Buleleng

Buleleng Panen Perdana Bawang Putih

Panen perdana Bawang putih dilakukan di areal lahan KTT Laksmi Pertiwi.

Setelah sempat menghilang selama satu dasawarsa, Kabupaten Buleleng kembali membudidayakan bawang putih. Budidaya ini dilakukan oleh Kelompok Ternak Tani (KTT) Manik Pertiwi Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada. Budidaya yang dilakukan oleh KTT Manik Pertiwi ini merupakan program pengendalian inflasi klaster bawang putih dari Bank Indonesia (BI). Panen perdana dilakukan di areal lahan KTT Laksmi Pertiwi, Selasa (25/9) yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Ir. Nyoman Genep, MT beserta perwakilan dari Bank Indonesia.

Ketua KTT Manik Pertiwi, Ketut Sandi menjelaskan bawang putih cocok untuk ditanam di Desa Wanagiri karena bawang putih memerlukan cuaca yang agak dingin. Dengan begitu, Desa Wanagiri yang berlokasi 1300 meter di atas permukaan laut (mdpl) sangat cocok. Pada awalnya, empat bulan yang lalu KTT Manik Pertiwi membudidayakan bawang putih dengan varietas sembalun. Setelah empat bulan atau 120 hari hasilnya bagus dan bisa dijadikan benih kembali. “Desa kita sangat cocok untuk pengembangan bawang putih. Kami mengembangkan varietas sembalun dengan tujuan untuk dijadikan bibit kembali,” jelasnya.

Dirinya mengatakan pengembangan bawang putih ini merupakan penanaman awal bagi KTT Manik Pertiwi. Ini terjadi karena KTT Manik Pertiwi merupakan kelompok binaan dari BI mulai Maret 2018. Pihaknya pun mengutarakan bahwa tanaman bawang putih cenderung lebih kuat dan lebih tahan hama. Sehingga untuk hama tidak menjadi kendala berarti. Namun, yang menjadi kendala dalam pengembangan selanjutnya adalah terbatasnya persediaan air serta kurangnya sarana dan prasarana. “Kendalanya hanya di persediaan air serta sarana dan prasarana,” ujar Ketut Sandi.

Dengan kendala seperti itu dan juga atas pendampingan yang dilakukan oleh pemerintah, KTT Manik Pertiwi dapat menghasilkan bawang putih sebanyak tujuh ton per hektar. Tahun berikutnya Ketut Sandi berharap dapat meningkatkan produksi yang ada sehingga menjadi alternative dibandingkan dengan sayuran yang lain. Hal tersebut dikarenakan bawang putih harganya cenderung stabil. “Saat ini produksi bisa mencapai tujuh ton per hektar. Dengan jumlah ini, bawang putih bisa menjadi alternative selain sayuran lain,” ungkapnya.

Sementara itu, Nyoman Genep saat ditemui usai panen perdana menyatakan bahwa pada waktu yang lalu Buleleng sempat menjadi sentra bawang putih. Di Kecamatan Banjar seperti Desa Munduk dan Desa Banyuatis menjadi sentra tersebut. Namun, belakangan ini pengembangan tanaman bawang mulai tergerus karena adanya pengembangan komoditas padi yang terus dilakukan dengan varietas-varietas baru. “Dulu sempat kita menjadi sentra tanaman bawang. Namun karena adanya pengembangan komoditas yang massif, pengembangan tanaman bawang menjadi berkurang,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup ini menambahkan dengan adanya program seperti ini yang juga diapresiasi sangat baik oleh Bupati Agus Suradnyana, potensi bawang putih di Buleleng semakin terangkat. Selain program percontohan di Desa Wanagiri seluas di dua hektar ada juga program dari Kementrian di Desa Pakisan seluas sepuluh hektar. Khusus untuk KTT Manik Pertiwi, setelah dipanen digunakan untuk benih pengembangan ke depannya. “Kita juga mendapatkan program di Desa Pakisan seluas sepuluh hektar. Nantinya yang di KTT Manik Pertiwi hasil panen digunakan untuk benih pengembangan selanjutnya,” tutup Nyoman Genep. (Wiwin Meliana)

To Top