Woman on Top

“To Blind”

‘Salam Senyum’

Human relation seorang pelaku layanan dengan pelanggannya mempunyai tingkatan emosional yang berbeda-beda. Seperti anak tangga, semakin ke atas semakin terbangun kekuatan hubungan yang tercipta antara mereka.

Cinta buta, sering diumpamakan dengan cinta yang tidak terkontrol. Sudah tidak mengenal logika bahkan cenderung sangat subyektif. Semua akan terlihat sempurna, tidak ada cacat, tidak ada duanya, bahkan seolah-olah di dunia ini hanya ada dia seorang.

Pembaca setia “Dhani,s Art In Service”, dalam layanan, ini sering terjadi pada seorang pelanggan terhadap penyedia jasa / produk yang ditawarkan kepada mereka. Pelanggan kita sudah berada di tahap “to blind”. Layanan yang kita berikan membuat mereka menetapkan hanya satu pilihan, yaitu kembali kepada kita.

Sering kita melihat toko, warung, rumah sakit, dan lain sebagainya yang pelanggannya selalu antre dan ramai dikunjungi. Padahal pesaingnya banyak dan yang dijual hampir sama jenis bahkan harganya. Salah satu penyebabnya adalah para pelanggan mereka sudah mempunyai hubungan  dalam tangga relationship sudah di tahap yang tinggi. Bukan hanya sekadar ingin tahu, bukan hanya sekadar nyaman, bukan juga ditahap ikut memasarkan, tapi sudah pada tahap membuatkan pilihan.

Sebagai pelaku layanan, penting kita mengetahui, bagaimana cara agar pelanggan selalu menetapkan pilihan kepada kita. Dan, sudah diketahui bersama dari hasil sebuah penelitian yang dilakukan terhadap pelanggan, 68% pelanggan tidak kembali kepada kita karena layanan yang buruk dilakukan oleh para pelaku layanan. Inilah yang harus kita perbaiki.

Hubungan yang paling rendah seorang pelanggan kepada para penyedia jasa/ produk adalah bagaimana pelanggan hanya sekadar ingin tahu . Ini dikenal dengan istilah ‘to know’. Hanya ikut-ikutan, coba-coba, penasaran, dan sejenisnya menjadi dasar para pelanggan mau memakai produk/jasa yang dibelinya. Dan, hubungan ini sangat rentan terjadi putus ditengah jalan. Ada juga hubungan yang lebih baik dari hal ini, dan biasanya disebut dengan ‘to live ‘.  Para pelanggan sudah nyaman dengan kehadiran kita. Seperti mengundang kita datang ke acara pernikahan, syukuran rumah baru, dan lain sebagainya. Pada dasarnya, pelanggan kita tidak terganggu lagi dengan kehadiran kita. Dan, ini sudah memudahkan kita untuk menjalin hubungan yang lebih erat kepada pelanggan.

Ketika, karena layanan kita yang baik, membuat para pelanggan ikut memasarkan jasa/produk yang dibelinya dari kita, inilah yang disebut dengan tangga hubungan ‘to love’. Wah… kalau hal ini sudah terjadi, maka para pelanggan kita sudah jadi marketer yang andal untuk membantu mencari pelanggan-pelanggan baru. Para pelanggan biasanya mengundang kita  dalam sebuah acara, dan pelanggan kitalah yang testimoni terhadap layanan, produk / jasa yang dia pakai. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi kita sebagai pelaku layanan.

Naaaah…, ketika layanan kita, menjadi penyebab para pelanggan seolah-olah membutakan pilihannya hanya kepada kita, inilah yang namanya tangga hubungan pada tahap ‘to blind’. Satu-satunya pilihan, selalu kembali, dianggap paling sempurna, dan lain sebagainya.  Bagaimana cara agar pelanggan kita mempunyai hubungan di tahap ini? Saya akan bahas di tulisan saya berikutnya… sabar ya…. (bersambung… )

Sudahkah para pelaku layanan diperusahaan kita memahami dan melakukan  hal tersebut di atas? Materi ini juga  terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy  dengan judul  ‘Serve With Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan / Instansi Bapak/Ibu ? Silahkan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu.

 

Salam 3SP

Salam Senyum Sang Penyihir

Sri Sumahardani

srisumahardani3sp@gmail.com

www.srisumahardani.com

To Top