Bunda & Ananda

Belajar Genggong Ajari Anak Latih Kesabaran

 

Genggong adalah alat musik khas Bali yang terbuat dari bambu dengan ukuran panjang 18-20 cm dan lebar 1,5 -2 cm. Alat ini memiliki bunyi yang khas dan unik. Cara memainkannya dengan menempelkan genggong pada bibir, sambil menggetarkan melalui tarikan tali. Teknik ini disebut teknik ngedet serta menggunakan metode resonansi tenggorokan untuk menghasilkan nada.
Genggong ini tercetus dari kreativitas seni yang sederhana seorang pemuda asli Pegok Sesetan bernama I Ketut Regen (Qakdanjur/kakek Danjur) memikat hati para sahabatnya dalam memainkan Genggong antara tahun 1930-an. Ketika itu, I Ketut Regen membentuk komunitas Genggong yang bertujuan menghibur diri, bersosialisasi, bertemu sapa hingga menjalin tali kasih dan cinta.
Namun demikian, seiring berkembangnya zaman yang sangat dinamis dan pengaruh budaya asing, Komunitas Genggong Pegok ini secara pelan-pelan redup menghilang selama puluhan tahun. Ditambah lagi dengan minat anak muda untuk mempelajari khasanah budaya sendiri mulai dilupakan.
Melihat kondisi tersebut, anak-anak muda Pegok berinisiatif merekonstruksi atau merevitalisasi seni genggong tersebut. Alhasil atas dukungan masyarakat Pegok, Seka Genggong Qakdanjur ditunjuk menjadi Duta Seni Kota Denpasar dalam Pesta Kesenian Bali 2019. Seka Genggong Qakdanjur secara resmi kembali dibentuk 10 Pebruari lalu.
Dalam pagelaran PKB, tampil seniman lokal dan internasional yang terdiri dari 45 penabuh dan penari dengan pembina tabuh dan tari, Made Agus Wardana atau yang dikenal dengan nama Bli Ciaaattt.

Uniknya, seni genggong kini mulai diajarkan pada anak-anak usai sekolah. Dalam pertunjukkan tersebut, ditampilkan lima siswa SD asli Pegok yang sudah menguasai seni genggong.
Menurut Agus Wardana, anak-anak yang belajar genggong dilatih kesabaran. Karena tak mudah untuk menimbulkan suara atau bunyi saat genggong dimainkan. “Dengan menempelkan genggong pada bibir, sambil menggetarkan melalui tarikan tali. Teknik ini disebut teknik ngedet serta menggunakan metode resonansi tenggorokan untuk menghasilkan nada. Memang awalnya, tak mau bebrunyi, tapi dengan kesabaran dalam berlatih, pelan-pelan mulai terdengar ada bunyi nada,” kata lelaki yang tinggal di Eropa ini dan pulang ke Bali dalam rangka liburan.
Made Agus Wardana mengatakan, di dunia alat musik sejenis genggong ini sering disebut Jew’s harp atau mouthharp (Barat), drumbla (Slowakia), khomus (Siberia), morchang (Rajasthan), karinding (Jawa Barat),dan kuriding (Kalimantan)

Salah seorang anak yang ikut bermain genggong, Delon menuturkan, saat menarik tali memegang peranan penting, karena kalau nariknya kurang bertenaga, tidak akan keluar suara,” katanya.
Lain lagi Mang Ardi. Ia sendiri belajar genggong sekitar 2 mingguan sudah bisa. Ia tertarik saja ikut belajar karena menurutnya seni genggong ini sangat unik. “Awalnya agak heran juga, kok bisa keluar bunyi nada. Setelah dicoba seru juga,” ucapnya sembari tertawa.
Ia mengatakan, untuk membunyikan alat musik ini, maka benang tersebut ditarik-tarik ke samping kanan agak menyudut ke bagian depan, namun tidak meniupnya. Rongga mulut hanya menjadi resonator saja, jadi dibesarkan atau dikecilkan rongga mulut tentunya harus disesuaikan dengan rendah tingginya nada yang diinginkan. “Memang melatih kesabaran,” imbuhnya.
Made Agus Wardana menambahkan, untuk bermain alat musik, kita harus mendengarkan musiknya secara intuitif. Nah, kemampuan untuk mendengarkan itulah yang memungkinkan mereka mengetahui memilih tangga nada atau irama yang tepat. Lalu apa keuntungannya bagi kegiatan sehari-hari? Ternyata, hal ini dapat membuat kemampuan mendengar kita jadi lebih baik. Kemampuan mendengar inilah yang menjadi kunci kesuksesan membangun hubungan sosial dengan orang lain. (Wirati Astiti)

To Top