Mendongeng Lima Menit

KIJANG YANG KETAKUTAN

Suatu siang seorang petani memotong-motong kayu api di kebunnya. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat seekor kijang berlari-lari mendekatinya.

“Tuan! Sekelompok pemburu mengejar hamba. Tolong, selamatkanlah hamba!” katanya terengah-engah.

“Cepat-cepatlah bersembunyi di onggokan kayu api itu!” kata petani pemotong kayu sambil menunjuk seonggok kayu api.

Benar, tak lama berselang kelompok pemburu itu muncul. Sebagian naik kuda, siap dengan bedilnya, dan sebagian menuntun anjing pemburu.

“Adakah Anda melihat seekor kijang lewat ke sini?” kata pemburu  penunggang kuda.

Pak tani menghentikan pekerjaannya, lalu menjawab, “Maaf, tak ada seekor hewan pun yang lewat di sini.” Ketika berkata demikian, telunjuknya menunjuk onggokan kayu di sebelahnya.

“Terimakasih!” jawab pemburu itu lalu secepatnya balik ke dalam hutan.

Setelah aman, kijang yang ketakutan itu keluar dari onggokan kayu api tempatnya bersembunyi. Ia hanya menoleh tukang kayu, lalu segera beringsut meninggalkan tempat.

“Hai, Kijang!” seru petani tukang kayu itu. “Aku telah menyelamatkan nyawamu, tetapi kamu tidak ambil pusing. Tidakkah kamu punya perasaan untuk berterimakasih?”

“Berterimakasih?” jawab kijang itu heran. “Aku dengan jelas melihat tindakanmu dari celah onggokan kayu api itu. Kamu tidak sepenuhnya menolongku. Untunglah pemburu-pemburu itu bodoh. Ia hanya paham bahasa mulut, tetapi tidak paham bahasa telunjuk.”

“Selamat tinggal!” kata kijang itu lagi. “Belajarlah memberi pertolongan dengan tulus, sehingga bahasa mulut sama dengan bahasa telunjuk.” (Aesop)

 

Paling Populer

To Top