Kata Hati

Remaja Jangan Coba-coba dengan Narkoba

Ketut Netra, S.H.,M.Kn

Berbicara  narkoba, adalah suatu masalah yang dapat mengancam generasi muda Indonesia. Para pemangku kepentingan terutama orangtua harus senantiasa wanti-wanti  mencegah, bagaimana caranya agar anak dan keluarganya tidak terlibat narkoba.

Data BNN 2017, menjelaskan pengguna narkoba di Indonesia 5,1 juta orang merupakan terbesar di Asia. 40 % dari jumlah tersebut adalah dari kalangan remaja dan mahasiswa (Sindo, 15 November 2017). Sangat mengerikan, dan memprihatinkan.

Sebagai orangtua, apa yang patut  diperbuat? Sifat remaja biasanya semangat, selalu energik. Hendaknya sifat semangat tersebut dipakai untuk hal-hal yang positif. Anak biasanya suka coba-coba. Apalagi dewasa ini remaja cendrung berkutat dengan dunia maya. Mereka (remaja) sangat mudah mengakses apa saja yang mereka inginkan. Bahwa narkoba itu membuat senang, fly, badan ringan, stamina kuat atau kepala pusing dan mabuk. Semua itu dapat dibaca di dunia maya. Mereka ingin mencoba,  dan membuktikan. Apa benar demikian?

Kalau begitu bagaimana peran orangtua? 1. Orangtua hendaknya jangan otoriter, selalu mendikte anak. Jadikanlah anak sebagai teman, sehingga anak mau terbuka kepada orangtua. Anak yang tidak akrab dengan orangtua biasanya orangtuanya bermasalah, oleh karena  itu hindarilah permasalahan di keluarga. Atau  jika ada masalah di  keluarga,  anak-anak jangan sampai tahu. Anak-anak zaman sekarang biasanya kritis, biarkan mereka bertanya apa saja. Arahkan jika pernyataannya tidak benar, atau  berikan jawaban yang masuk akal, jika mereka kurang paham. Beri arahan bahwa mendebat orangtua adalah  tidak sopan, tidak sesuai adat ketimuran dan tidak sesuai agama. Bahwa orang tua juga termasuk guru, dalam catur guru. Melawan guru akan menjadi kualat atau tulah.

  1. Pengedar narkoba biasanya mengincar anak berduit, dengan segala cara misal diajak berteman, kemudian diberi narkoba secara gratis untuk dicoba. Setelah ketagihan maka akan dikuras uangnya. Bahkan anak bisa sampai mencuri uang untuk membeli narkoba. Dalam hal ini hendaknya orangtua selalu mengawasi penggunaan uang anak. Jangan memberi uang berlebihan. Barikan uang secukupnya.
  2. Arahkan kegiatan anak ke hal-hal yang positif, misalnya kegiatan olahraga, kegiatan sosial. Memberikan ajarkan agama dan sopan santun ketika mereka dalam situasi batin yang nyaman, agar mereka tidak merasa digurui.
  3. Orangtua hendaknya selalu berkoordinasi dengan pihak lain, misalnya dengan sekolah, kampus atau teman-teman anak untuk mengetahui kegiatan anak di luar rumah. Arahkan anak agar terbuka dalam mengerjakan tugas, sehingga orangtua bisa mengontrol kegiatan anak. Semua yang dikerjakan anak, orangtua wajib tahu. Jangan biarkan anak pergi tanpa sepengetahuan orangtua.
  4. Soal keperluan anak, orangtua hendaknya jangan selalu menuruti kemauan anak, walaupun orangtua mampu memenuhinya. Ajarkan mereka punya karakter yang mandiri, tanpa selalu bergantung pada orangtua. Karakter kuat mandiri akan terhindar dari bujukan pihak lain, untuk berbuat yang tidak baik. Ajarkan anak tidak materialistis, sifat terlalu mengagungkan kebendaan terutama benda mewah. Ketertarikan anak pada benda mewah akan dijadikan modus oleh pengedar narkoba untuk menggaet anak, dengan cara diiming-imingi benda tertentu, agar anak mau ikut kemauan pengedar narkoba .

Sekolah atau kampus hendaknya  berperan aktif ikut serta memberikan penyuluhan  atau dengan cara mengundang instansi yang berwenang. Bahwa narkoba itu dapat merusak fisik dan psikis, masa depan serta merusak nama baik orangtua dan keluarga.

BNN dan instansi yang terkait tidak hanya mengedepankan penindakan, tetapi perlu mengadakan pencegahan secara dini. Yang penting penyuluhan mengandung materi aspek hukum dan akibat-akibatnya serta contoh-contoh penderitaan seorang pecandu narkoba. Dengan demikian seorang remaja akan berpikir seribu kali sebelum mencoba narkoba. Sebab sekali mencoba akan sulit bebas dari jaring perangkap.

Ketut Netra, S.H.,M.Kn

Praktisi hukum

 

To Top