Amat berlari keluar sembari teriak.
“Bung Karnooooo!”
Amat ngedumel
“Giliran Bung Karno pintu pun ditabrak, coba aku yang kebelet manggil, harus pakai proposal formal!”
Bu Amat masuk lagi.
Kok nggak ada? Bapak cipoa, ya?”
“Kali sudah kabur. Tadi bilangnya mau nonton pementasan tonil Koetkoebi, produksi Teater Selem Putih, arahan pimpinannya Putu Satriya Kusuma.”
” Bung Karno mau nonton karyanya sendiri?”
“Bukan Bung Karno Presiden pertama kita tapi Bung Kar(so)no yang dulu memainkan jadi Bung Karno dalam sandiwara “Indonesia Menggugat”. Kan Bapak waktu itu yang jadi orang Jepang!”
Bu Amat mengangguk.
“Dia memang bagus, bukan karena rupanya mirip Bung Karno, tapi karena dia tepat, akurat menyampaikan yang tersirat dalam  yang tersurat pada  pidato Bung Karno!”
Belum sempat Amat menjawab, pintu terbuka. Muncul Pak Made. Kelihatan tegang dan marah.
“Maaf, meski pun gugatan kami ditolak MK, tidak berarti sebagai tetangga kami tidak perlu lagi dihormati! Istri saya sedang kena DB mohon dengan segala hormat, jangan berteriak-teriak sudah larut malam begini nanti trombositnya terus turun!”
Amat dan istrinya kaget. Bu Amat hampir saja mau menjawab ketus, karena baru pukul 21.00 dan. Ibu Made bukan kena DB, hanya puruh alias pusing karena telat minum kopi. Untung Amat cepat menginjak kaki istrinya sambil minta maaf dengan sopan.
“Mohon maaf, Pak Pak Made, kami salah, tadi karena kaget, kami terlanjur berteriak karena teman kami Bung Karsono dikejar anjing. Semoga Ibu Made segera sembuh!”

To Top