Kreasi

I Nyoman Krisna Satya Utama: Keluar dari “Sarang”

I Nyoman Krisna Satya Utama

Pementasan drama modern “Jaya Prana Tattwa” oleh Sanggar Samart di ajang PKB 2018 cukup membius penonton. Tak hanya akting para pemainnya, tarian Jaya Prana pun menjadi tontonan yang sangat menarik karena ditarikan dengan lenturnya oleh lima pemuda. Salah seorang di antaranya, I Nyoman Krisna Satya Utama yang sekaligus pencipta tarian tersebut.

Tarian Jaya Prana yang memiliki banyak gerak dan simbol ini hanya bisa ditarikan oleh para penari yang benar-benar lentur dan mampu menjiwai tarian. Krisna—demikian sapaan akrabnya menuturkan sejak kecil sudah suka menari. “Waktu kecil saya sering menonton tarian. Akhirnya saya jadi suka menari-nari sendiri di rumah,” ucap mahasiswa tari di ISI Denpasar ini.

Krisna akhirnya mengenal seni dengan serius ketika mengenyam pendidikan di SMKN 3 Sukawati. Dari sanalah awal ia mengenal tari bali dan beberapa tari nusantara. Kemudian dilanjutkan lagi dengan berkuliah ISI Denpasar. Di bangku kuliah ini, Krisna mulai memberanikan diri untuk bermain di luar pulau.

Dimulai dari Bandung, belajar dengan Eko Surpriyanto atau yang akrab disebut Eko Pece, Didik Nini Thowok, kakak kelas yang kuliah di Yogyakarta, baik itu komunitas PACo dan DELAPAN Studio, Mugiyono Kasido dari Solo, dan terakhir ia mengikuti Sasikirana Dance Camp & Coreolab. Di sana, Krisna  kembali bertemu dengan Eko, Uni Tati, Ali Sukri, Melahne (Australia) dan beberapa mentor dari luar negeri yang sangat luar biasa.

Krisna memberanikan diri keluar  bermodal nekad karena di lingkungan sendiri kurang pede, dan kurangnya kesempatan yang didapat karena kebanyakan mereka yang mendapatkan kesempatan hanya orang terdekatnya saja. “Jadi, saya keluar dari “sarang” dan bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai latar belakang dan budaya yang berbeda, itu asyik,” ucap pria kelahiran Denpasar, 19 April 1996 ini. Ia juga sering melakukan diskusi. Terkadang meminta pendapat baik itu melalui chat atau bertemu langsung.

 

TARI A-KSARA

Beberapa tari yang pernah ia ciptakan, di antaranya Bintang Asa, Tengawan, Ragam, Raga Aksara, Gitanjali, dan A-ksara. Karya-karya tarinya itu tidak menceritakan sesuatu secara gamblang. “Itu semua saya ciptakan berdasarkan kegelisahan saya sendiri. Misalnya Bintang Asa, berawal dari cerita Gatot Kaca jadi caru yang menjadi inspirasi saya. Intinya, ada Gatot Kaca terlahir dengan takdir untuk membunuh raksasa yang merusak surga loka, dalam cerita Gatot Kaca banyak melawati rintangan dalam hidupnya agar mampu membunuh raksasa tersebut. Itu memberikan saya ide bahwa setiap cita-cita atau harapan, dan impian tidak akan bisa tercapai jika kita hanya duduk diam dan menikmati zona nyaman. Itu bisa dicapai melalui sebuah usaha. Jadi inti dari Bintang Asa adalah bagaimana kita keluar dari zona nyaman yang tentu itu tidak akan mudah dilakukan. Hampir semua tarian yang saya ciptakan itu berdasarkan interpretasi dan pengalaman empiris saya,” tuturnya.

Krisna mengaku, dari beberapa tarian yang diciptakannya, tarian Bintang Asa inilah yang paling disukainya karena itu karya tunggal pertamanya. Juga, karya tari A-ksara karena di sana terdapat proses panjang dan banyak pengalaman yang didapat. Properti digarap oleh temannya, Yoga Hohang cs.

Tarian A-ksara tidak bercerita tentang apa-apa, tetapi itu berangkat dari kegelisahan Krisna tentang “tulisan”. Melalui sebuah tulisan seseorang akan mendapatkan informasi, bahkan itu bisa menjadi pengetahuan atau ilmu untuk mereka. Ia mempertanyakan kembali, apa tulisan itu? Ahirnya Krisna berimajinasi tulisan itu terdiri dari beberapa huruf yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kata, dari kata menjadi kalimat. Ini sangat menarik karena jarang orang yang suka menulis padahal kalau tidak ada tulisan mungkin orang akan menjadi gelap dan susah menjalakan kehidupan. “Dari situ saya tanya kembali di lingkungan saya (Bali) bagaimana sih tulisan itu? dan akhirnya saya menemukan Aksara. Saya melakukan pencarian tentang aksara Bali. A-ksara artinya tak termusnahkan (abadi), yang saya angkat adalah bagaimana aksara Bali yang berpasangan untuk menjadi kata, dan juga garis yang terdapat di dalamnya. A-ksara juga memberikan nilai bahwa manusia tidak akan bisa hidup sendiri mereka pasti memerlukan pasangan untuk saling tolong menolong. Di karya itu juga saya memberikan pernyataan bahwa mereka yang berpasangan pasti akan memunculkan makna baru (kelahiran) entah itu bentuknya seperti apa tergantung dari mereka yang melakukannya,” paparnya. (Inten Indrawati)

To Top