Sosialita

Perjuangan Perempuan di DPRD Bali

Perempuan perlu ada di legislatif karena ada amanat UU terkait 30% keterwakilan perempuan. Disamping itu,  agar ada yang memperjuangkan hak perempuan dan anak yang  selama ini belum mendapat perhatian maksimal dari pemerintah. Disanalah tugas legis­latif perempuan karena mereka pasti lebih memahami hal-hal yang diperlukan kaumnya.

Berikut ada empat perempuan anggota DPRD Provinsi Bali, yang kembali mencalonkan diri. Mereka berjuang bersama-sama untuk memajukan kaum perempuan. Para kandidat calon legislatif (caleg) petahana ini diyakini mampu mendongkrak suara partai, dengan pengalaman dan modal investasi politik selama 5 tahun sebelumnya.

  1. Dr. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi Wedasteraputri Suyasa,S.E., M.M.

Anggota  Komisi III DPRD Provinsi Bali,  Periode 20016-2019 ini, kembali mencalonkan diri karena masih memiliki banyak PR.  ‘‘Saya masih memiliki PR dari usulan masyarakat terkait penanganan sungai seperti tanggul jebol yang berdampak pada rumah warga. Penyempitan sungai yang tahun ini  bantuan belum bisa  direalisasikan karena terkendala anggaran di pusat,’’ ujar peraih Rekor MURI Doktor Perempuan Termuda di Indonesia bidang Manajemen Pemerintahan ini.

Istri I Ketut Ariyasa, Notaris PPAT Kabupaten Badung ini, berkeyakinan agar bisa terealisasikan  semua program tersebut ia  harus melanjutkan jabatan ini. Disamping karena dipercaya pimpinan partai PDI Perjuangan untuk kembali tampil sebagai caleg DPRD Bali.

Rencana ke depan yang  akan diperjuangkan, pemberdayaan pemuda.  ‘‘Saya   mengamati kualitas generasi muda kita semakin menurun. Wawasannya juga kurang. Saya menilai perlu diberikan  edukasi dan pembinaan kepada  generasi muda agar terarah khususnya di daerah,’’ ujar perempuan kelahiran Denpasar, 4 April 1982 ini.

Bendahara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bali ini menambahkan, pelatihan yang perlu diberi public speaking. Agar memiliki keberanian dalam bicara atau mengemukakan pendapatnya. Generasi muda juga perlu diasah lagi dalam pemahaman adat, budaya,  dan seni.

Pemberdayaan perempuan juga perlu, khususnya ibu-ibu  agar memiliki penghasilan tambahan selain menjadi ibu rumah tangga. Memberikan pelatihan digital marketing. Mengembangkan UMKM yang disesuaikan dengan kondisi daerahnya.

Disamping itu, program lingkungan hidup tentang kebersihan lingkungan hidup juga ia perjuangkan.  Penataan lingkungan sekitar dan  penanaman tanaman pangan keluarga di pekarangan rumah yang melibatkan seka teruna-teruni.  Program peningkatan desa wisata. Juga menjadi prioritas. Saat ini kabupaten Jembrana sedang  menggali potensi setiap desa untuk dikembangkan.

Selama ini beberapa program sudah ia realisasikan, seperti  penanganan beberapa  tanggul sungai yang jebol di Kab. Jembrana yang mendapat  bantuan dana pusat seperti  di sungai Samblong, kel. Sangkar Agung. kec Jembrana dan sungai Yeh Sumbul, desa Yeh Embang Kangin, Mendoyo. Perbaikan irigasi subak, penanganan senderan sungai,  memperjuangkan alsintan dari anggaran pusat untuk subak dan kelompok tani.

Saat ini Diah Werdhi SrikandiWedasteraputri Suyasa  juga menjabat sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah Bali PDI Perjuangan dan Wakil Ketua Umum 4 Iwapi Bali.

  1. Dra. Utami Dwi Suryadi

Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Bali, Utami Dwi Suryadi kembali mencalonkan diri sebagai calon legislatif Periode 2019-2024.

Bendahara PMI Bali ini menilai, saat ini telah terjadi degradasi moral. Anak-anak sibuk dengan ponselnya, dan cuek dengan lingkungannya. Bahkan, ia melihat, banyak anak sudah tak punya etika dengan orangtua dan gurunya.  Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat Provinsi Bali ini  menyarankan,  pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sebaiknya kembali digalakkan dan diajarkan sejak anak usia PAUD.

Ia menilai, moral seharusnya diajarkan kepada anak-anak sejak kecil karena pikiran mereka  masih bersih sehingga hal positif  yang diajarkan sejak awal akan lebih mudah terpatri dalam otak mereka.

Memang, ia mengakui, hal pertama  yang harus mengajarkan pelajaran moral anak adalah  orangtua yakni anak perlu role model  yang baik. Kemudian, di sekolah, guru mengajarkan moral dengan berbagai contoh, kata istri Drs. I Gusti Putu Ngurah Wiranatha ini.

Menurutnya, pelajaran moral sebenarnya urusan dan  tanggungjawab  bersama.  Mulai dari  keluarga, sekolah, masyarakat, dan  lingkungan. Karena banyak faktor yang bisa memberikan anak-anak contoh. Bahkan, lingkungan saja bisa memberi pengaruh moral yang  kepada anak-anak.

Bendahara Fraksi Demo­krat DPRD Provinsi Bali ini menambahkan, di era digital saat ini,  internet mampu memberikan semua layanan kepada manusia. Namun, soal moral yang baik, inilah yang perlu ditanamkan lewat pendidikan di sekolah.

Dengan mencalonkan diri kembali, ia ingin memperjuangkan kepastian hukum soal kekerasan terhadap perempuan. Dalam pengamatannya masih maraknya kekerasan terhadap perempuan dan soal ketimpangan gender.

Disamping itu, soal kesehatan juga menjadi pengamatannya. Ia melihat masih ada masyarakat Bali yang belum bisa tercover BPJS terutama masyarakat kurang mampu,  sehingga pemerintah harus memberikan jaminan kesehatan kepada mereka.

 

  1. Ni Kadek Darmini, S.E.

Perempuan kelahiran Kintamani,19 Pebruari 1975 ini mengusung visi: bekerja bersama rakyat dan untuk rakyat. Dengan misi: menerima aspirasi dan memperjuangkan aspek di segala bidang.

Anggota Fraksi PDIP DPRD Bali Dapil Karangasem ini kembali mencalonkan diri karena perempuan harus ada di DPRD Bali untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dan kesetaraan gender di Bali.

Saat ini, suaminya I Wayan Suastika, S.T. juga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten karangasem. Soal berpolitik ia bersinergi dengan suami untuk membangun Karang­asem dan Bali.

Menurut Darmini, terkait pelayanan kepada masyarakat, ia menilai masih kurang optimal. Contohnya, lamanya pro­ses mencari izin usaha atau memerlukan waktu yang lama untuk membuat e- ktp dan surat administrasi lainnya.

Begitu juga, terkait data  sosial masya­rakat yang  kurang valid sehingga ada kesenjangan di masyarakat.

Ia mencontohkan, warga miskin banyak yang tidak mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS). Sementara, yang dulunya mis­kin sekarang sudah mampu, malah tetap mendapatkan KIS. Ini disebabkan karena tidak ada perubahan data.

“Intinya saya  ingin berjuang untuk meningkatkan peran perempuan da­lam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Darmini.

 

  1. Ni Putu Yuli Artini, S.E.,M.M.

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Bali dari  dari Partai Golkar ini menawarkan program untuk diperjuangkan yakni di  bidang infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Istri I Made Satria Wahyudi, S.E. ini maju sebagai caleg nomor 3 DPRD Provinsi Bali Dapil Karangasem.  Sebelumnya, dalam Pemilu Legislatif 2014, Yuli Artini meraup suara 24.458. (ast)

 

 

To Top