Goro Goro

BK (3)

Ami tertawa ketika Amat menceritakan mimpi ibunya ketemu Bung Karno.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai pahlawan-pahlawannya,” kata Ami mengutip apa kata Pemimpin Besar Revolusi Indonesia itu.
Amat menatap putri semata wayangnya itu takjub.
Ah? Ami, kamu juga mimpi ketemu Bung Karno?”
Maksud Amat bercanda.Tapi Ami menjawab serius.
“O, ya dong, Pak! Harus! Itu kan …”
Amat jadi heran. Dengan geli ia menyela,
“Harus? Itu kan apa? Mimpi kan tidak bisa milih!”
“Bisa!”
“Kamu kok sekarang jadi aneh!”
Kok Bapak bilang aneh? Kan BK,  Penyambung Lidah Rakyat itu sudah berseru: Gantungkan cita-citamu setinggi langit!”
Amat ketawa.
“Apa hubungannya!”
“Bapak pikir saja pakai nalar. Mungkin tidak kita menggantungkan cita-cita setinggi langit?”
Amat tambah heran.
“Pertanyaanmu aneh!”
“Aneh bagaimana? Coba,  apa Bapak percaya bisa menggantungkan cita-cita setinggi itu? Setinggi pohon kelapa saja sudah terlalu tinggi dan tidak mungkin. Apa lagi setinggi langit yang bukan barang kongkrit itu. Langit kan hanya batas kemampuan mata kita melihat. Itu hanya ilusi, mustahil bisa dipakai menggantung. Apalagi cita-cita. Kalau cita-citanya mau bikin pabrik pesawat, misalnya! Mau digantung pakai apa?”
Amat ketawa.
“Ya, lucu, lucu! Tapi itu kan ungkapan hiperbola dalam bahasa, Ami, sebagai mntan guru bapak ahlinya pelajaran bahasa. Itu kan pelajaran bahasa di SMP! Maknanya, perumpamaan yang melebih-lebihkan biar masalahnya jadi jelas, gamblang. Seperti lihat kuman dengan mikroskop,  Ami!”
“Itu dia maksud Ami!”
“Itu dia bagaimana?”
“Gantungkan cita-citamu setinggi langit, maksudnya bukan menyuruh menggantung cita-cita! Memangnya jemuran?! Tapi itu maksudnya bercita-citalah tinggi, semaksimal- maksimalnya!Setinggi-tingginya! Sampai tak terjangkau! Sampai yang tak mungkin! Nah, Itu baru namanya cita-cita! Kata Bung Karno! Bercita-citalah agar NKRI menjadi negeri yang adil-makmur, aman-sentosa, aman-tenteram, kerta-raharja, gemah-ripah-loh-jinawi! Cita-cita harus besar, tinggi, seakan tak terjangkau, biar saja, tak apa, namanya juga cita-cita! Jangan bercita-cita hanya segede upil, seperti nasi jenggo atau kucing, seiprit-seiprit, itu namanya cuma mau setor muka, mau makan doang! Mau kaya kek, mau jadi pejabat kek, mau jadi caleg kek, mau berkuasa tok, itu namanya hanya cita-cita pribadi, egois! Cita-cita orang lapar, orang serakah, orang rakus, atau ambisius! Bukan cita-cita pemimpin! Ya, nggak, Pak?  Tak perlu pemimpin sekaliber Bung Karno untuk menyerukan cita-cita upil begitu itu. Kita semua juga sudah mengucapkannya paling tidak 3 kali sehari. Betul tidak, Pak?”
Ami ketawa oleh omongannya sendiri. Sedangkan Amat sebaliknya  kesal.
“Bapak mulai capek. Kok jadi aku yang dikuliahi si Ami? Padahal tadinya Bapak ke situ kan maunya curhat karena bete dikuliahi Ibu di rumah?!” kata Amat kemudian menceritakan perstiwa itu pada istrinya.
Bu Amat manggut-manggut saja.
“Jadi Bapak ke rumah Ami bukan mau nengok cucu, tapi cari kompensasi karena. di rumah sumpek?”
“Bukan begitu, tapi …!”
“Tapi begitu! Ngaku sajalah!”
Amat menjawab tapi ngedumel tak jelas
“Ami tidak bilang siapa sejatinya pemimpin itu?”
“Apa?”
“Ami tidak bilang sama Bapak, apa beda pemimpin sejati dengan pemimpin karbitan?”
“O, ya itu dia! Masa mantan guru yang pernah mengalami revolusi ini dia kasih ceramah. Masak Bapak lupa apa beda pemimpin dengan rakyat jelata. Apa? Beda orang besar dengan orang kebanyakan? Ya, apa? Orang besar mengucapkan bukan hanya yang terucap tapi terutama yang tersirat. Bapak jangan salah tangkap?”
“Terus Bapak jawab?”
Lho, salah tangkap apa? Bapak salah apa Ami?”
“Memimpikan wejangan para pemimpin. Itu bukan tempat yang tepat untuk berdialog! Berdialog dengan apa yang tersirat dalam pesan-pesan mereka, tidak perlu harus tidur dan mimpi, baru ketemu. Bukan begitu, Pak! Itu justru yang ditakutkan karena hasilnya bisa salah kaprah!”
“Salah kaprah. bagaimana?”
“Memancing datang penumpang liar yang bisa menyesatkan, menyelewengkan apa sebenarnya inti yang tersirat, dengan ikut campurnya berbagai kemauan, ambisi dan pamrih  yang bersangkutan. Sehingga tidak kecil kemungkinan akan masuknya tafsiran keliru yang memutar-balik, apa si itu istilahnya?”
“Memelintir!”
“Persis! Memelintir, yang akan menjebloskan kita semua merusak gagasan aslinya, seperti sudah banyak terjadi sekarang ini dalam banyak hal!!”
“Ami tidak bilang bertemu dan … ”
“Bertemu dan berdialog dengan para founding fathers kita, harus tanggap, bersih, cerdas, jujur, ikhlas menangkap yang tersirat, harus dalam keadaan sadar! Kita, Bapak, Ibu, saya, Pak Made, siapa saja, kapan  saya bisa bertemu dengan semua gagasan Bung Karno! Karena gagasan besar itu tak pernah mati. Selalu siap berdialog dengan kita. Tapi….”
Amat mendengar pintu diketok
“Tapi apa?”
“Tunggu, rasanya ada yang ngetok pntu!”
“Apa Ami tidak bilang… “.
“Tunggu!”
“Pak Amatt!!!”
Terdengar suara menyapa di pintu depan. Amat terpaksa memutus ceritanya. Dengan segan berdiri dan membuka pintu ke teras.
“Selamat malam, Pak Amat!”
“Ya, Tuhan, selamat malam, Bung Karno!”

To Top