Buleleng

Penghargaan Wija Kusuma untuk Lima Seniman dan Budayawan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng kembali menganugerahkan Penghargaan Wija Kusuma kepada lima orang seniman dan budayawan yang berjasa di bidangnya. Kali ini, penghargaan di bidang seni dan budaya itu masing-masing diberikan kepada Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang, Rokhim B.A.E (Alm), Gede Mendra (Alm), Jro Made Sariani, dan Made Gelgel, M.Si.

Penghargaan yang diberikan serangkaian dengan acara penutupan Pesta Kesenian Bali Kabupaten Buleleng ke-41 itu, diserahkan langsung oleh Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, di Singaraja pada Selasa (21/5) malam.

Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang merupakan budayawan yang juga seorang sulinggih dari Griya Budha Bang Kawiswara, Desa Bungkulan. Dia dikenal sebagai tokoh yang membangkitkan kejayaan Hindu. Karena perannya, Agama Hindu bisa diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah RI.

Rokhim B.A.E (alm) adalah seniman arsitektur asal Kediri, Tabanan. Dia berjasa dalam membuat landmark Kota Singaraja, yaitu Tugu Singa Ambara Raja, yang saat ini masih berdiri kokoh tepat di depan Kantor Bupati Buleleng. Tugu itu diresmikan pada 5 September 1971 oleh Bupati Hartawan Mataram.

Dari bidang seni karawitan, Gede Mendra (alm) terpilih meraih penghargaan Wija Kusuma tahun ini. Seniman asal Kelurahan Paket Agung, Buleleng ini dikenal sangat piawai dalam bermain kendang. Dia disebut-sebut sebagai pesaing dari mestro Gde Manik dan Ketut Mredana dalam setiap pementasan Gong Mebarung pada jamannya.

Berkiprah  dalam seni drama gong sejak tahun 1980, Jro Made Sariani akhirnya dianugerahi penghargaan bergengsi itu. Sebagai seniman drama gong yang tergabung dalam sanggar Puspa Amon, dia pernah berperan sebagai Ing Tay, dalam kisah Sampek–Ing Tay, suatu kisah percintaan dari Negeri Tiongkok.

Adapun Made Gelgel merima penghargaan dalam bidang Seni Sastra Daerah. Dia dikenal sebagai penulis buku-buku kidung Bali. Selain itu, dia juga aktif sebagi juri dalam beberapa perlombaan yang berkaitan dengan sastra Bali, mewirama, maupun lomba nyastra Bali lainnya.

Kepala Dinas kebudayaan Kab.Buleleng Gde Komang mengungkapkan, beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan tokoh-tokoh penerima penghargaan Wija Kusuma, diantaranya lama pengabdian, pengabdian dalam seni-budaya yang terus menerus, sebagai pelopor di bidang seni dan budaya, serta sebagai pelaku langsung dalam praktek seni dan budaya.

Lebih lanjut dikatakan, penerima penghargaan Wija Kusuma ini tidak terbatas pada seniman yang berkecimpung dalam bidang seni tari atau tabuh semata, tetapi mencakup kesenian dan kebudayaan dalam arti yang lebih luas. “Namanya budaya itu kan luas sekali pemikirannya. Misalnya, nenun (tenun) juga budaya, bikin songket, tarian, sastra, dan karawitan juga budaya.  Banyak sekali bidang budaya itu,” ungkapnya.

Gde Komang berharap kepada seniman atau budayawan yang menerima pengahrgaan dan masih ada saat ini agar terus memberikan masukan terkait dengan pengembangan seni dan budaya di Buleleng.

Sementara itu, Bupati Agus Suradnyana menyampaikan apresiasinya atas dedikasi yang diberikan oleh para seniman selama ini, khusunya bagi kemajuan pengembangan seni dan budaya di Buleleng. Dirinya berharap, nantinya ada tokoh-tokoh lain yang juga dapat diberikan penghargaan serupa selain dalam bidang seni dan budaya, misalnya di bidang lingkungan dan lainnya.

Pada penyerahan Penghargaan Wija Kusuma  itu para penerima diberikan piagam, Lencana yang terbuat dari emas dengan pahatan Ciwa Natha Raja senilai Rp 7,5 juta, serta uang pembinaan sebesar Rp 5 juta. (Wiwin Meliana)

 

To Top