Kata Hati

Perlu Komitmen Cegah Berita Hoax

Sejak beberapa tahun lalu negara kita sudah ketahuan “terjangkiti” oleh penyakit membahayakan yang bernama hoax, tepatnya berita hoax. Apalagi dengan maju-pesatnya dunia digital, gadget, dan penyampaian berita lewat internet dan dilakukan secara online.

Apa itu berita hoax? Tentang hal ini banyak pihak yang bisa memberikan batasan atau definisinya. Ketika berlangsung focus group discussion (FGD) tentang berita hoax di Denpasar, baru-baru ini, tiga pembicara masing-masing Ketua Forum Generasi Muda Lintas Agama (Forgimala) I Putu Hendra Sastrawan, Kompol I Wayan Wisnawa Adi Putra dari Kanit Cybercrime Ditreskrimsus Polda Bali, dan dari unsur PWI Bali Drs. Budiarjo, sepakat mengenai berita hoax sebagai sebuah berita yang mengandung isue hoax, kebencian, fitnah, dan yang lainnya.

Bisa dibayangkan berita-berita yang menyebar ke dan di masyarakat yang bernuansa fitnah, tentu akan sangat berbahaya. Sebagai sebuah ilustrasi, seorang Perbekel dikatakan korupsi pengadaan pupuk atau pembagian bantuan sosial, padahal apa yang diberitakan itu hanyalah fitnah atau pemutarbalikan fakta. Yang putih dikatakan hitam dan sebaliknya yang hitam dikatakan putih, itulah fitnah. Kita semua tahu atau pernah mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Bisa jadi sang Perbekel yang dicontohkan tadi namanya tercoreng dan tidak mendapat kepercayaan di mata masyarakat yang dipimpinnya.

 Bertanya Dalam Hati

Lalu, bagaimana kita bisa tahu bahwa berita yang ada di hadapan mata itu adalah berita hoax? Pertama, kita perlu menganalisis apakah benar sebagaimana yang diberitakan itu (di koran, majalah, radio, dan TV) adalah fakta atau kenyataan. Jika kita menemukan berita yang condong menyanjung seseorang atau pejabat, patut diwaspadai, minimal dipertanyakan dalam hati.

Kedua, perlu dipertanyakan apakah orang-orang yang masuk dalam berita tersebut benar adanya atau dapat dipercaya. Kebenaran nama dan gelar perlu diteliti, begitu pula jabatan mereka. Jika saja kebetulan kita tahu bahwa yang diberitakan misalnya Made Angkara lalu ditulis atau diembel-embeli dengan Gusti Made Angkara, di situ Anda bernafas sejenak dan berhak curiga sambil mencatat ke dalam secarik kertas atau mencatatnya cukup di dalam hati. Yang justru perlu direnungkan yaitu tentang pernyataan-pernyataan mereka, masuk akalkah dan dapat dipercayakah? Jika ia menyebut jumlah kabupaten/kota di Bali ada sebanyak 12, misalnya, ini patut dicurigai karena yang benar itu 9 kabupaten/kota.

Ketiga, menelisik ada tidaknya unsur waktu dalam berita tersebut. Ada kemungkinan berita dibuat sangat menarik pembaca/pendengar, namun ujung-ujungnya tidak diselipkan waktu kapan peristiwa atau kejadiannya berlangsung. Atau bisa juga terjadi soal waktu diabu-abukan, seperti disebut “baru-baru” ini atau “setahun lalu,” dsb. Singkat cerita, keabsahan mengenai waktu tersebut perlu mendapat perhatian yang serius.

Keempat, mencurigai tentang tempat acara itu dilakukan, apakah di sekolah, di balai masyarakat, di hotel, atau di tempat lain. Jika tidak menyantumkan tempat itu sama saja dengan semi bodong, dan patut dikejar dengan kecurigaan.

Kelima, soal alasan mengapa suatu peristiwa atau acara itu perlu diberitakan? Apakah beritanya merupakan pesanan atau sama sekali tidak ada acara/peristiwa namun beritanya yang dibuat-buat seakan-akan benar terjadi? Ini semua patut mendapat perhatian ekstra dari kita sebab bahaya berita hoax itu kita semua yang menanggungnya. Berita hoax adalah musuh kita bersama. Andaikata pengamatan kita tentang berita hoax itu sudah bulat, maka tinggal menindaklanjuti apakah melaporkan ke Dewan Pers atau langsung ke pihak kepolisian karena bermuatan kriminal yang meresahkan masyarakat.

 Pencegahan

Dalam hal pencegahan dan penanggulangan adanya berita hoax, berikut ini dikemukakan beberapa upaya yang dilakukan oleh instansi maupun institusi. Misalnya dengan mengadakan lomba pidato tentang bahaya berita hoax. Ini dirintis oleh Polres Gianyar. Ketika berlangsung sarasehan peringatan Hari Pers Nasional 2017 dan HUT PWI ke-71 di Denpasar, 20 Maret 2017, Gubernur Mangku Pastika menaruh harapan besar tentang keberhasilan menangkis berita-berita hoax tersebut, asalkan di antara kita, terutama kalangan pers, memiliki komitmen ke arah itu.

Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja, Prof. Dr. I Made Suweta, M.Si.  mengatakan, soal berita hoax itu kita serahkan saja pada hukum karma yang kita yakini di kampus ini. Di dalam dunia ini kan berlaku prinsip rwa bhineda, ada benar ada juga salah, yang salah itu dengan membuat dan menyebarkan berita hoax akan menerima pahala setimpal sesuai kesalahan yang diperbuatnya. Yang penting di antara kita harus ada komitmen memerangi berita bodong alias berita hoax.

 

Romi Sudhita

Pemerhati pendidikan dan pengamat perilaku

Paling Populer

To Top