Buleleng

Lokapaksa Wakili Bali dalam Lomba Cipta Menu Nonberas

kegiatan pembinaan untuk lomba cipta menu B2SA yang diikuti oleh PKK Desa Lokapaksa Kec.Seririt.

Pertanian di Kabupaten Buleleng memiliki potensi penghasil pangan sumber karbohidrat nonberas yang beragam seperti ubi, ketela, talas, dan kentang. Beragam panganan tersebut pun dapat diolah menjadi berbagai olahan non beras yang dapat disajikan untuk mengganti beras dalam setiap menu makan.

Dengan potensi yang dimiliki tersebut, Kabupaten Buleleng dipersiapkan untuk mewakili Bali dalam Lomba Cipta Menu Non Beras Beragam Bergizi dan Aman (B2SA) tingkat nasional. Langkah persiapan dimaksud tampak pada kegiatan pembinaan untuk lomba cipta menu B2SA yang diikuti oleh PKK Desa Lokapaksa Kec.Seririt, yang berlangsung di Restoran & Bar Le Jaenzan, Kalibukbuk, Buleleng pada Minggu (23/9) pagi. Tahun ini Desa Lokapaksa dipercaya mewakili provinsi Bali untuk lomba cipta menu nonberas tingkat nasional yang akan dilaksanakan di Banjarmasin-Kalimantan Selatan bulan Oktober nanti.

Untuk menghadapi lomba tingkat nasional tersebut, PKK Desa Lokapaksa sudah menyiapkan ragam menu olahan non beras yang akan dilombakan nantinya. Seperti diungkapkan oleh Weda, salah satu anggota PKK Lokapaksa yang mengikuti lomba, telah disiapkan beberapa menu masing-masing untuk makan pagi, makan siang, dan makan malam. “Semua bahan makanan tersebut berupa nonberas dengan sumber karbohidrat utama dari ketela dan ubi rambat. Ada juga bahan pendamping yaitu sayur, buah, ikan laut, dan susu sapi”, ungkap Weda. Meski berbahan baku non beras, semua bahan makanan tersebut tetap harus memenuhi standar gizi yang diperlukan, ada karbohidrat, protein, dan vitamin.

Pada lomba nanti, menu makan pagi yang disiapkan yaitu berupa entil pesor talas ubi ungu, urab gecang, ayam srosob, dan sambal cicang. Sedangkan menu makan siang yang menjadi andalan yaitu lontong ubi talas, timbungan cakalan, dan plecing kables. Tak kalah sehat, ibu-ibu PKK Lokapaksa ini juga menyiapkan makan malam dengan menu morsela ubi talas, sate tahu udang, tempe manis, dan sayur kelor. “Semua daftar menu sudah kita kirim ke pusat, termasuk kandungan gizi yang terkandung dalam masing-masing sajian makanan tersebut”, tambah Weda.

Selain menu utama tersebut, ada juga menu selingan berupa loloh delima dan lapis ubi ungu untuk makan pagi, serta selingan makan siang berupa teh akar alang-alang dan klepet talas. Dijelaskan juga bahwa menu makanan yang tersaji harus memenuhi kriteria yang ditentukan oleh panitia lomba, antara lain kandungan nilai gizi dan cara penyajian.

Sementara itu Ketua Tim Penggerak PKK Kab.Buleleng Ny.Aries Suradnyana pada kesempatan tersebut mengungkapkan rasa bangga karena Buleleng dapat mewakili Provinsi Bali dalam ajang lomba cipta menu tingkat nasional. “Kami mendorong ibu-ibu PKK desa untuk terus berkreativitas dalam menciptakan menu olahan non beras. Buleleng hampir setiap tahun memperoleh juara di tingkat provinsi, hal ini tidak terlepas dari kreativitas dari ibu-ibu PKK Desa”, ungkapnya.

Dijelaskan pula bahwa Buleleng memiliki potensi pangan sumber karbohidrat nonberas yang bisa diolah dengan berbagai ragam olahan. “Dan potensi yang kita miliki ini pula yang menyebabkan kita juara terus di tingkat provinsi”, jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ny. Putri Suastini Koster selaku Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali juga mengapresiasi atas ditunjuknya PKK Desa Lokapaksa untuk mewakili Provinsi Bali pada lomba cipta menu tingkat nasional. Dengan bersemangat, istri gubernur Bali ini memberikan saran dan arahan kepada peserta dalam menghadapi lomba nantinya. “Semua harus memenuhi kriteria lomba, tampilan penyajian, kandungan gizi dan takaran harus juga diperhatikan. Selain itu presentasi juga harus disiapkan, jangan sampai masakan sudah bagus, tapi kita tidak bisa menjelaskan, hal itu sangat mempengaruhi penialaian nantinya”, ungkap Putri Suastini.

Dia juga berharap agar ada keberlanjutan di masyarakat atas olahan menu nonberas ini. Untuk itu perlu ada sosialisasi kepada masyarakat secara terus menerus.”Jangan sampai kreativitas ini berhenti sampai pada lomba ini saja. Masyarakat harus mulai diajari mengolah pangan non beras, ini penting untuk ketahanan  pangan kita kedepannya, sehingga masyarakat kita tidak tergantung beras saja”, harapnya.(Wiwin Meliana)

To Top