Edukasi

Edukasi sejak Dini, Kurangi Pencemaran Laut

Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi pencemaran laut. Salah satunya dengan kegiatan bersih pantai. Kegiatan ini perlu sering dilakukan dan melibatkan berbagai komponen masyarakat, termasuk anak-anak SD. Selain bersih pantai, dilakukan pelepasan tukik oleh Sekda Kota Denpasar AA Rai Iswara bersama para undangan dan peserta.

“Pencemaran dan sampah plastik merupakan persoalan serius yang dihadapi Indonesia. Tercatat sebanyak 1,29 juta metrik ton sampah per tahunnya disumbangkan Indonesia ke lautan. Mari kita jaga kebersihan pantai dan laut sedini mungkin. Dengan melibatkan anak-anak SD akan menggugah mereka sejak kecil untuk menjaga kebersihan pantai dan laut,” ujar Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Muhammad Yusuf, di Pantai Mertasari, Sanur, Jumat (10/5).

Yusuf menambahkan lebih dari 250 juta km2 wilayah lautan terdampak pencemaran. Mayoritas sampah yang terdapat di lautan berjenis plastik. Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik akan masuk ke laut dan mengalami proses pelapukan sehingga menjadi mikro dan nano plastik yang bisa merusak ekosistem pesisir. Mikro dan nano plastik ini pun dapat termakan oleh ikan dan plankton yang akhirnya dikonsumsi oleh manusia.

“Kalau ikannya makan plastik, nanti kita yang makan ikan akan terimbas. Karena itu, mari kita bersama-sama jaga kebersihan laut,” tegasnya. Ia mengingatkan juga tentang 5 tahapan pengurangan sampah plastik, yakni re-think, refuse, reduce, reuse, dan recycle.

Dalam acara International Coastal Clean Up (ICC) yang  merupakan kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Ocean Conservancy serta Breitling ini diharapkan menjadi ajang edukasi bagi generasi muda dan masyarakat agar semua ikut bertanggung jawab menjaga sumber daya di wilayah pesisir.

President Breitling Asia, Alvin Soon mengatakan kepedulian Breitling terhadap penyelamatan lautan dari sampah plastik bekerjasama dengan Ocean Conservancy sudah dilakukan sejak 2018. Tak hanya Bali, kegiatan sejenis sudah dilakukan di beberapa lokasi di dunia. “Inisiatif bersih-bersih di Bali ini merupakan kepedulian kami untuk penyelamatan lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu Director of Trash Free Seas Program Ocean Coservansy, Nicholas Mallos mengatakan jumlah sampah yang ada di lautan memang mengkhawatirkan. “Tahun 2018, kami melakukan bersih pantai dan berhasil mengumpulkan 9 ribu kilo sampah plastik. Ini baru upaya yang dilakukan oleh kami dalam sehari. Masih ada lagi organisasi lingkungan lain yang juga melakukan aksi kebersihan yang sama sehingga kami memperkirakan jumlah sampah plastik yang masuk ke lautan lebih banyak dari yang berhasil kita cegah lewat aksi bersih pantai,” ungkap Nick.

Menurutnya pemerintah dan masyarakat Indonesia termasuk komunitas yang ada memiliki kepedulian tinggi dalam penanggulangan sampah. Hal ini terlihat dari adanya kebijakan pemerintah dan upaya untuk mengurangi penggunaan produk plastik sekali pakai. “Kami terus bekerjasama dengan pemerintah dan organisasi lingkungan yang ada di Indonesia dan Bali untuk mengurangi sampah plastik. Kami berupaya untuk menangani persoalan utama yang menyebabkan sampah sampai di lautan,” tegasnya.

Dalam kegiatan yang melibatkan siswa, aktivis lingkungan, dan instansi pemerintahan ini, sejumlah surfer kenamaan juga berpartisipasi. Mereka adalah Kelly Slater, Stephanie Gilmore, dan Sally Fitzgibbons. (Ngurah Budi)

To Top