Sekitar Kita

Pameran Tunggal Djaja Tjandra Kirana Sajikan Karya Rupa Silang Budaya Lintas Bangsa 

Perupa Djaja Tjandra Kirana memamerkan l9 karya seni rupa yang mengusung konten akulturasi budaya lintas bangsa dalam pemeran tunggal bertajuk “Culture in Colours” di Santrian Gallery Sanur, 28 Juni hingga 9 Agustus 2019. Pameran akan dibuka Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, Jumat 28 Juni.

Pengamat seni rupa Wayan Redika mengenal Tjandra tahun 1990an. Dengan kehadiran Tjandra di Sanggar Kamboja memberi warna yang sangat jelas di sana. Sanggar Kamboja masih dogma dengan seniman tertutup. Sementara Tjandra termasuk seniman terbuka. “Mungkin yang menyebabkan iklim sehingga tahapan kekaryaan agak liar. Tjandra banyak dipengaruhi era seniman baru atau kawan muda bergaul dengannnya sehingga terjadi alkturasi kreatif. Memadukan ikon budaya lintas negara dan menjadi ikon perupa lintas kreatif.

Menurut Redika ia melihat seniman lain banyak stagnam sangat beda dengan Tjandra. Walaupun usianya sudah 75 tahun. “Pergaulan bebas membuat karyanya lebih berwarna sesuai dengan tema pamerannya warna kebudayaan,” kata Redika. Komposisi yang mengikat dua negara Indonesia dan Tiongkok, Bali dan Cina.
Redika menambahkan, Tjandra memadukan seni menarik perhatian dijadikan satu karya rupa. Karena pikiran terlalu liar sehingga tak mudah. Tjandra mencoba melakukan itu.

Redika sering mengajak Tjandra pameran di luar negeri. Tjandar selalu membawa kamera bahkan 3 kamera. Ini kemudian bisa jadi kreatifitasnya. Tjandra ingin mengikat seni rupa dan foto. Menurut Redika, Tjandra layak menjadi panutan anak muda.

Djaja Tjandra Kirana lahir di Denpasar 29 Juni 1944. Awalnya belajar melukis sendiri sejak masih di sekolah dasar. Pada 1963 memulai karir sebagai fotografer sambil tetap menikmati kegiatan melukis. Sejak 1985 menunjukkan eksistensinya di bidang seni lukis dan menjadi anggota sejumlah komunitas perupa.

Tjandra serba bisa, bisa menggunakan cat minyak, cat air, dan akrilik. Ia juga bisa melukis di kanvas dan ricepaper.
Ia menilai, budaya Bali banyak dipengaruhi budaya Cina. Ia tuangkan dalam lukisannya seperti Barongsai berubah menjadi barongket. Ia berharap, seniman Bali bisa melukis dengan baik dan bisa sejajar dengan seniman Cina.

Tjandra mengatakan, parnerannya kali ini merupakan kelanjutan dari pertanyaan yang sering muncul di benaknya: kenapa di usia semakin tua semangat untuk menciptakan karya seni justru semakin menggelora.

“Tak ada yang bisa saya yakini atas sejumlah jawaban yang menghampiri. Di tengah suasana seperti itu, ketulusan sikap dan keiklasan mengikuti jejak pikiran untuk berkarya adalah jawaban sementara yang boleh saya yakini,” katanya, dalam jumpa pers dengan awak media, Rabu 26 Juni.

Menurut Tjandra, wacana kesenian akan bermuara pada karya visual. Melalui karya seseorang bisa digugat, disanjung, dan dipuji sebagai sebuah pencapaian.

Meski demikian, ia tak terlalu hirau dengan sesuatu yang terjadi setelah karya terselesaikan. Biasanya itu hanya menjadi refleksi Visual untuk menggugah proses penyempumaan karya berikutnya.

“Bagi saya lebih penting mengemban ketulusan hati dan meneguhkan sikap dan semangat untuk terus berkarya,” tutumya.

Keyakinan ini membuat Tjandra jenak berada di ruang kesenian, dengan kesederhanaan mengeksplorasi daya pikir untuk selalu mengikuti jejak perkembangan seni rupa yang pesat mengglobal. Pameran demi pameran di dalam maupun di luar negeri, selagi ada kesempatan tak pernah ia lewatkan.

la sangat mensyukuri perjalanan kehidupan memasuki usia 75 tahun pada 29 Juni 2019 dan menyiapkan karya untuk pameran ini.

Dalam pameran tunggal yang ke-8 ini, Tjandra masih setia pada keagungan budaya Tanah Air yang dikembangkan menjadi kebudayaan lintas bangsa. “Culture in Colours”.

Memaknai banyak peristiwa budaya lintas generasi, banyak kisah-kisah Bali di masa lampau yang ia simpan di kanvas sebagai karya seni. Hal serupa juga ia dokumentasikan dalam fotograli, subkesenian yang lain yang ia geluti sampai sekarang. Membaca Bali, temyata tak bisa dilepaskan dengan akulturasi yang tenjadi akibat gesekan dan kedatangan imigran bangsa lain yang juga menambah khazanah kebudayaan di Bali.

Tjandra menjelaskan bahwa akulturasi dan perkembangan silang budaya, khususnya kebudayaan bangsa lain, seperti China, India, Arab dan lainnya secara khusus ia cermati. Hal itu melekat dalam sejumlah karya yang dipamerkan saat ini.

“Semoga pameran ini mampu memberikan narasi visual yang mencerahkan dalam melengkapi wawasan kebudayaan yang tak terpisahkan dalam berkesenian,” katanya.

Budayawan Dr. Jean Couteau melalui esai dalam katalog pameran mengungkapkan kejelian Tjandra menangkap bauran budaya dari tanah leluhumya, China, dan Bali, tempat ia lahir dan dibesarkan. Misalnya, dalam lukisan yang menggambarkan perjumpaan barong Bali dengan barongsai Cina dengan mural latar belakang yang menampilkan penari wanita Bali dengan gaya kemasan.

Sementara menurut Tossin Himawan, Tjandra seorang seniman multitalenta. “Selain tekun melukis, ia juga piawai fotografi yan menyabet sejumlah gelar juara termasuk menjadi juri Salon Foto Indonesia,” kata Tossin.
Tjandra juga mendapatkan pengakuan internasional seperti ARPS di Inggris tahun 1984, Thailand serta PSA dari AS.

Sementara menurut Pemilik Santrian Gallery Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan sangat bangga memamerkan karya Tjandra. Di usianya yang sudah senja tetap bersemangat berkesenian dan ini sangat bagus untuk motivasi kepada para seniman muda. “Kami juga memohon dukungan para pecinta seni agar galeri ini tetap konsisten memamerkan karya seni rupa untuk mewadahi kreativitas para seniman,” ujarnya. (Wirati).

 

 

To Top