Mozaik

NYERI SETELAH STERIL

Tanya:
“Dok, saya melakukan operasi steril di usia 32 tahun, tapi sesudah operasi steril, setiap berhubungan seksual saya tidak pernah bisa basah lagi di vagina seperti dulu. Yang saya rasakan malah rasa perih dan nyeri. Bagaimana mengatasinya, Dok?. Terima kasih.” (Kurnia, Pupuan)

Jawaban:

Tentu saja hal seperti ini jangan dibiarkan berlangsung lama, karena membiarkan masalah seksual berlarut-larut adalah sebuah kesalahan besar. Akan lebih baik  sejak keluhan, sudah  berencana untuk mendapat pemeriksaan untuk memastikan penyebab nyeri dan segera melakukan pengobatan. Kasus yang dialami ini disebut dyspareunia, yang berarti rasa perih, nyeri atau sakit yang muncul saat berhubungan seksual. Penyebab rasa nyeri saat hubungan seksual itu secara umum kemungkinan disebabkan oleh tiga hal. Pertama, istri tidak terangsang maksimal karena penyebab tertentu, misalnya permasalahan psikis atau pikiran. Kedua, istri mengalami hambatan perlendiran atau cairan lubrikasi vagina walaupun sudah terangsang. Ketiga, istri mengalami gangguan atau penyakit pada organ kelaminnya. Untuk memastikan, tentu saja diperlukan pemeriksaan.                

Yang terjadi dalam kasus ini kemungkinan memang akibat dari pasca tindakan steril. Steril yang dimaksud di sini adalah operasi ringan untuk memotong atau mengikat saluran telur sebagai pencegah kehamilan yang permanen. Jadi, keluhan yang dialami bisa berupa trauma psikis karena ketakutan tertentu pasca tindakan steril. Misalnya, takut atau persepsi pribadi yang menganggap bahwa kalau sudah disteril berarti perempuan sudah tidak lagi berdaya, atau tidak baik memaksakan diri untuk berhubungan seksual. Pernah ada kasus di mana seorang perempuan tidak berani melakukan hubungan seksual karena takut hubungan seksual yang dilakukan dapat merusak hasil tindakan steril.

Nyeri di daerah vagina juga bisa muncul saat cairan lubrikasi tidak maksimal keluar. Cairan lubrikasi ini hanya akan keluar jika perempuan terangsang maksimal, tapi jika sedang stres atau tegang, cairan itu tidak akan keluar. Rasa nyeri seharusnya tidak muncul saat melakukan seks jika perempuan sudah siap dan terangsang. Nyeri saat berhubungan seksual juga bisa dicegah jika laki-laki tidak tergesa-gesa melakukan penetrasi. Sebaiknya atur posisi dengan baik, lebih baik lagi jika perempuan yang mengarahkan. Jika laki-laki terlalu tergesa-gesa melakukan penetrasi sedangkan perempuan belum siap, maka bisa terjadi lecet dan perlukaan di dinding vagina.

Untuk menghindari rasa nyeri saat berhubungan seksual, sebaiknya kedua belah pihak saling mengerti. Laki-laki jangan tergesa-gesa dan perempuan sebaiknya mempersiapkan diri. Jangan lupa lakukan foreplay (pemanasan) yang maksimal mulai dari yang paling ringan seperti memeluk, mencium, meraba, memijat dan sebagainya. Terkadang jika lubrikasi tetap tidak muncul, dapat dibantu dengan menambahkan gel khusus sebagai pengganti cairan lubrikasi, yang mudah didapatkan di apotek. Tetapi sekali lagi, yang benar-benar perlu diperhatikan adalah memastikan kembali penyebab nyeri, apakah trauma psikologis atau ada masalah fisik lainnya? Ini yang perlu diperiksakan.

Yang bisa dimaksimalkan sebelum melakukan pemeriksaan juga adalah  dengan melibatkan pasangan untuk tetap berkomunikasi dan saling memahami permasalahan bersama dan berniat positif untuk memeriksakan diri dan mengatasi masalah ini. Jangan pernah berlama-lama membiarkan perempuan untuk tidak menikmati hubungan seksualnya hingga akhirnya tidak mendapatkan orgasmenya. Perempuan yang tidak mencapai orgasme seringkali memunculkan akibat dan pengaruh negatif ke psikisnya seperti menjadi sering marah, cemas atau gangguan tidur. Komunikasi dengan pasangan, khususnya komunikasi seksual, merupakan faktor penting agar hubungan seksual berlangsung harmonis yang berarti dapat dinikmati oleh kedua pihak, perempuan dan laki-laki. Komunikasi seksual yang baik sebenarnya merupakan juga stimulus awal sekaligus  rangsangan yang sifatnya psikis sebelum hubungan seksual berlangsung. Saat diperlukan untuk melakukan konseling khusus dan sex therapy, maka sangat perlu dilakukan dengan melibatkan kedua pasangan. Karena sesungguhnya, sekali lagi, permasalahan seksual pada satu pihak tidak pernah terlepas dan teratasi tanpa melibatkan pasangannya.

Paling Populer

To Top