Bunda & Ananda

Serba-Serbi PPDB Sistem Zonasi

Suasana pendaftaran melalui jalur prestasi

 Sudah menjadi agenda rutin di setiap tahun ajaran baru, para orangtua disibukkan dengan urusan pendaftaran sekolah putra-putrinya. Pemandangan ini pun terlihat di salah satu SMPN di Denpasar. Jumat (22/6), yang merupakan jadwal hari pertama pendaftaran melalui jalur prestasi. Sejak pagi sekolah yang berada di zona empat (Denpasar) ini sudah dipenuhi para calon siswa yang didampingi orangtua murid.

Agak siang, suasana sudah mulai lenggang. “Tadi saya sudah kesini. Tapi fotokopi piagamnya belum dilegalisir, jadi saya ke sekolah dulu untuk melegalisir baru kesini lagi,” ujar Aryantini, orangtua siswa. Nem putrinya kecil, jadi ia memutuskan untuk mencoba juga jalur prestasi. Kebetulan putri bungsunya itu adalah atlet senam yang sudah beberapakali meraih medali emas di Porjar.

Berbekal prestasi tersebut, sebetulnya Aryantini sudah lama ‘mengincar’ salah satu SMPN favorit di Denpasar. Namun karena ada kebijakan zonasi yang berdasarkan pada kartu keluarga, ia pun kembali berpikir untuk memilih sekolah yang berada di luar zonasinya tersebut. “Sebenarnya bisa saja saya daftarkan anak di SMP itu memakai jalur prestasi. Tapi karena di luar zona, saya harus bersaing di 5%, dan saya kehilangan kesempatana di zona saya yang memberikan ruang 20% untuk jalur prestasi. Saya tidak mau gambling, jadi saya cari aman mendaftar di dalam zona saja,” tuturnya.

Orangtua lain, Wati, juga melakukan hal yang sama. Meski ia “naksir” SMP favorit tersebut, Wati memilih mengambil jalan aman yakni memilih sekolah sesuai zona yang ditetapkan. Wati memilih dua jalur yakni jalur prestasi yang dibuka 21, 22, dan 24 Juni, serta lewat jalur Nem mulai 25, 26 dan 28 Juni. Karena itu, ia sudah mempersiapkan berkas-berkas yang disyaratkan dalam dua map berbeda. Map biru untuk jalur zonasi reguler dan map kuning untuk jalur prestasi seni. “Nanti kembali lagi ke sekolah ini tanggal 30 Juni untuk mengikuti tes prestasi,” ucapnya.

Wati mengaku sistem PPDB dari tahun ke tahun semakin baik. Pada alur pendaftaran jalur prestasi hari itu pun ia melihat sangat terkoordinir. Dari parkiran, anak-anak OSIS di sekolah tersebut sudah memberikan informasi yang jelas bahkan mengantarkannya ke ruang 1. Di tempat ini, kelengkapan berkas dicek, setelah lengkap tinggal menunggu dipanggil. Menunggu sekitar 1 jam, nama putrinya pun dipanggil dan masuk ke ruang verifikasi. “Empat tahun lalu waktu mendaftarkan putra saya di sekolah ini, mengumpulkan map berkas itu masih desak-desakan. Sekarang sudah bagus sistemnya,” ujarnya.

Terkait zonasi yang berdasarkan kartu KK ini, Wati mengungkapkan kasus yang menimpa teman putrinya, sebut saja namanya Putri. Putri sudah beberapakali menjadi juara umum di sekolahnya. Di bidang nonakademis ia juga memiliki prestasi di bidang mesatua Bali dan baca puisi. Ia tinggal di Denpasar namun KK-nya Tabanan. “Kalau tidak dapat SMP negeri di Denpasar, mau tidak mau sekolah di swasta saja,” ujar ibunya, Kadek dengan nada kecewa.

Terlepas dari kasus itu, sistem zonasi ditanggapi positif oleh Aryantini. Ia menilai sistem zonasi yang diterapkan pemerintah ini tujuannya baik untuk pemerataan dan tidak ada lagi istilah sekolah favorit. “Jadi, anak-anak pintar dan berprestasi tidak hanya numplek di satu sekolah. Dengan sistem zonasi ini pun saya kira persaingan lebih sedikit karena bersaing dalam zona saja. Kalau dulu benar-benar tarung bebas, karena asal sekolah dari manapun bisa mendaftar ke sekolah di manapun (tidak pindah rayon),” ujarnya.

Wati menambahkan, sebelumnya ia sempat dibuat bingung dengan aturan berkas-berkas yang harus dikumpul nanti. Informasi dari sekolah putrinya, harus memakai KK terbaru minimal terbit tahun 2017, piagam-piagam pun harus dilegalisir di Disdikpora. Terkait hal tersebut, ia pun meminta informasi kepada temannya yang bekerja di Disdukcapil. Dari keterangannya, malahan banyak orangtua sisiwa yang datang ke Disdukcapil meminta kembali KK lama karena KK yang baru dibuat tidak diterima di sekolah.

Untuk mendapat jawaban yang lebih pasti, Wati pun datang ke SMPN yang menjadi tujuan mendaftar nanti. Dari salah seorang staf TU, akhirnya Wati mendapat kejelasan atas semuanya itu. “Kenapa sih Disdikpora dan Disdukcapil tidak ada satu bahasa, dan pihak sekolah juga sepertinya mis komunikasi,” ucap Wati kesal. (Inten Indrawati)

To Top