Goro Goro

Bung Karno (BK)

Amat bangun pagi dengan terkejut. Ia buru-buru mandi, mengenakan pakaian bersih, lalu menyeduh kopi sendiri. Kemudian termenung lama di beranda sampai asap yang mengepul di atas gelas kopinya hilang.
Bu Amat yang mengintip kelakuan teman hidupnya dari celah pelupuk matanya yang masih bengkak karena menangis semalam, heran. Ia lupakan tubuhnya yang masih pegal, lalu mendekat. Diam-diam gelas kopi yang sudah dingin itu diangkatnya. Dibawa ke dapur untuk diganti yang baru.
Ketika ia kembali dengan gelas kopi yang masih mengepul, serta meletakkan di meja, Amat menyangka gelas itu mau diambil. Lalu berbisik.
“Sudahlah, Bu. Itu kesalahan Bapak. Anggap saja sebagai karma-pala.”
Bu Amat heran.
“Karma-pala apa?”
Amat menarik nafas panjang.
“Ya, semalam pikiran Bapak kacau sekali. Sebetulnya bukan tidak mau mijitin kaki Ibu. Bukan karena badan Bapak juga kaku semua habis kerja bakti membersihkan halaman. Hanya karena masih sakit hati dengar ngeong kucing di sebelah itu!”
“Kucing? Kan kucing Bu Made sudah ditabrak turis waktu Pemilu kemaren?”
“Kucingnya memang sudah mati! Tapi bosnya masih terus berkoar. Masak dia terus bilang, ini semua salah BK!”
“BK siapa?”
“Bung Karno!”
“Ooo! Memangnya Pak Made sudah bilang apa?”
“Di bilang,  Pak BK sudah percuma buang-buang waktu berkoar-koar pidato tok, mengkampanyekan revolusi belum selesai, revolusi belum selesai, sampai lupa membangun negeri! Coba dengarin apa kata BH!”
“Siapa BH?”
“Ah ibu ini suka bloon kalau diajak bicara politik. Makanya jangan cuma nonton sinetron dan siraman kalbu di TV. Apresiasi sedikit politik biar paham peta NKRI sekarang.”
“Ya, sudah jangan ngomel terus, minum dulu kopinya nanti dingin!”
“Nggak usah! Masak kucing itu bilang… .”
“Kucing?”
“Pak Made suaminya Bu Made sekutu ibu cari kutu, itu! Masak dia bilang, coba kalau dulu BK mau dengerin BH bahwa revolusi sudah selesai, perang sudah kita menangkan, kemerdekaan sudah kita rebut, tinggal evolusi, membangun dan membangun, hanya membangun, kerahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk membangun, pasti tidak usah menunggu sampai 74 tahun, baru punya MRT! Bukan cuma di Jakarta tapi di Bali juga! Lihat sekarang entah kapan kita bisa mencicipi ikut naik MRT di Bali kalau revolusi tak pernah selesai Maunya berantem terus! Sudah jelas kalah, terus saja ngotot mau menang! Sebel, sebel aku!”
Bu Amat mulai mengerti, lalu tersenyum.
“Jadi Bapak ini keki ya?”
“Bukan keki lagi, bete! Makanya Bapak tidak mau mijitin. Tapi begitu saja Ibu kok sudah nangis?”
Bu Amat ketawa.
“Saya tadi malam menangis, bukan karena Bapak tidak mau mijiin, tapi ….”.
“Tapi apa?”
“Tapi karena saya habis mimpi ketemu Bung Karno!”
Amat tercengang.
“Ketemu BK? Masak?
“Ya! Beliau bilang, banyak orang salah paham tentang revolusi! Mereka mengira revolusi itu hanya perubahan, pengerombakan, penjungkirbalikkan jasmani, revolus yang aku maksudkan adalah revolusi total, jasmani dan rohani. Kemerdekan fisik sudah kita rebut pada 17 Agustus 1945, tapi mental kita rohani kita masih dijajah! Itu harus kita merdekakan tuntas! Itu sebabnya aku bilang Revolusi Indonesia belum selesai!”
Amat terpaku. Tak peduli itu mimpi atau bukan. Tapi ia seperti dihujani siraman moral. Bu Amat tersenyum, lalu mengambil gelas kopi dan mengulurkan pada suaminya.
“Minum dulu kopinya, nanti sakit kepala!”
Amat menggeleng. Bu Amat heran.
“Kenapa?”
“Tadi Bapak salah waktu bikin. Dikira gula ternyata garam.”

To Top