Sudut Pandang

Patah Tulang akibat Microsleep

Kongso Sukoco (dua dari kiri) kakinya patah saat kecelakaan yang diduganya akibat microsleep

Hampir pukul 20.00, Kongso Sukoco (56) baru tersadar. Ia kebingungan mencium bau khas obat-obatan dan melihat ruangan lengkap dengan perawatnya. Lebih heran lagi ia menemukan dirinya sudah berada di Puskesmas Pemenang Lombok Utara, penuh luka. Ia sadar setelah perawat selesai membersihkan luka-luka goresan aspal di wajah dan beberapa bagian lain tubuhnya. Kaki kanannya yang rupanya patah sudah disanggah menggunakan kayu dan perban di Puskesmas tersebut.

Kongso akhirnya tahu dirinya baru saja mengalami kecelakaan yang “tampaknya” mengerikan. Namun, anehnya ia sama sekali tidak mengingat apa-apa tentang kejadian yang dialaminya itu, bahkan hingga hari ini peristiwa itu hilang begitu saja dari ingatannya. Yang tersisa hanyalah luka dan perawatan operasi pada kakinya yang patah.

“Apa, bagaimana, jam berapa dan di mana kejadiannya, saya sama sekali tidak bisa mengingat kejadian itu bahkan sampai hari ini,” ungkap Kongso, sutradara kawakan yang telah melahirkan karya-karya pertunjukan fenomenal di Mataram Nusa Tenggara Barat ini. Ia juga tidak mengingat apakah dirinya korban tabrak lari atau kecelakaan tunggal atau lainnya.

Peristiwa kecelakaan yang dialaminya di Desember 2017 ini, tentu bukan bagian dari pertunjukan teater yang kerap disutradarainya, melainkan terjadi akibat (dugaan) tidur sesaat atau microsleep yang dialaminya saat mengendarai sepeda motor. Kongso sendiri mengaku tidak tahu persis apakah kejadian itu akibat microsleep yang dialaminya. “Saya tidak tahu persis apakah saat itu saya juga mengalami microsleep. Tapi, sampai saat ini saya juga heran kenapa momen itu benar-benar hilang dari ingatan saya. Mungkin saja itu terjadi (saya mulai berpikir itu setelah mendapat pertanyaan ini).  Sebab berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, saya sering merasa tidur sejenak saat saya berkendaraan,” ujarnya.

Seingat Kongso, sebenarnya itu lebih sering terjadi dulu ketika ia kerap begadang di masa mudanya sehingga menyebabkan ia kurang tidur. “Ini memang membahayakan,” katanya. Menurutnya microsleep itu sangat berbahaya karena ia beberapa kali pernah mengalaminya. Misalnya saat sedang berkendaraan dan mengalami microsleep hanya selama enam detik, situasi ini meski sangat sangat pendek waktunya tetapi lebih dari cukup jarak untuk berpindah jalur, menyeberang ke sisi lain jalan, atau melewati lampu merah. “Bayangkan akibatnya, tidak main-main,” katanya. Lihat apa yang terjadi pada dirinya.

Selain penuh luka dan mengalami patah kaki, ia juga sempat tidak mengingat tentang peristiwa itu. Bahkan tempat kejadian kecelakaan itu pun tak bisa diingatnya sampai hari ini. Lebih parah lagi, Kongso tidak mengingat sebelum kecelakaan itu ia bertolak dari mana dan tujuan ke mana. “Saya benar-benar tidak ingat sampai sekarang tentang kejadian itu. Memori akan peristiwa itu seperti hilang semua begitu saja,” ujarnya.

Akibat hilangnya memori beberapa jam tentang kejadian itu, keluarga Kongso sempat tidak bisa menemukan sepeda motor yang dipakainya saat kecelakaan. Petugas Puskesmas sendiri hanya mengetahui bahwa Kongso diantar warga ke Puskesmas Pemenang itu pada sore hari dalam keadaan penuh luka. Petugas hanya fokus memberi pertolongan dan merawat Kongso tanpa sempat bertanya kapan dan di mana kejadiannya.

“Keluarga berinisiatif melacak dan menelusuri sepanjang jalan Pemenang bertanya pada warga dan pedagang di sepanjang jalan tersebut. Akhirnya ditemukan ada warga yang menyimpan sepeda motor tersebut setelah kejadian, barulah kami tahu lokasi kecelakaan terjadi di Pemenang,” ungkap Mila Karyatun, istri Kongso Sukoco saat menemani suaminya dirawat di RSU Kota Mataram.

Waktu kejadian itu pihak Puskesmas Pemenangnlah yang kemudian menelpon istrinya setelah Kongso sadar. Ia sempat dianjurkan untuk melakukan pengobatan alternatif (dukun patah tulang) di Lendang Before, masih di Kecamatan Pemenang. “Itu sungguh sakit luar biasa,” katanya tertawa saat menceritakan penanganan tulang patahnya di tempat pengobatan alternatif tersebut. Barulah keesokan paginya Kongso minta agar dirinya dirujuk ke RSU Mataram dan langsung menjalani operasi pemasangan pen. Setelah enam bulan barulah ia bisa berjalan meski masih tertatih tatih, karena patah bagian lutut yang dialaminya ini memang  proses penyembuhannya memerlukan waktu yang relatif lama.

Kongso mengungkapkan,  kabarnya microsleep saat mengemudi merupakan hal biasa, dan sering dialami banyak orang. Beberapa survei menunjukkan, setidaknya 10% orang mengaku tertidur sebentar di belakang kemudi.

“Saya jadi berpikir, jangan-jangan saya kecelakaan memang karena mengalami  microsleep,” katanya. Kemungkinan besar karena kecelakaan yang diduga karena microsleep itu, menyebabkan memori “jangka pendeknya” sempat hilang mungkin diakibatkan oleh benturan keras di kepalanya saat kejadian. (Naniek I. Taufan)

 

 

To Top