Edukasi

Perayaan PASCH Jerman di Bali

Penghargaan kepada guru bahasa Jerman terbaik

Inisiatif “Sekolah: Mitra menuju Masa Depan” (PASCH) merayakan hari jadinya ke-10 di Bali pada tanggal 21 s/d 27 Oktober 2018. Resepsi formal oleh Kedutaan Besar Jerman diadakan di “The Sakala Resort Bali” Jumat (26/10).

Saya sangat gembira bahwa di tempat ide ini berawal, yaitu di Indonesia, model sekolah PASCH sangat berhasil. 28 sekolah PASCH di Indonesia, 77 guru bahasa Jerman, seperti yang saya dengar – saya kira ini merupakan sukses besar. Dan untuk itu saya menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus. Demikian kutipan dari Frank Walter Steinmeier, Presiden Republik Federal Jerman.

“Sekolah: Mitra menuju Masa Depan” (PASCH), yang diluncurkan Kementerian Luar Negeri Jerman pada tahun 2008 telah menjadi contoh teladan jejaring global dengan lebih dari 2.000 sekolah PASCH di seluruh dunia yang memiliki ikatan khusus dengan Jerman. Sejak itu, PASCH diimplementasikan bersama Goethe-Institut, Badan Pusat untuk Sekolah-Sekolah di Luar Negeri (ZdA), Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD) dan Dinas Pertukaran Pendidikan Jerman (PAD) di bawah Sekretariat Konferensi Menteri-Menteri Pendidikan.
PASCH terintregasi pada bidang budaya dan kependidikan dalam ranah kementrian luar negeri. Dalam hal ini, PASCH mendukung nilai-nilai budaya, warisan digital, toleransi antar sesama dan nilai-nilai diri” ucap Bapak Jörg Kinnen, Atase bagian budaya dan pers, Kedutaan Besar Republik Federal Jerman pada saat pembukaan acara konferensi kepala sekolah mitra dalam rangka perayaan 10 tahun PASCH di Bali.

PASCH bertujuan membangun jejaring global sekolah-sekolah mitra yang mempromosikan pengajaran bahasa Jerman dan dengan demikian membangkitkan minat terhadap bahasa Jerman dan negeri Jerman modern. Di seluruh dunia kini ada lebih dari 2.000 sekolah yang tergabung dalam jejaring PASCH dan menjadi sekolah mitra resmi Republik Federal Jerman. Bersama-sama, semuanya sekarang membentuk komunitas pembelajaran yang meliputi seluruh dunia. Jejaring PASCH kini hadir di semua penjuru dunia dan di Indonesia saja ada 29 sekolah mitra termasuk satu sekolah mitra yang baru bergabung tahun ini, yang menyelenggarakan pelajaran bahasa Jerman secara intensif. Tambahan kursus kaum muda musim panas, pelatihan siswa, perkemahan Jerman dan berbagai acara budaya merupakan beberapa contoh kegiatan dalam program tahunan jejaring ini.

Menurut Michelle Batari Njotoprawiro, siswi SMA Negeri 15 Surabaya, kegiatan-kegiatan yang dibuat dan dilaksanakan oleh PASCH sangat membantu siswa terutama dalam berkomunikasi dengan bahasa Jerman serta menyatukan siswa siswi dari seluruh negara sekaligus melakukan kegiatan-kegiatan seru yang mendorong siswa siswi PASCH untuk menjadi kreatif.

Jejaring PASCH dari sembilan negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar, Filipina, Selandia Baru dan Australia.

Rangkaian acara perayaan mencakup program pelatihan khusus pengajaran bahasa Jerman yang diikuti oleh 15 guru-guru PASCH dari Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru, workshop teater bersama 22 siswa-siswi PASCH dari Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru dan konferensi kepala sekolah PASCH yang akan dihadiri oleh sekitar 85 peserta dari kalangan kepala sekolah PASCH dari Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru, universitas, kementerian pendidikan dan kebudayaan, pakar pendidikan, perusahaan dan institusi, Goethe-Institut dan kedutaan besar serta alumni PASCH yang dalam konferensi ini menceritakan pengalamannya bersama PASCH.

Konferensi ke-4 PASCH dengan tema “Bahasa Membuka Kesempatan: Peluang bersama Bahasa Jerman” menekankan pentingnya multilingualisme di kehidupan sehari-hari dan di dunia kerja serta menitikberatkan pada penguasaan bahasa Jerman sebagai salah satu bahasa asing yang mempunyai peranan penting di perekonomian dunia. Konferensi internasional ini juga membahas perkembangan dan riset terbaru di bidang pengajaran bahasa asing dengan menghadirkan para ahli bahasa, yaitu Prof. Dr. Kim Haataja dari Universitas Heidelberg, Jerman dan Dr. Diana Feick dari Universitas Auckland, Selandia Baru.

Acara juga dirangkaikan dengan Penghargaan Guru Bahasa Jerman untuk Asia Tenggara untuk pertama kalinya, diikuti dengan pertunjukan teater yang baru digarap selama workshop pelatihan berlangsung oleh para siswa-siswi PASCH.

Salah seorang guru peserta Diklat yang berasal dari Vietnam, Nguyen Mai Phuong turut merasakan manfaat yang didapat dengan mengikuti pelatihan ini. “Dalam Diklat ini saya mendapatkan pencerahan baru serta metode-metode baru yang bisa saya pergunakan dalam merancang pelajaran secara optimal. Dalam pelatihan ini teori dan praktek saling berkaitan, dimana kita para peserta melaksanakan sendiri berbagai macam kegiatan belajar mengajar dan juga bagaimana melakukan interaksi sosial di dalam kelas.‘‘ ujarnya.
Ia juga mengatakan sangat senang karena bisa saling bertukar informasi dan juga pendapat dengan rekan rekan dari negara lain. “Pemandangan di Bali dan makanan, kamar di hotel semuanya sempurna! Saya akan bawa pulang kenangan indah ini dan mudah-mudahan bisa ketemu lagi segera dan tentunya terima kasih banyak kepada para panitia.‘‘ ungkap Nguyen Mai Phuong. (Wirati).

To Top