Mendongeng Lima Menit

MENCARI ANAK ANGKAT

Seorang raja yang lanjut usia selalu gelisah. Sebabnya adalah karena beliau tidak punya keturunan. Beliau selalu memikirkan bagaimana nasib kerajaan kelak, kalau tak ada ahli waris yang menggantikannya.

Suatu hari sang Raja mendapatkan akal. Belau memerintahkan kepada semua patihnya untuk menyebarkan sebuah pengumuman. “Dicari seorang anak angkat yang akan mewarisi tahta kerajaan,” demikian bunyi pengumuman itu.

Selang tiga hari, seratus orang anak mendaftar. Mereka sangat berminat menjadi anak angkat Raja. Kepada setiap anak, Raja membagikan sebatang benih bunga. “Dalam waktu satu bulan, kamu harus menunjukkan tanaman bunga itu ke istana! Anak yang kupilih adalah anak yang menunjukkan tanaman bunga yang segar dan indah,” kata Raja.

Tersebutlah seorang anak bernama Andana, sangat telaten mengurus benih bunganya. Seminggu berselang, ia memeriksa tanamannya, namun tak ada tunas yang muncul, padahal setiap hari ia menyirami dengan air secukupnya. Ia gemburkan tanahnya, ia rabuki dan mencabut semua rumput yang tumbuh di sekitarnya.

Maka tibalah hari yang ditentukan itu. Semua anak menghadap ke istana. Mereka satu-persatu menunjukkan tanaman bunga yang indah warna-warni. Ada yang menunjukkan mawar merah, putih dan kuning, ada yang memperlihatkan gumitir yang kuning dan bunga bintang yang kemerah-merahan. Walaupun bunga-bunga itu segar, indah dan beraroma harum, namun Raja kecewa.

Tibalah giliran Andana yang menunjukkan tanaman bunganya. Sungguh mengecewakan! Sungguh memalukan! Di depan Raja ia memperlihatkan batang bunga yang kering, tanpa tunas, tanpa daun, apalagi berbunga. Ketika merunduk, tiba-tiba anak itu menangis.

“Mengapa kamu menangis, Nak?” tanya Raja.

“Maaf, Paduka!” jawab Andana. “Hamba sudah berusaha merawat benih bunga itu sebaik-baiknya, namun gagal. Hamba merasa berdosa, sebab tanaman itu mati”.

“Bangkitlah, Nak!” perintah Raja. “Kamulah ahli warisku yang akan menggantikanku menjasi Raja.”

Tentu saja anak-anak lainnya beserta orangtuanya mengadukan protes kepada Raja. “Mengapa menghargai anak yang mempersembahkan bunga mati?” teriak mereka.

“Dialah satu-satunya anak yang jujur!” jawab Raja. “Sebetulnya benih bunga itu akan mati semua, sebab akar benih itu kurebus dengan air panas. Jadi bunga segar, indah dan berbau harum yang kau perlihatkan kepadaku adalah bunga-bunga dari benih yang tidak berasal dari istana”.

 

To Top