Sudut Pandang

Menepi untuk Istirahat

Roso Daras

Mudik Lebaran 2018 telah usai. Kini yang tersisa adalah arus balik yang juga hampir usai. Dikabarkan mudik tahun ini relatif berjalan lancar dari tahun sebelumnya.

Angka kecelakaan lalu lintas  tahun ini diprediksi menurun dibanding tahun sebelumnya. Data yang dirilis kepolisian terkait arus mudik-balik Lebaran tahun 2017  menyebutkan, mayoritas kecelakaan lalu lintas terjadi karena pengendara lelah dan mengantuk. Faktor tersebut (kelelahan dan mengantuk) bukan hanya mendominasi banyaknya peristiwa kecelakaan tahun lalu, tapi tahun-tahun sebelumnya pun demikian.

Karenanya saat memasuki masa mudik Lebaran tahun ini, berbagai pihak khususnya kepolisian mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tidak memaksakan diri tetap berjalan jika merasa lelah dan mengantuk. Salah satu kondisi yang ‘diwanti-wanti’ agar dihindari adalah microsleep.

Microsleep adalah suatu kedaaan dimana seseorang yang merasa lelah dan sangat mengantuk namun tetap memaksakan diri untuk beraktivtas.  Dalam beberapa detik atau maksimal 2 menit, yang bersangkutan akan kehilangan kesadaran seperti orang  tertidur, meskipun saat itu matanya terbuka.

Banyak orang pernah mengalaminya entah di rumah, di kantor atau berkendaraan. Jika terjadi saat sedang berkendaraan, ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan celaka. “Saya pernah mengalaminya,” ungkap Roso Daras, pemudik yang baru saja kembali dari Yogyakarta.

Menurut Roso, semua orang yang pernah berkendaraan jarak jauh pasti pernah mengalami microsleep. “Saya pernah mengalaminya dua kali. Ketika itu saya merasa  luar biasa ngantuk, tapi  merasa tanggung untuk berhenti, dan terus melanjutkan perjalanan. Akibatnya saya mengalami microsleep, untungnya tidak berakibat fatal,” ungkapnya.

Kejadian itu masih diingatnya jelas. Pertama, tutur Roso, tahun 1985 saat dirinya masih menjadi wartawan di Harian Jawa Pos, Surabaya. “Saya ingat waktu itu belum lama dapat fasilitas motor dari kantor. Karena senang punya motor baru, saat libur saya pulang ke Jogja naik motor baru itu,”  tuturnya.

Di daerah Madiun, sekitar pukul 16.00 rasa kantuk menyerang. “Awalnya bisa saya kendalikan. Tapi pada satu titik, terjadi microsleep. Saya tertidur dalam keadaan masih mengemudi sepeda motor. Ketika tersadar, posisi saya di sebelah kanan bahu jalan. Jadi tanpa sadar selama microsleep arah motor dari kiri ke tengah dan ke kanan,” tuturnya.

Beruntung, kondisi jalan pada masa  itu relatif  masih sepi. “Bayangkan jika  itu terjadi pada masa  sekarang. Saya kemungkinan besar sudah tabrakan dengan kendaraan dari arah yang berlawanan,” ucap penulis buku serial pemikiran Bung Karno: ‘Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!’

Kejadian kedua, sekitar 1989 di jalan Tol Jagorawi. Ketika itu, dirinya dan keluarga pulang dari acara pernikahan. “Waktu itu saya naik mobil.  Sekitar KM 6, ke arah Bogor, saya sangat ngantuk. Karena merasa nanggung untuk berhenti, saya paksakan terus mengemudi. Terjadilah microsleep dan ketika sadar mobil sudah turun ke kubangan berumput di sisi kiri jalan tol,” tuturnya. Beruntung, katanya, mobil tidak terbalik. Kejadian itu hampir tengah malam.

Dua pengalaman ‘mengerikan’ itu, cukup menjadi pelajaran berharga baginya untuk tidak memaksakan diri ketika kantuk menyerang. “Sejak itu saya sangat disiplin pada diri saya sendiri. Artinya, ketika datang kantuk yang tak bisa dikontrol, saya langsung putuskan berhenti,” katanya.

Dari beberapa referensi mengemudi yang dia baca, bahwa limit mengemudi seseorang maksimal 4 jam. Lebih dari 4 jam, daya konsentrasi akan menurun.

Karena kerap berkendaraan jarak jauh, Roso memiliki beberapa trik untuk menyiasati microsleep. Caranya, kalau kondisi di jalan yang tidak aman untuk berhenti, dia akan minum dan ngemil terus sampai ketemu tempat yang ideal untuk  istirahat. Cara kedua, kalau bisa berhenti sejenak, dia akan menepi dan membasuh kedua kaki dengan air minum. Setelah itu melakukan peregangan sejenak, dan jalan lagi mencari tempat ideal untuk istirahat.

“Cara ketiga, seandainya minuman dan makanan bekal sudah habis, dan rasa kantuk masih nenyerang, sementara tempat istirahat belum dapat,  jilat langit langit mulut. Julurkan lidah ke langit langit mulut kita. Gesek gesekkan ujung lidah di langit langit mulut, dijamin rasa kantuk akan hilang seketika,” ungkap Roso.

Namun, semua tips dan trik menghindari microsleep itu sifatnya sementara. Tidak permanen. Jadi, ketika sudah menemukan tempat peristirahatan, jangan ragu untuk menepi untuk beristirahat.

Microsleep sangat berbahaya, tidak ada yang bisa menghentikan. Ketika dia datang, meski kelopak mata diganjal batang korek api sekalipun, microsleep akan terjadi,” tutupnya. (Diana Runtu)

 

To Top