Sekitar Kita

Memaknai Keterhubungan Dalam Bentuk Seni Rupa

Seriyoga Patra (dua dari kiri) bersama para perupa dari Bali

Sebanyak 10 perupa melakukan pameran seni lukis di  Santrian Gallery Sanur 10 Mei s.d. 21 Juni.

Pameran yang akan dibuka Jumat (10/5) oleh pemilik galery, Ida Bagus Sidarta Putra ini menghadirkan   22 karya seni lukis dengan media cat akrilik di atas kanvas dan cat air di kertas. Tema pameran kali ini mengangkat judul Connectedness (keterhubungan).

Kurator Wayan Seriyoga Patra mengatakan, makna keterhubungan menjadi menarik untuk dimaknai. Apa yang melatarbelakangi lahirnya sebuah keterhubungan? “Hal yang mendasar, tentu ada rasa saling percaya dan mungkin rasa persaudaraan yang mengikat secara tak langsung, meskipun berbeda secara suku bangsa dan lintas kebudayaan. Perbedaan bukannya membatasi, justru menjadi landasan kesadaran untuk memahami satu dengan yang lain,” ujarnya.

Ia menyebutkan, judul ini beranjak dari pemikiran sederhana, yaitu niatan untuk menghubungkan berbagai praksis  seni rupa dari berbagai wilayah di Indonesia. Merupakan pengalaman pribadi setelah sekian lama berinteraksi dan menjalin komunikasi dengan pegiat seni rupa dari berbagai wilayah di Indonesia, membuat kami tergerak untuk lebih intens mengangkat makna dari sebuah hubungan.

Even ini menghadirkan para perupa terhubung satu dengan yang lain, dalam sebuah ruang pameran melalui karyanya. Ketakhadiran perupa juga tidak menjadi halangan, karena kehadiran karya justru adalah hal yang utama. Sebagaimana diktum Roland Barthes bahwa ketika sebuah karya terlahir dari rahim kreativitas perupa, sang pencipta dengan serta merta mulai surut ke belakang. Sang pengarah tak lagi punya kuasa penuh terhadap hasil ciptaanya.

Karya kemudian menjelma menjadi entitas baru yang siap untuk berada dalam silang pemaknaan dari berbagai apresiator. Karya dalam pameran menjadi   media pengejawantahan dari keterhubungan tersebut, dengan berbagai latar belakang perupa terbesit secara tersirat dan tersurat di dalamnya.

Yoga menambahkan, mungkin pameran ini belum bisa sepenuhnya merepresentasikan pemaknaan tema secara mendalam, pun juga dalam intepretasi penciptaan karya-karya perupa. Tetapi setidaknya gagasan ini sudah diluncurkan. “Pemaknaan atas keragaman perupa dan karyanya, serta keragaman lokus yakni dari Sulawesi, Kalimantan Selatan, Jawa Timur dan Bali akan menjadi sebuah diorama keberagaman kita yang terikat dalam Nusantara,” ujarnya.

Nama perupa yang ikut pameran, Ketut Suwidiarta (Bali), Ni Nyoman Sani (Bali), I Wayan Wirawan (Bali), Isa Ansori (Batu Malang), Suwandi Waeng (Batu Malang), Hery Catur Prasetya (Batu Malang), Manulah Nur Amala (Batu Malang), Faizin (Banyuwangi), A H. Rimba (Makassar), Akhmad Noor (Banjarmasin). (Wirati).

 

To Top