Edukasi

Lestarikan Sastra dengan Lomba Pesantian

Perkembangan di zaman milenial sekarang ini nampaknya banyak mengubah pola pikir dan tingkah laku generasi muda. Budaya warisan leluhur di kalangan remaja Hindu mulai terkikis oleh kemajuan teknologi. Menyikapi hal tersebut Pemkab Buleleng melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng menggelar lomba pesantian remaja tingkat kabupaten Buleleng pada pekan apresiasi seni serangkaian HUT Kota Singaraja ke-415.

Lomba yang melantunkan pupuh Semarandana, pupuh Ginada, pupuh Sinom dan Ginanti ini dibuka langsung Asisten bidang Ekonomi, Pembangunan, Kesejahteraan Rakyat dan Layanan Pengadaan Setda Buleleng, Ni Made Rousmini, S.Sos, dilapangan Bhuana Patra Singaraja, Selasa (23/4).

Lomba pesantian remaja merupakan salah satu upaya dalam melestarikan eksistensi sastra-sastra Bali yang dijiwai oleh Agama Hindu telah terbukti dapat membangun kehidupan harmonis. Pesantian remaja seperti yang dilombakan saat ini merupakan suatu aktifitas yang dapat menarik perhatian umat hindu dan masyarakat dalam melestarikan nilai sastra hindu sebagai persembahan dalam melaksanakan panca yadnya pada upacara keagamaan bagi umat hindu. “Lomba ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada Sekaa Shanti yang ada di bawah naungan Desa Pakraman dalam melestarikan adat budaya Bali,“ papar Rousmini saat membacakan sambutan Bupati Buleleng.

Melalui lomba pesantian remaja diharapkan mampu menjadi media bagi generasi muda umat hindu untuk berkumpul bersama, berdiskusi terhadap hal-hal menyangkut ancaman yang akan menggerus nilai-nilai seni dan budaya orang bali. Menyikapi hal tersebut Pemkab Buleleng melalui dinas terkait akan terus berjuang dan mendukung aktivitas masyarakat yang bergerak disektor pembangunan adat dan budaya sehingga kedepannya seluruh adat dan budaya yang telah dijalankan secara turuntemurun oleh para pendahulu bisa tetap lestari. “Mari kita bahu membahu untuk membangun daerah yang kita cintai ini “ ajaknya.

Sementara itu, Ni Made Sriwati, Kabid Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng mengatakan, lomba pesantian remaja ini berlangsung selama dua hari dari tanggal 23-24 April. Dengan mengambil tema “Bayu Pramana“ yang artinya memuliakan sumber daya angin lomba diikuti oleh sembilan Kecamatan di Kabupaten Buleleng.  Setiap Kecamatan diwakili oleh 17 orang peserta remaja putra-putri berusia 13-21 tahun yang merupakan sekaa santi terbaik sebagai duta dari masin-masing kecamatan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada sekaa shanti tentang pengamalan nilai-nilai adat dan budaya, meningkatkan pengetahuan dalam membaca dan menyanyikan atau membahas mantra sloka untuk menghidupkan taksu Bali, serta sebagai ajang evaluasi diri dalam memaknai eksistensi sastra bali yang dijiwai oleh agama Hindu. Dengan mendatangkan Pembina dan tim juri yang berasal dari penasehat Widhya Sabha Kabupaten Buleleng, Ketua Widhya Sabha Kabupaten Buleleng dan dari unsur seniman, lomba ini akan dinilai dari segi keterpaduan intonasi antara lagu yang ditembangkan dengan musik pengiringnya (geguntangan). “Mampu gak dia mengiringi lagu, apakah suara musiknya lebih keras daripada lagu ketika dia nyanyi itu harus terpadu “ ujarnya

Sebelumnya dinas Kebudayaan telah melakukan pembinaan kepada para peserta lomba di masing-masing kecamatan. Pembinaan tersebut dilakukan untuk memberikan pemahaman terkait pupuh yang ditembangkan, keserasian antara lagu dan musik serta cengkok pada saat menyanyikan pupuh yang ditembangkan sehingga terwujud keterpaduan. Dirinya berharap melalui lomba pesantian nantinya adat budaya Bali yang luhur ini mampu terus eksis dan berjaya di tengah-tengah kemajuan jaman sekarang ini. “Kami berharap ke depan semoga anak-anak muda semakin banyak yang berminat, dengan kita pancing seperti ini semoga dia mau belajar dengan baik “ harapnya. (Wiwin Meliana)

 

To Top