Goro Goro

BK (2)

“Nah sekarang habis minum kopi bergula garam, bagaimana rasanya?”

Amat tersenyum.

“Lain kali jangan naruh garam dekat kopi”

“Kan ada tulisannya.”

“Tidak kelihatan!”

“Makanya biasakan nyimak sebelum bertindak.”

“Sudah jangan dibahas lagi!”

“Jangan suka keki sama Pak Made. Kita kan tetangga. Namanya juga beda kubu. Kalau beliau mancing-mancing ketawa saja. Kalau keki namanya kepancing. Sekarang masih keki?”

“Sudah plong!”

“Kalau begitu sekarang pijitin saya.”

“Sekarang?”

“Ya kapan lagi. Nanti keburu hilang pegelnya!”

“Kalau memang sudah mendingan rasanya buat apa dipijit lagi?”

“Kalau lagi pegel dipijit sakitnya enak. Tapi kalau tidak pegel dipijit itu jijai! Ayo, Pak, nanti tak kasih hadiah.”

Mata Amat berkilat.

“O, ya? Apa hadiahnya? Berapa kali?”

“Pijit dulu!”

“Siap! Ayo, mana kaklnya?”

Amat langsung duduk di lantai mau memijit kaki Bu Amat. Cepat Bu Amat mengelakkan kakinya.

“Jangan kaki, Pak!”

Lho, memang kenapa? Tadi katanya mau dipijit!”

“Malu! Nanti dilihat tetangga. Pagi-pagi sudah pijit-pijitan!

Lho apa salahnya? Kita kan suami-istri? Meskipun sudah tua!”

Lho ini masih pagi, di teras rumah lagi, memangnya …. ”

“Memangnya apa? O, jadi mau di kamar?”

“Memangnya saya ibu rumah tangga pemalesan yang suka memperbudak suami?!”

Amat ketawa.

“Tapi Bapak suka kok diperbudak istrinya!”

Bu Amat berdiri mengelakkan kakinya yang diraih Amat lagi mau dipijit. Tapi sudah terpegang. Bu Amat langsung menyapa ke samping.

“Aduuuh, mau ke mana Pak Made, pagi-pagi sudah ganteng sekali?”

Amat terkejut, melepas kaki istrinya, sambil mengintip ke bawah meja dan berseru heboh: “Mana, mana kucingnya, kan sudah ditabrak turis waktu Pemilu bulan April yang lalu?!”

Bu Amat ketawa. Amat berdiri dan menengok ke samping.

“Mana Pak Made?”

Bu Amat tak menjawab. Ia mengambil gelas kopi yang sudah kosong. Amat berbisik.

“Mana Pak Made?”

“Ya, mungkin masih tidur. Ini kan hari Minggu, Pak.”

Amat kecewa membuat Bu Amat   tertawa, lalu bergegas mau ke dapur. Amat ngedumel.

“Syukurlah aku berhasil lagi bikin istinya Amat tertawa lagi, jangan cuma nangis bombay gara-gara tidak dipijit. Tapi eee giliran kita siap, di situ kabur.”

Bu Amat muncul lagi.

“Kalau mau mijit nanti malam saja!”

Ah, pepesan kosong!”

Lho nggak mau? Ada upahnya lho!”

Amat menggumam.

“Upahnya apa?”

“Nanti kalau saya mimpi lagi ketemu Bung Karno, Bapak nitip pesan?!”

Amat tertegun, lalu menjawab ketus.

“Bungkam saja tetangga kita yang radikal itu! Hoaknya bikin kita senewen itu!”

Kok gitu, nanti saya laporkan Bapak sama BK tidak mau hidup damai dalam berbeda!”

Amat menoleh.

” Bu, Bung Karno itu orang besar. Sejarah kita! Dia berperan  membebaskan tapi juga menyatukan negeri kita dengan menggali Pancasila yang membuat Bhinneka jadi Tunggal Ika. Jangan…”

“Jangan apa?”

“Jangan dipakai guyonan!”

“Ini lanjutan mimpi saya tadi.”

Amat tercengang.

“Apa?”

“Kata Bung Karno, jangan takutkan perbedaan karena kita memang Bhinneka, dalam banyak hal, tapi yakinlah meskipun berbeda kita dalam kesatuan!”

Amat bengong.

“Itu kata BK dalam mimpi ibu?”

“Bukan, barusan tadi di dapur waktu saya bilang Bapak terus keki sama Pak Made yang kubunya beda dengan kita!”

To Top