Sekitar Kita

Jadikan Pers Bermartabat dan Berkualitas

Bagir Manan memberi pemaparan dalam Editor's Forum di Sanur ( 29/8)

Sebanyak 71 persen masyarakat Indonesia masih percaya media massa sebagai sumber informasi.  Demikian disampaikan Agus Sudibyo, pembicara dalam acara Editor’s Forum dengan tajuk Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas, di Grand Inna Bali Beach, Rabu (29/8).  “Ini modal bagus untuk melanjutkan bisnis media massa,” ujar Anggota Dewan Pers 2010-2013 ini. Sementara dari riset juga terlihat, dengan persentase yang sama, 71 persen penduduk Indonesia juga mengakses media sosial sebagai sumber informasi. Artinya, kata dia, masih seimbang antara jumlah akses media sosial dan media massa di Indonesia.

Menurut Agus, seimbangnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media massa jurnalistik dan media sosial di Indonesia dikarenakan media massa memberikan apa yang tidak didapatkan di media sosial. Namun, rata-rata pada tingkat global, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media massa jurnalistik sebesar 51 persen dan media sosial sebanyak 59 persen. Artinya, secara global,  media sosial  justru mengungguli media massa.

Bagaimana cara menjaga agar media massa jurnalistik masih bisa terus bertahan? “Media massa jurnalistik harus memberi yang lebih baik dari media sosial. Berikan infromasi yang lebih berkualitas,” kata Agus.  Artinya, kata dia, kalau masyarakat tidak mendapatkan apa yang dia cari di medis sosial,  tentu dia akan mengakses media masa jurnalistik Tantangan ke depan, persiangan media massa jurnalistik dan media sosial sangat berat,” ungkapnya.

Sementara, Mantan Ketua  Dewan Pers Prof. Dr. Bagir Manan menyebutkan, ada empat hal yang perlu diperhatikan perusahaan pers agar tetap bermartabat dan berkualitas. Pertama, pers harus tetap loyal, setia, dan taat menjalankan prinsip jurnalisme demokratis. Kedua, pers tetap menjaga independensi sebab bisa juga pers tidak independen. Ketiga, pers mesti menjaga dirinya sebagai institusi publik yang harus menjaga kepercayaan publik. Keempat, dalam pelaksanaan pemilu pers juga harus menjamin pemilu berjalan bebas, karena bebas ini juga merupakan hidup matinya pers.

Menurutnya, media sosial merupakan buah dari kebebasan pers yang diperjuangkan selama ini. Media sosial juga merupakan konsekuensi perkembangan teknologi informasi,  “Konten media sosial tidak terbatas, dari yang ekstrem sampai maha prustasi, dan berkembangnya media sosial ini dikarenakan melemahnya profesionalisme pers, kehilangan idealisme sehingga tidak memuaskan publik dan cari informasi di tempat lain,” ujar Bagir Manan.

Selain itu, kaat dia, ada tiga hal yang diperhatikan agar pemilu menjadi berkualitas. Pertama dilihat dari proses. Jika proses pemilu dapat memenuhi standar proses yang baik misal jaminan kejujuran, kebebasan dalam sarana yang disiapkan dalam pemilu. Pers bukan hanya memberikan informasi terkait proses pemilu tapi pers juga pencerah masyarakat. “Pers itu adalah mata dan telinga publik agar proses yang dijalankan adalah proses yang memenuhi standar pemilu yang baik,” imbuhnya. Hal kedua yang diperhatikan, terkait hasil. Pemilu menghasilkan pemimpin yang punya gagasan jelas untuk kesejahteraan umum maupun keadilan sosial.  Pemimpin juga memiliki intelektualistas untuk menjadikan kemajuan bangsa.”Tidak boleh percayakan masa depan bangsa pada orang yang belajar sambil bekerja, itu sudah harus diakhiri dan pers harus mengingatkan itu. Jangan sampai setiap minggu ada OTT,” katanya.  Hal ketiga adalah  sesudah pemilu. Bagaimana pers juga memulihkan ketegangan, keretakan selama pemilu jangan sampai berlanjut.

Acara yang dihadiri pimpinan media dan awak media cetak, televisi, radio,  online, dan pers kampus  ini juga menghadirkan narasumber Bambang Agus Harymurti Anggota Dewan Pers 2010-2013 dan Ahmed Kurnia staf Ahli Kementerian Kominfo. (Wirati Astiti)

Paling Populer

To Top