Sudut Pandang

Bangun Kreativitas Siswa Hadapi Tantangan

Pendidikan termasuk bagian dari investasi yang dilakukan orangtua untuk anaknya. Beragam cara dilakukan orangtua agar anaknya mendapat pendidikan yang layak sebagai bekal di masa depan.

Menurut Diah Wisnumurti, pendidikan sebagai investasi sudah semestinya dapat membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan, oleh karena itu pendidikan menjadi investasi utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ia menilai, pendidikan saat ini masih terjebak pada formalisme kurikulum dan para pendidik disibukkan dengan administrasi kependidikan sehingga pendidikan kita belum optimal dalam memberikan pengajaran. “Pembelajaran nilai yang sesungguhnya menjadi faktor kunci pendidikan yang membebaskan dan mencerahkan,” ujar istri dari Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali, AA Gede Oka Wisnumurti ini.

Dalam pandangannya, nilai seperti sikap dan prilaku yang harus diutamakan seperti memiliki karakter kejujuran, etika sopan santun, kreatifitas, inovasi dan kompetensi.
Ia berharap, ke depan dunia pendidikan harus berbenah dari sifatnya menghukum dengan beban tugas yang berat ke anak didik menjadi membebaskan atau mencerahkan. “Penekanan pada nilai integritas, disiplin, inovatif serta kompetensi bagi anak didik akan mampu membangun kreativitas siswa dalam menghadapi tantangan perubahan,” ujar Diah.

Sementara menurut Kadek Weisya Kusmiadewi,S.H., MKn., peranan pendidikan tentunya sangat besar dalam mewujudkan manusia seutuhnya, mandiri, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya. “Tidak heran jika orangtua melakukan segala cara untuk mendapatkan pendidikan yang kiranya layak bagi pembentukan karakter serta pengembangan diri untuk bekal masa depan putra-putri mereka,” kata politisi Partai Gerindra ini.

Walaupun, kata dia, masih banyak masyarakat yang mengeluhkan biaya pendidikan yang cukup tinggi. Ditambah lagi dengan sistem pendidikan masih sering berubah-ubah yang biasanya terjadi dalam setiap pergantian pemerintahan atau menteri. Karena harus memulai sistem yang baru, hal tersebut tentunya menambah kebingungan para orangtua dan para pendidik itu sendiri.

Ia menilai, sistem zonasi saat ini masih membuat para orangtua kebingungan dan merasa dipersulit untuk mencari sekolah putri-putri mereka. “Permasalahan muncul ketika zona yang didapat tidak sesuai dengan tempat tinggal sekarang karena yang digunakan adalah domisili yang tercantum di Kartu Keluarga. Putra-putri mereka mesti sekolah dengan jarak yang cukup jauh,” ucap istri Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Suyasa ini.

Kemudian, karena dirasa memberatkan, maka ada sebagian orangtua yang kemudian memindahkannya kembali ke sekolah yang lebih dekat jaraknya, setelah sudah berjalan satu semester. Tentunya, menurutnya, hal itu menambah biaya dan membebani. Ia menilai, dari peristiwa tersebut, sistem zonasi berjalan kurang efektif. “Pemerintah harus mendengarkan keluhan-keluhan dari masyarakat serta mengevaluasinya kembali, dengan harapan orangtua atau masyarakat semakin diberi kemudahaan dalam proses mendapatkan pendidikan yang berkualitas,” ungkap perempuan yang akrab disapa Dewi ini.

Ia menegaskan, pendidikan berkualitas menjadi tanggung jawab bersama, yaitu pemerintah, pendidik, dan orangtua. Dewi berharap, program-program beasiswa dari pemerintah harus diperbanyak dan merata sampai ke pelosok negeri. “Peran pendidik, mesti lebih kreatif dalam memberi motivasi yang bertujuan untuk meningkatkan kegairahan dan pengembangan-pengembangan kegiatan belajar siswa. Sedangkan orangtua berperan mengawasi, mendampingi sekaligus sebagai motivator untuk anak-anaknya,” kata Dewi. (Wirati Astiti)

To Top