Sekitar Kita

Pembeli Sedikit, Uang di Laci Banyak. Kok Bisa?

Pesatnya perkembangan teknologi memberi perubahan terhadap gaya hidup masyarakat. Semua hal menjadi mudah dilakukan. Dalam hal kuliner, konsumen bisa lebih mudah mendapatkan makanan dan minuman yang diinginkan. Pedagang pun tak perlu membuat tempat yang besar untuk berjualan. Semua ini tak lepas dari dukungan internet yang membuat kita seperti Raja Midas yang tinggal sentuh layar ponsel, angan jadi kenyataan.

Blotong duduk santai di warungnya di daerah Renon, Denpasar. Ia baru saja melayani pesanan makanan yang diorder konsumen dengan aplikasi online. “Pemesan lumayan banyak. Mereka kebanyakan pakai aplikasi online. Kalau konsumen yang datang langsung ke warung, lebih sedikit,” ujar pria bernama lengkap I Kadek Marta Wiguna ini.

Ia menuturkan ibunya sampai heran dengan aktivitas di warung. Bahkan sang ibu yang juga menekuni usaha kuliner di Buleleng merasa kasihan karena “Warung Pan Blotong” sepi. “Saya bilang sama ibu, walaupun yang makan di warung sepi, tetapi yang belanja banyak. Itu yang pakai jaket hijau adalah pembeli. Lihat saja uang di laci, banyak kan. Itu artinya tidak sepi. Akhirnya ibu saya paham,” ungkap Blotong sembari tersenyum.

Kehadiran aplikasi online sangat membantu penggiat UMKM seperti Blotong. “Sirkulasi” uangnya bisa lancar tanpa perlu warung yang besar. Kuncinya, ia hanya perlu mengunggah menu-menu baru yang membuat konsumen memesan makanan. Menu khas Buleleng seperti sudang lepet, urab paku, dan embung pelecing merupakan andalannya.

Pengalaman serupa dialami Nina. Dari kegemarannya mengecek instagram, ia mendapat ide menjual sarang madu. Mahasiswi Ilmu Psikologi Universitas Airlangga ini pun mulai survei untuk mencari pemasok sarang madu. Selanjutnya ia menjadi reseller sarang madu.

“Pengiriman ke konsumen dilakukan dengan aplikasi online. Driver datang ke rumah untuk ambil barang lalu mengirim ke konsumen. Kadang kalau jarak dekat, ibu saya yang mengirimkan,” ujarnya. Ia pun merasa dipermudah dengan adanya aplikasi online dan banyaknya peminat media sosial. Promosi pun bisa dilakukan dengan mudah.

Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 61,41%, dengan jumlah UMKM hampir mencapai 60 juta unit. Namun, baru sekitar 8% atau sebanyak 3,79 juta pelaku UMKM yang sudah memanfaatkan platform online untuk memasarkan produknya, padahal tren pergerakan konsumen makin memberat di transaksi online.

Edukasi terhadap UMKM terkait penggunaan e-commerce pun terus dilakukan. Diharapkan para pelaku UMKM dapat makin terstimulasi untuk memaksimalkan e-commerce untuk mengembangkan usaha mereka. Apalagi Indonesia dinilai memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia. Saat ini terdapat penetrasi pengguna internet yang mencapai lebih dari 132 juta, pengguna e-commerce pun terus meningkat dengan bertambahnya portal e-commerce yang memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat saat ini.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Rosarita Niken Widiastuti mengatakan sejak akhir tahun 2014, Kementerian dan lembaga bersama asosiasi terkait dibawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bekerja sama menyiapkan ekosistem yang baik untuk mengembangkan industri e-commerce lokal. Hasilnya adalah PP No. 74 Tahun 2017 tentang Roadmap e-Commerce Indonesia yang berisi inisiatif-inisiatif solusi terkait isu-isu seputar e-commerce untuk mendukung dan mendorong potensi pertumbuhan e-commerce Indonesia.

“Pertumbuhan e-commerce di Indonesia harus dikerjakan bersama dengan lembaga terkait agar menghasilkan kebijakan yang komprehensif dan sinkron, Pemerintah juga merumuskan prinsip-prinsip utama pengembangan e-commerce lewat aksi afirmatif dengan poin utama pelaku bisnis e-commerce lokal terutama pelaku bisnis pemula dan UMKM mendapatkan perlindungan yang layak serta menjadi prioritas,” ujar Rosarita.

Saat ini terdapat potensi besar yang wajib digali di Indonesia, karena jumlah masyarakat yang memiliki akses terhadap internet memungkinkan Indonesia untuk menjadi pasar transaksi online terbesar di Asia. Di tahun 2020 mendatang, transaksi e-commerce di Indonesia ditargetkan mencapai US$ 130 miliar. Hal ini dapat tercapai, jika UMKM juga turut terlibat dalam membangun pasar dari sisi penyedia barang.

DATA SEBAGAI SENJATA UTAMA

Sementara itu, Telkomsel memperkenalkan Mobile Consumer Insight (MSIGHT) kepada publik sebagai salah satu upaya mendukung transformasi digital Indonesia menuju revolusi industri 4.0. MSIGHT memperkenalkan kapabilitas dan manfaat dari layanan telco big data kepada komunitas industri, pemerintah dan startup.

Era digital telah telah mendorong Indonesia ke arah revolusi industri 4.0 yang tandai dengan hadirnya sejumlah terobosan teknologi baru di sejumlah bidang, di antaranya adalah big data, IoT, robotika, kecerdasan buatan, blockchain, dan lainnya.

VP Data Insight and Interface Services Development Telkomsel, Mia Melinda mengatakan MSIGHT hadir sebagai portofolio bisnis Telkomsel yang menghadirkan layanan telco big data. “Melalui pengembangan kapabilitas kami dalam kemitraan teknologi, MSIGHT sebagai unit yang beroperasi secara business to business (B2B) hadir untuk memberikan nilai tambah untuk lembaga-lembaga pemerintah dan sektor industri seperti keuangan, transportasi, e-commerce, ritel, digital, periklanan, dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Beberapa aplikasi bisnis dari informasi big data diantaranya digunakan untuk melakukan monitoring perubahan jumlah trafik pengunjung pusat; segmentasi konsumen berdasarkan profil tertentu; mengetahui perilaku digital konsumen, pola pergerakan konsumen antar lokasi, dan perilaku konsumen terhadap produk dan servis.

“Produk-produk  MSIGHT meliputi Risk insight, Mobility Insight, Lifestyle Insight, dan API marketplace, menawarkan berbagai manfaat bagi pelaku usaha mulai dari peruntukan marketing communication, business intelligence, maupun risk assessment,” imbuh Mia.

Lini produk Risk Insight fokus pada analisis terhadap profil risiko pelanggan dengan manfaat untuk mengelola risiko keuangan klien yang diwakili oleh produk Credit Score dan Location Score. Mobility Insight fokus pada penyediaan insight tentang pergerakan pelanggan, baik berpindah maupun menetap pada suatu lokasi yang diwakili oleh produk Skyscraper Profiler.  Lifestyle Insight fokus pada penyediaan insight yang berhubungan dengan demografi dan minat pelanggan yang diwakili oleh Syndicated insight. Sedangkan API Marketplace fokus pada penyediaan portal berbagai jenis layanan API telco dan non-telco yang dapat digunakan langsung oleh klien.

“Informasi big data yang kami peroleh akan dikelola secara anonim, agregat, dan efisien yang diolah menjadi informasi dan insight, serta diperbarui secara berkala. Kekuatan Telkomsel dalam menyelenggarakan big data adalah pada basis 168 juta pengguna atau mewakili sebagian besar pengguna data Internet di seluruh wilayah Indonesia,” lanjut Mia.

MSIGHT diharapkan dapat menjadi solusi inovatif bagi kebutuhan industri dan pemerintahan dalam membantu pengambilan keputusan yang strategis, dengan lebih akurat, lebih cepat, dengan jangkauan yang lebih terarah dan tepat sasaran. Melalui produk-produk MSIGHT, Telkomsel berharap transformasi digital Indonesia dapat terwujud dengan memanfaatkan kelebihan dari telco big data,  dimana  data bukan lagi faktor pelengkap, namun telah menjadi senjata utama untuk memenangi persaingan di berbagai bidang.

Sebagai bentuk konsistensi Telkomsel membangun jaringan hingga pelosok sebagai penggerak ekonomi kerakyatan, saat ini Telkomsel telah melayani lebih dari 168 juta pelanggan secara nasional. Layanan Telkomsel didukung 184.000 base transceiver station (BTS), termasuk di antaranya lebih dari 132.000 BTS broadband (3G/4G) untuk menghadirkan kenyamanan dalam menggunakan layanan data.

Jumlah pelanggan Telkomsel di Area Jawa Bali lebih dari 40 juta pelanggan dan didukung oleh lebih dari 30.000 BTS broadband (3G/4G). Sementara jumlah pelanggan Telkomsel di wilayah Bali dan Nusa Tenggara lebih dari 8 juta pelanggan dan didukung oleh lebih dari 7.000 BTS broadband (3G/4G).  (Ngurah Budi)

To Top