Buleleng

Prof. Drs. Ketut Rindjin Tutup Usia

Doa Keluarga Bersama-sama di Rumah Duka

Prof. Drs. Ketut Rindjin

Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Buleleng. Salah satu tokoh Pendidikan yang memiliki andil besar dalam menyumbangkan pemikiran-pemikiran demi kemajuan pendidikan di Buleleng telah berpulang, Selasa 14 Agustus 2018 lalu. Prof. Drs. Ketut Rindjin tutup usia memasuki umur ke 79 tahun setelah sakit komplikasi yang dideritanya beberapa tahun terakhir. Almarhum meninggalkan seorang istri Dra. Ida Ayu Putu Astini, M.Hum dan lima orang anak: Ir. Kastawa Yudiaatmaja, MM, FRM; Ir. Karmila Dewi; Trianasari, MM, PhD, CHE; dr. Sulistiawati dan Fridayana Yudiaatmaja, M.Sc.

Semasa hidupnya, alm. Prof. Ketut Rindjin dikenal sebagai sosok yang memiliki integritas tinggi terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Buleleng. Sekelumit kisah tentang perjalanan karier Prof. Ketut Rindjin yang tidak mungkin bisa dilepaskan dengan sejarah Undiksha. Berawal  dari berdirinya Kursus B 1 Bahasa Indonesia tahun 1955 dan B 1 Perniagaan pada tahun 1957. Kedua lembaga pendidikan ini berkembang menjadi FKIP Universitas Airlangga sejak 1 Januari 1962, selanjutnya berturut-turut berubah menjadi FKIP Unud 9 Agustus 1962, menjadi IKIP Malang cabang Singaraja tahun 1963, kembali diintegrasikan ke Unud menjadi dua fakultas, Fakultas Keguruan dan Fakultas Ilmu Pendidikan tahun 1968. Kedua fakultas itu digabungkan menjadi FKIP Unud 12 Februari 1983, berubah menjadi STKIP Negeri Singaraja 16 Januari 1993, menjadi IKIP Negeri Singaraja 5 Februari 2001, dan akhirnya menjadi Undiksha 11 Mei 2006.

Almarhum adalah pemimpin visioner yang memiliki prinsip yang kuat dan jelas dalam mengembangkan lembaga FKIP. Hal tersebut teruji pada bulan Oktober 1990 ketika FKIP Unud di bawah kepemimpinannya berjuang melepaskan diri dan mengubah status FKIP menjadi STKIP Negeri Singaraja, yang mendapat tantangan dari segenap mahasiswa dan sebagian dosen. Namun dengan langkah dan tujuan yang jelas, perjuangan terus berjalan dan kehidupan kampus berkembang sangat pesat sampai sekarang menjadi Universitas Pendidikan Ganesha. “Sungguh suatu prinsip bekerja tampa pamrih. Benih ditanam, disiram, dirawat agar tumbuh dengan baik tanpa perduli siapa yang akan memetik buahnya”, jelas Wayan Candra, mantan mahasiswanya.

Dalam institusi pendidikan itu, almarhum pernah 18 tahun menjabat pimpinan yakni PD III fakultas Keguruan 1968-1972, Dekan Fakultas Keguruan 1976-1980, Pembantu Dekan I FKIP 1983-1986, Dekan FKIP 1986-1993. Tahun 1977 ia ditawari oleh Rektor Unud, Prof.dr. Ida Bagus Oka untuk menjabat sebagai Pembantu Rektor I. Namun, Ketut Rindjin tidak memenuhi permintaan itu, karena baru saja menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan karena memiliki mimpi besar untuk mengembangkan Buleleng dari segi pendidikan. Suami dari Dayu Astini ini tercatat sebagai guru besar pertama di FKIP, sekarang Undiksha, tahun 1987 dan ke-17 di lingkungan Unud.

Almarhum Ketut Rindjin juga tidak mungkin bisa dilepaskan dari sejarah Sekolah Laboratorium Undiksha. Pendirian sekolah Laboratorium diawali dengan berdirinya SD Laboratorium Widyasthana oleh Yayasan FKg-FIP Unud tanggal 4 Juli 1970. Pada 13 Januari 1971 berubah menjadi SD Laboratorium dengan keluarnya SK Rektor UNUD No 25/SK/PD/UNUD/1976. Pada tahun 1977 berdirilah SMP Laboratorium UNUD Singaraja. Tahun 1980 dibangun SMA Laboratorium UNUD Singaraja. Sehingga sejak tahun 1980 Sekolah Laboratorium memiliki jenjang sekolah mulai dari Tk, SD, SMP dan SMA. Almarhum Ketut Rindjin merupakan Ketua Yayasan Sekolah Laboratorium periode 1975-1995.

Demikian halnya dengan sejarah Universitas Panji Sakti yang disingkat Unipas. Berdirinya Unipas diresmikan oleh Gubernur KDH I Bali dengan penandatanganan prasasti pada hari Rabu Wage, tanggal 4 September 1985 bertempat di Atiti Wisma, Kantor Bupati Buleleng di Singaraja. Awal pendirian Unipas memiliki lima Fakultas dengan tujuh jurusan dan delapan program studi. Unipas diasuh oleh Yayasan Panji Sakti Singaraja. Almarhum pernah menjabat sebagai Rektor Unipas pada tahun 1986-1990 dan Ketua Yayasan Panji Sakti periode 1985-2016.

Selain itu, almarhum juga banyak berkiprah dalam berbagai organisasi. Beliau pernah menjadi Ketua II PNI Cabang Buleleng yang dipimpin oleh Bapak Ketut Wijana (alm), Sekretaris Rencana Induk Pengembangan Universitas Udayana (1980-1990). Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia Provinsi Bali (1990-1995). Ketua Yayasan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1973-1995). Ketua Dewan Koperasi Indonesia Kabupaten Buleleng (1973-2003), Ketua PKP-RI Kabupaten Buleleng (1975-2003), Ketua GKP-RI Provinsi Bali (1998-2000), Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Provinsi Bali (1990-2000), Ketua/Anggota Tim Sertifikasi, Dirjen Dikti (2003-2007), Anggota Tim Pendidikan Profesi, Dirjen Dikti (2005-2007), Ketua Tim Pola Pengembangan Sistem Pembinaan Guru, Dirjen Dikti (2006-2007).

Setahun yang lalu, tepatnya 2 Juli 2017, pasangan yang menikah pada 16 Maret 1967 ini merayakan perkawinan yang ke 50. Rupanya, pesta ini telah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh anak-anaknya. Pesta yang seharusnya berlangsung 16 Maret, akhirnya diadakan 2 Juli, lantaran menunggu anak dan cucu yang berada di Jakarta. Namun tahun lalu menjadi tahun terakhir almarhum merayakan hari pernikahannya bersama istri tercinta.

Upacara Pitra Yadnya di Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH) Singaraja

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, almarhum sempat dirawat selama 15 hari di rumah sakit. Sejak 31 Juli 2018 almarhum masuk RS, dan dinyatakan meninggal dunia, 14 Agustus 2018. Sebelumnya, almarhum sempat berpesan kepada sang istri jika kelak ia meninggal, jenasahnya agar dikremasi di Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH) Buleleng. Hal tersebut disampaikan juga oleh almarhum kepada Jro Mgk. Nym. Sedana Wijaya, BA selaku perintis dan pengelola YPUH. Sebagai ketua pembina di YPUH, almarhum ingin memperkenalkan yayasan ini sebagai pengayom dan fasilitas bagi umat Hindu terutama yang berkaitan dengan peningkatan sradha dan bhakti menurut tatwa. Dalam upaya itu, YPUH mendorong dan memfasilitasi umat Hindu untuk mendalami dan melaksanakan ajaran Hindu menurut tatwa  yang disesuaikan kemampuan dan keadaan individu masing-masing, sehingga beragama Hindu tidak terasa sebagai beban.

Almarhum Ketut Rindjin dikremasi pada Kamis 16 Agustus 2018 di Yayasan Pengayom Umat Hindu Buleleng. Adapun serangkaian acara yang berlangsung selama satu hari tersebut di antaranya penjemputan Layon dikediaman almarhum di Jalan Dewi Sartika No 15 Singaraja, dilanjutkan dengan acara Ngaskara, Mepegat Sot, Kremasi, Hasthi Wedana, Nyekah, Ngedetin, Nyegara Gunung, Mepamit dan Ngelanus nuntun Kemerajan pada hari yang sama.

Dengan berjalan lancarnya upacara Pitra Yadnya alm. Prof Rindjin, pihak keluarga mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah hadir, memberikan ucapan doa, dukungan dan bantuan baik moril maupun materiil di antaranya sebagai berikut.

  1. Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Dr. Ir. Wayan Koster, MM., dan istri Ni Putu Putri Suastini
  2. Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST.
  3. Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG.
  4. Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna, SH.
  5. Rektor dan Wakil Rektor Undiksha
  6. Direktur dan Wakil Pascasarjana Undiksha
  7. Ketua, Wakil, Sekretaris, dan Bendahara Yayasan Panji Sakti
  8. Rektor dan Wakil Universitas Panji Sakti
  9. Ketua dan Wakil Yayasan Sekolah Lab Undiksha
  10. Dosen dan Pegawai Undiksha
  11. Dosen dan Pegawai Universitas Panji Sakti
  12. Guru, Pegawai dan Alumni Sekolah Lab Undiksha
  13. Dewan Pendidikan Kabupaten Buleleng
  14. Perbekal dan Krama Desa Sembiran
  15. Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH) Buleleng
  16. Rekan-rekan Dekopinda Kabupaten Buleleng
  17. Rekan-rekan KSU Tabungan Nasional
  18. Rekan-rekan Ananda Marga
  19. Rekan-rekan mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Unud
  20. Rekan-rekan Dosen S1 Manajemen dan D3 Perhotelan Undiksha
  21. Prof. Dr. dr. A.A. Gd. Budiarta SpPD-KEMD; dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD; DR.dr. I Nyoman Hariyasa Sanjaya, Sp.OG,M.A.R.S
  22. Kerabat Kami yang telah banyak membantu; Prof. Drs. Ketut Sarna; Prof. Dr. I Made Gosong, M.Pd; Drs. I Wayan Muderawan, MS. Ph.D; Prof. Dr. I Made Yudana, M.Pd; Prof. Dr. I Nengah Suparta, M.Si; Prof. Dr. Ida Bagus Putrayasa, M.Pd; Ida Bagus Ketut Astiyasa; Ida Bagus Emaharta, S.Sos. dan keluarga; Kadek Rai Suwena, S.Pd. M.Pd. dan Keluarga; Dr. Dewa Gede Sudika Mangku, S.H.LL.M; Ida Bagus Ngurah Sidharta Manuaba, S.E; Anak Agung Padmini dan keluarga; Kadek Samudra; Ketut Suanjaya dan Wira Bhuana.
  23. Bapak/Ibu Kompleks Acarya Graha, jalan Arjuna Dalam dan Jalan Udayana
  24. Semua Pihak dan handai taulan yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu

Paling Populer

To Top