Woman on Top

“To Blind II”

Berbicara tentang layanan, tentu tidak akan pernah habisnya. Pada tulisan saya sebelumnya, sudah dibahas bagaimana sebuah layanan akan membuat  human relations para pelaku layanan terhadap para pelanggan  seperti anak tangga. Dari yang paling bawah sampai ke atas. Dari hubungan yang sangat rendah sampai hubunganyang sangat tinggi.  Dengan istilah to know, kemudian to live, to love, dan to blind, dan yang paling di atas adalah to be legacy. Human relations seorang pelaku layanan dengan pelanggannya mempunyai tingkatan emosional yang berbeda.  Semakin ke atas semakin terbangun kekuatan hubungan yang tercipta antar mereka.

Tulisan saya kali ini, melanjutkan tulisan sebelumnya, yang menyisakan pertanyaan, bagaimana cara agar para pelanggan kita dapat pada tahap to blind. Tentu kalau hal ini terjadi,  maka  para pelaku layanan akan mudah untuk manjalankan tugasnya untuk melayani para pelanggannya dengan baik. Sama seperti istilah cinta buta, sering diumpamakan dengan cinta yang tidak terkontrol. Sudah tidak mengenal logika bahkan cenderung sangat subjektif. Semua akan terlihat sempurna, tidak ada cacat, tidak ada duanya, bahkan seolah-olah di dunia ini hanya ada dia seorang. Ketika pelanggan kita sudah berada di tahap “to blind”. Layanan yang kita berikan membuat mereka menetapkan hanya satu pilihan, yaitu kembali kepada kita.

Pembaca setia ‘Dhani’s Art in Service’, ada beberapa cara agar hubungan seorang pelaku layanan dapat menjadi to blind, diantaranya adalah bagaimana membuat mereka agar menjadikan layanan kita ‘Top of Mind”, tentu ‘Top of Mind’ yang positif. Banyak contoh pelaku layanan yang dapat menjadikan mereka selalu ingat dengan layanan mereka. Hal ini sudah saya bahas pada tulisan saya sebelumnya dengan judul ‘Top of Mind’.

Hal lain yang dapat dilkukan adalah dengan cara ‘Sentuhan Hati” Sentuhan hati ini dapat dilakukan dengan tiga cara. Yakni penampilan, suara dan kata-kata, juga gestur atau bahasa tubuh. Hal yang terlihat sepele, namun inilah yang dapat membutakan pilihan pelanggan.

Penampilan, hal ini  tentu mengingatkan kita dengan ilmu grooming. Dimana  first impression (kesan pertama)  pelanggan terhadap pelaku layanan adalah penampilan. Apalagi  disebutkan juga bahwa penampilan merupakan Assures Guests about Standards of Service. Penampilan kita dapat memastikan standar dari  layanan kepada tamu/pelanggan. Sering kita melihat para pelaku layanan mengabaikan hal ini. Tentu mereka perlu diberikan pelatihan grooming, agar penampilan mereka senantiasa terjaga terlihat rapi, menarik, anggun,  dan atraktif.

Suara dan kata-kata. Hal ini tentu  sangat penting. Suara yang keluar dari pelaku layanan hendaknyalah suara yang enak didengar. Merdu, nyaring, bagai buluh perindu. Kadang kita sebagai pelanggan merasa kurang nyaman mendengar suara pelaku layanan yang besar dan serak, atau kecil seperti suara anak-anak, dan sebagainya. Hal ini juga bisa dilatih, agar suara yang keluar dapat membuat orang selalu  rindu dengan layanan kita. Hal ini dapat dilatih dengan pelatihan public speaking. Dimana seorang public speaker yang baik, ketika suara yang keluar tidak serak, tidak lemah namun kuat, namun tetap terdengar bersemangat dan antusias.  Begitupun dengan kata-kata.  Latihlah para pelaku layanan agar terbiasa mengeluarkan kata-kata yang menyenangkan (magic word) dan meniadakan kata-kata yang dapat menyakiti (killer word).

Selanjutnya adalah gesture (bahasa tubuh). Coba lihat para pelaku layanan yang bahasa tubuhnya menunjukkan malas, tidak bersemangat, tidak senyum, langkahnya gontai, dan lain sebagainya. Inilah yang membuat pelanggan enggan untuk menjalin hubungan yang lebih erat lagi. Karena seolah olah kedatangan mereka ditolak oleh para pelaku layanan yang menunjukkan gesture tidak baik ketika melayani.

Jadi,  kalau ingin hubungan antara pelaku layanan dan pelanggan pada tahap to blind, ingat jadikan layanan kita ‘Top of Mind’, dan sentuhlah hati pelanggan dengan ‘penampilan’, ‘suara’ dan ‘kata-kata’, juga gesture yang luar biasa, agar mereka selalu menetapkan pilihan kepada kita.

Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan kita memahami dan melakukan  hal tersebut di atas? Materi ini juga  terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy  dengan judul  ‘Serve With Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/instansi Bapak/Ibu? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu.

 

Salam 3SP

Salam Senyum Sang Penyihir

Sri Sumahardani

srisumahardani3sp@gmail.com

www.srisumahardani.com

To Top