Edukasi

Sanggar Gembira Belajar

Ni Made Sinarsari, awalnya tidak pernah terlintas dalam benaknya  untuk membuat sanggar belajar.  Ia hanya memberi kesempatan anak-anak tetangga datang ke rumahnya sekaligus tempat praktiknya sebagai bidan untuk belajar. “Ada beberapa  anak yang datang belajar mengerjakan PR di sela-sela  saya praktik sore di rumah. Saat tak ada pasien saya mengajari mereka,” ujar Sinarsari yang juga bertugas di Puskesmas I  Denpasar Utara. Namun, lama-kelamaan anak yang datang semakin banyak sehingga ruang tunggu untuk pasien tidak mencukupi. Akhirnya, dia menyulap kebun herbalnya menjadi tempat anak-anak belajar agar lebih representatif.  “Waktu itu tahun 2008. Saya belum memberi nama   komunitas kegiatan belajar  anak-anak tersebut. Apa sih arti sebuah nama. Yang penting anak-anak bisa belajar dengan baik. Itu awalnya,” kata Sinar.

Ia juga sempat bertemu kelian, lurah,  dan polisi yang bertugas di wilayah  tempat tinggalnya, untuk menyampaikan kondisi anak-anak yang semakin banyak datang belajar. “Dari pertemuan itu, mereka semua mendukung saya, dan memberikan saya motivasi untuk terus melanjutkan kegiatan social tersebut. Akhirnya berlanjut sampai sekarang,” kata Sinar.

Dari beberapa teman yang juga  guru, ia mendapatkan banyak sekali saran. Akhirnya, ia putuskan untuk memberikan nama Sanggar Gembira Belajar. “Sanggar ini murni sebagai bentuk kepedulian social saya dan keluarga.  Ada 5 guru  termasuk saya dan beberapa relawan ikut bergabung. Ini gratis tidak dipungut bayaran,” kata Sinar.

Ia mengatakan, awalnya, hanya anak-anak tetangga sekitar rumahnya di Betengsari, Jalan Padma, Tonja yang datang,  lama –kelamaan malah ada beberapa anak pasien yang juga turut belajar.  Ia tetapkan  hari belajar tiap Hari Sabtu dan Minggu pukul 17.00  sampai 18.30.

Untuk  pelajaran, ia memakai sistem  tema dan fokus  ke bahasa. Minggu I: Bahasa Bali, Minggu II: Bahasa Inggris, Minggu III: Bahasa Jepang, Minggu IV: kreativitas.

Untuk keterampilan ada beberapa kegiatan seperti, yoga, menari Bali, membuat puisi, pantun, menggambar, membuat kerajinan, melipat kertas, membuat kartu, menulis halus, dll.

Biasanya,  kegiatan keterampilan, ia padupadankan dengan hari besar agar nyambung,  seperti Hari Ibu membuat kartu ucapan untuk Ibu atau membuat puisi, Hari Nyepi membuat ogoh-ogoh, dll.  Jumlah anak-anak yang belajar sekitar 25 sampai 30 orang. Untuk memudahkan, kelas dia bagi dua, untuk PAUD  dan SD.  Menurut Sinar, saat liburan banyak anak  pulang kampung,  sehingga anak-anak yang belajar lebih sedikit.

Menurut Sinar, sejak ada kegiatan belajar bersama anak-anak, ia bisa melihat bahwa  perlu pendekatan khusus untuk menghadapi anak-anak yang bermasalah. Misalnya, anak yang hiperaktif diberi tugas membantu Ibu guru. Anak yang yang pendiam dan tidak percaya diri  diberi tugas memimpin doa ke depan.  Anak yang susah makan, mendapat tugas memberi persembahan kepada guru. Anak yang punya gangguan konsentrasi, namanya selalu  dipanggil oleh teman-temannya bergantian.  “Bukan saja anak-anak yang belajar, saya juga belajar banyak dari anak-anak. Saya belajar memahami dari sisi anak. Mengapa mereka punya masalah. Apapun kekurangan anak, ternyata mereka punya kelebihan lain. Itulah yang harus ditonjolkan,” ujar Sinar.

Setelah beberapa tahun sanggar yang ia didirikan berjalan, sudah banyak hasil yang terlihat. Banyak anak sukses keluar dari masalah mereka. Anak yang  tidak percaya diri mulai menjadi pemberani. Anak yang tidak suka membuat PR mulai menjadi rajin belajar. Malah ada anak yang sudah tamat SMP mulai ikut berbagi dengan adik-adiknya di sanggar. Intinya, kata dia, kita harus menunjukkan belajar adalah sesuatu yang mengembirakan bagi anak-anak.  Disamping itu, dalam setiap materi, ia selalu  selipkan parenting. “Saat bertemu para orangtua, saya tanamkan kepada mereka bahwasanya penting melihat dari  sisi anak.  Ada anak pintar di bahasa, tapi dipaksa orangtua suka matematika. Apapun kondisinya, anak  memiliki satu keistimewaan. Itulah yang harus diarahkan orangtua,” imbuh Sinar.

Ia menegaskan, walaupun sanggar belajarnya gratis bukan berarti tidak profesional. Ia tetap memakai SOP dalam mengajar sehingga memberikan hasil yang maksimal kepada anak.

Selain belajar pelajaran, anak-anak juga mendapatkan edukasi kesehatan seperti prilaku hidup bersih dan sehat dengan rajin mencuci tangan, ada juga pemberian vitamin A, obat cacing,  dan imunisasi JE. Saat HUT, digelar berbagai lomba kreativitas.

Sinar berharap,  dari kegiatan social yang ia lakoni, bisa membantu  banyak anak. Ia bersyukur jika sanggar belajarnya,  dapat  memberi manfaat kepada orang lain. (Wirati Astiti)

Paling Populer

To Top